AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Bangun Terlambat


__ADS_3

Keesokan harinya. Sakti bangun terlambat akibat begadang semalam. Semula ia panik karena terlambat bangun tapi ia tersadar kalau hari ini hari Sabtu kantor libur. Rona lega terpancar diwajahnya tapi teringat ia tidak sholat shubuh muka masamnya kembali terbit. Bergegas ia berjalan melewati ruang tengah untuk mematikan lampu yang masih menyala. Ketika hendak menuju dapur Arvi membuka pintu keluar dari kamar sepertinya dia sudah mandi dengan baju kemarin yang dibelinya. Sengaja ia taruh dikamar agar Arvi memakainya. Terlihat pas dibadannya dan semakin cantik menawan melihat pemandangan dipagi hari di dalam rumahnya. Yah pemandangan yang tak pernah ia lihat selama ini. Dia tersenyum dengan wajah cantiknya walau sedikit masih pucat.


" Selamat pagi Pak!" Sapanya seperti hari-hari di kantor.


" Maaf tanpa ijin saya pake baju ini". Pintanya tersenyum nyengir dan Sakti mengangguk pelan.


"Memang baju itu untukmu syukur kalau kamu suka". Serunya memandanginya. "Makasih Pak, tahu aja ukuran saya" Celetuknya merunduk menghindar pandangan Pak Kabag yang terpesona akan kecantikannya. Kalau ada musiknya cucok dengan lagu Terpesona yang lagi buming 😀😀😀😀


"Ini berkah kah musibah" Suara lirihnya mengalihkan tatapannya ke dinding.


"Oh ya Pak kemarin ada yang antar kue katanya dari kakak. Dia bilang katanya Pak Kabag sudah tahu" Lanjut Arvi menyodorkan kue yang masih dimeja tidak berpindah dari kemarin. Sakti mencoba untuk setenang mungkin.


"Oh itu kakakku" Suaranya tanpa ekspresi nyelonong menuju dapur yang diikuti Arvi dari belakang.


"Pak Kabag mau apa? " Tanya Arvi masih mengekor.


" Rebus air mau bikin kopi". Sahut Sakti menuang air kran ke ketel.


" Saya sudah taruh di meja makan pak kopinya". Seru Arvi mengingatkan kalau dia sudah membuatknanya kopi. Seketika Sakti balik badan. Seketika badan Arvi hampir terjatuh kebelakang untungnya Sakti sigap meraihnya. Yah mereka saling berdekatan tidak ada jarak satu sama lain. Aroma tubuh Arvi yang wangi begitu menyerbak memenuhi ruang hatinya.


" Apa hidungku yang tersumbat bau wangi khas ceweq" Batinnya menatapnya penuh lekat pada Arvi. Rasanya ingin memiliki seutuhnya. Menyadari aksi Pak Kabag mencoba mendaratkan wajahnya ke bibirnya. Arvi bergegas melepaskan dekapannya dari Pak Kabag. Ia tak ingin lebih jauh lagi.


" Tinnnn......Tinnn.....Tinnnn..." Suara klakson motor dari teras depan mengingatkan Arvi kalau Mas Ojek langganannya udah datang. " Pak Kabag saya pamit pulang dulu" Suara Arvi meminta ijin berjalan meraih tas kerjanya yang sudah ia siapkan dari tadi. Sakti berdiri mematung menahan malu dan kaget. Dia tidak mampu menahan langkahnya lagi. Ia hanya mengangguk menahan nafasnya yang terasa sesak.

__ADS_1


Wangi tubuhnya perlahan hilang seiring kepergian Arvi. Arvi tersenyum dengan manis kepadanya.


" Makasih semuanya" Suara Arvi pelan melambaikan tangan dengan senyum khasnya. Sakti membalasnya dengan mengangguk setuju. Kalau diminta ia bisa mengantarnya pulang ke tempat kost, tapi Arvi masih terlihat sakit makanya ia menahannya dirumah biar istirahat. Arvi juga terlalu paksa diri ingin pulang dia tidak mau merepotkan atasannya. Apalagi kejadian barusan menambah sakit pikiran. Ia sudah kangen di rumah kostnya.


Tinggallah dirumah seorang diri hanya menatap dinding rumah. Tubuhnya lemas ada rasa kecewa yang tak tertahankan. Ini bukan masalah pekerjaan tapi ini soal perasaan hati tidak bisa dijabarkan. Segera ia sondorkan tubuhnya disofa. Terdengar suara motor berlalu menjauh dari rumahnya. Ia berharap Sabtu yang cerah ini akan berbeda, tetapi sama dengan hari-hari sebelumnya sepi melanda.


flasback


Pagi itu Arvi menghubungi tukang ojek langganannya untuk menjemput dirumah Sakti. Kala itu Sakti masih tertidur di kamar pribadinya. Bagaimana pun Arvi seorang gadis yang bukan mukrimnya pamali kalau harus serumah. Bahkan Arvi menyempatkan diri untuk mencuci pakean kotor mereka dan menjemurnya disamping rumah. Dia tidak ingin ada gosip yang beredar liar diluar sana. Rumah kost pun sudah empat hari tidak dihuni. Ia rindu dengan kamarnya. Ia juga sempat menghubungi Santi tapi di tempat kerjanya tidak ada jaringan alhasil tidak bisa ngobrol sekedar bertanya kabar.


flasback finis


Teringat resep obat yang belum ditebusnya semalam tapi perutnya udah kosong minta diisi dulu. Lalu ia bangkit menuju ruang makan meneguk kopi yang telah tersaji tak lupa dicomotnya kue marmer pemberian kakaknya yang telah Arvi potong dan hidangkan. Kue marmer memiliki warna tak beraturan tapi coklat kuning tapi banyak orang menyukainya. Terasa manis lembut dan enak dilidah tapi tak senikmat isi hatinya yang lagi galau tingkat dewa.


Dreet...dreeet....dreeet


Suara Hp di meja bergetar. Cepat-cepat diangkatnya.


" Assalamualaikum!" Sapa Kakaknya dari rumah.


" Waalaikum salam Bang. Aduh sorry kak kemarin saya.ada pergi sebentar , gak tahu kalau kakak datang". Sahutnya menjelaskan. " Ah tidak apa, saya lihat barang bagus jadi mampir kerumah". Ucap kakaknya menggoda.


" Barang bagus apanya?" Sakti mencoba pura-pura bertanya.

__ADS_1


" He ...He.....He....Stop kabualan !! "Kakaknya tertawa sampai batuk-batuk.


" Stop kabualan apa? Apa ini saya gak tahu" Sakti menyaut masih pura-pura tak tahu dengan yang dimaksud .


" Barang bagus jadi simpan tara ada kasih tahu" Suara kakak iparnya ikut menimpali dari belakang. Sakti tersenyum saja mendengarnya.


" Barang bagus apae ?". Sakti tertawa.


"Yo kamu ada simpan perempuan dirumah Tara kasih tahu di torang? Kenapa main sembunyi-sembunyi ada apakah?" Cerocos kakak iparnya serius.


" Perempuan mana ?". Suara Sakti pelan sembari menebar senyum bercanda.


" Yeee perempuan yang kemarin dirumah itu. Pake bilang pembantu segala. Kenapa malu-malu" Suara iparnya mengambil alih Hp dari suaminya. " Kakak tunggu dulu dengar dulu penjelasan saya, dia bukan pembantu. Dia anak buah Pak Ketua yang kebetulan ada kerumah hari itu". Jelas Sakti. "Tidak...Tidak...Tidak... Saya tara yakin kamu bohong di kakak toh?". Ucap Iparnya tidak yakin dengan penjelasannya. " Sungguh kakak Ipar". Sakti berusaha meyakinkan.


" Kalau hanya main kenapa dia pake bajumu baru tidak ada orang lagi dirumah selain itu perempuan?". Desaknya lagi. " Oh itu...?? Kakak ceritanya panjang tidak habis kalau kita bahas lewat Hp. Kalau ada waktu lusa saya kerumah sudah". Sakti mencoba untuk menyudahi intrograsinya.


" Iyo sudah Kapan-kapan kamu bawa dia kerumah e.."Ucap kakak iparnya senang.


" Kalau itu saya tidak bisa pastikan dan tidak bisa janji itu anaknya orang. Oh ya kakak ipar terima kasih e kiriman kuenya enak" Sahut Sakti tertawa "Sungguh mati se...Iyo sudah hati-hati e... Assalamualaikum. "Suara iparnya menyudahi percakapan mereka.


" Waalaikum salam " Sakti menyaut salamnya.


Sakti tersenyum menyudahi percakapannya ditelpon. Dia sangat akrab dengan kakak iparnya. Walau jarang bertemu karena punya kesibukan masing-masing tapi Iparnya sangat perhatian. Karena hanya dia yang belum menikah. Berapa kali mereka mencoba untuk mencarikan jodoh untuknya tapi tidak ada respon atau tanggapan dari Sakti. Ketika melihat Arvi dirumah mereka berharap itu jodoh buat Sakti. Tapi semua kembali pada Sakti, dia yang jalani. Usianya sudah cukup matang untuk berumah tangga. Keluarga dibikin pusing karena Sakti tak mau dijodohkan ia ingin menikah atas kemauannya sendiri bukan main jodoh-jodohan. Eranya sudah beda ga kayak zaman dulu.

__ADS_1


__ADS_2