
Sejak itu keduanya tidur seranjang. Dokter Richat tak pernah meminta haknya sebagi seorang suami. Begitu juga Arvi tidak pernah meminta haknya sebagai seorang istri. Jika nafkah lahir dokter Richat sangat bertanggung jawab. Ia memberikan pada Arvi tapi tidak nafkah batin. Mungkin dokter Richat merasa malu. Walau mereka telah satu ranjang. Dokter Richat sangat menghormati istrinya.
Arvi seolah mati rasa. Ia tak pernah mengeluh. Keduanya saling membentengi diri masing-masing. Jauh di lubuk hatinya ia berharap Sakti akan kembali menemuinya. Ia mampu bertemu pada ayahnya. Jika Sakti lelaki yang bertanggung jawab bukan seperti pemikiran ayahnya.
Tiada terasa usia kandungannya memasuki bulan sembilan. Tinggal menunggu hari lahirnya. Dokter Richat pun masih sibuk dengan rutinitas perkuliahan yang menyita waktu dan pikiran. Hal inilah yang ia takutkan ia tidak dapat menemani Arvi sewaktu lahiran. Sebab ia ingin lahir normal.
Ia menolak lahiran secara Cesar padahal suaminya seorang dokter. Ia takut dengan jarum suntik. Selain itu Arvi tak ingin terlalu merepotkan suaminya. Walau ada asisten dirumahnya yang setia dua puluh empat jam siaga. Tapi Arvi ingin menjadi ibu seutuhnya. Keinginannya untuk melahirkan normal justru didukung dokter Richat. Ia tidak keberatan dengan pilihan sang istri. Ada rasa kekawatiran tapi ia yakin dan percaya Arvi mampu melahirkan secara normal.
Sudah ada dua hari nafsu makan Arvi menurun drastis. Ia terlihat murung. Selesai aktivitas jalan paginya. Ia tampak murung menatap langit. Tumben ini hari tidak hujan cuaca begitu cerah. Sehingga ia bisa jalan santai disekitar rumah.
Dari dapur dokter Richat memperhatikan istrinya yang terlihat murung. Tampak terlihat lesu dan tak bersemangat.
"Tuan muda sudah dua hari ini mbak Arvi malas makan" Keluh bibik yang mengagetkannya.
"Oh ya? Iya bik akhir-akhir ini aq sibuk banyak kegiatan di kampus sampai pulang malam ga ada waktu memperhatikannya makan. Maaf ya bik!" Sahut dokter Richat terlihat kawatir.
"Coba kalau tuan muda yang bujuk mungkin dia mau makan" Pinta Bibik penuh santun.
"Iya bik semoga dia mau mendengarnya" Sahutnya terlihat tenang agar bibik tidak kawatir.
Akhirnya dokter Richat menghampiri Arvi sebelum pergi kampus. Ia ingin memastikan jika istrinya dalam keadaan baik dan sehat.
Melihat dokter Richat menghampirinya Arvi tersenyum menyambut.
"Loh mas koq belum siap?"Tanyanya sembari tersenyum memperlihatkan giginya yang putih rapi.
"Sedikit lagi"
"Mas mau sarapan? Aq temani!" Pintanya penuh perhatian.
"Boleh juga. Semalam mas pulang kamu tidur pulas sekali. Gimana dedek masih aktif gerak?"Serunya mengelus perutnya yang membuncit. Perlahan tendangan kecil memberi respon membuat dokter Richat tertawa bahagia.
__ADS_1
"Deddy gak sabar ingin melihatmu di dunia ini?" Ucapnya masih mengelus lembut perut istrinya yang tertutup daster batik.
"Mommy mu mulai malas makan dia manja sepertimu minta disayang! Tapi dia malu" Sindir dokter Richat tiba-tiba. Menyadari hal itu Arvi setengah malu tertunduk.
"Pasti bibik yang kasih info" Seru Arvi masih tertunduk sambil tersenyum merasa bodoh.
"Maaf jika akhir-akhir ini aq sibuk"
"Untuk apa minta maaf mas gak salah! Aq lagi gak mood makan"
"Tapi kamu harus makan demi dia" Sahutnya masih mengelus perutnya.
"Kau bukan ayahnya tidak perlu peduli pada kami! Ayahnya aja gak tahu ada dimana? apa dia masih hidup atau mati? Kamu hanya teman kenapa harus kamu yang bertanggung jawab menjaga kami" Suara Arvi penuh nada emosi.
"Arvi hentikan! Aq ini suamimu" Seru dokter Richat untuk menghentikan ocehannya. Ia melihat Arvi menangis.
"Kamu memang suamiku tapi bukan ayah dari anakku. Seharusnya kau pergi tidak perlu menolongku. Aq ingin mati saja ikut Sakti"
"Hiks"
"Hiks"
"Hiks"
Dokter Richat mengerti jika istrinya sangat tertekan menghadapi proses persalinan yang tinggal menghitung hari. Ia tahu jika sampai saat ini kehadirannya tidak diharap. Arvi masih berharap Sakti akan kembali. Tapi ia terlanjur sayang.
"Makin rumit jalan hidupku! Aq hanya ingin melindungi keduanya" ucapnya dalam hati.
Dokter Richat melonggarkan pelukannya. Dengan penuh lembut ia mengusap air mata yang membanjiri wajah istrinya. Arvi yang masiih terisak-isak.
Richat menatap lekat bola mata Arvi yang masih mengembung.
__ADS_1
"Ayo kita sarapan! Kasihan bibik sudah capek masak buatin kita atau kamu mau dipesankan makanan?" Bujuknya mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.
Arvi menggeleng kepala pelan. Dokter Richat bangkit dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya dan Arvi meraihnya. Akhirnya keduanya jalan beriringan menuju kedalam rumah.
Di meja makan Pak Hartono telah menyambutnya.
"Kalian lama sekali sampe ayah lapar sekali!" Keluh Pak Hartono setengah curiga.
"Maaf ayah kami asyik cerita sampe lupa"Ucap dokter Richat berbohong. Arvi menatap suaminya yang begitu tenang bicara dengan mertuanya.
"Cerita apa sih koq asyik sekali?" Tanya pak Hartono kepo juga.
"Soal kegiatan di kampus ayah!" Jelas dokter Richat masih berbohong.
"Jangan bilang kamu mau kuliah lagi arvi?" Seru Pak Hartono masih mengunyah roti tawar yang dicampur selai strewberry.
"Untuk saat ini tidak ayah aq mau fokus kelahiran bayi ini" Jelas Arvi menatap suaminya.
"Ayah berdoa semoga kelahiran bayi ini mudah dan lancar. Sudah gak sabar ingin menimangnya. Cucu ayah jagoan!" Ucap Pak Hartono begitu bangga dengan cucunya yang akan segera lahir.
"Amin ayah itu doanya" Sahut keduanya terdengar kompak padahal mereka tidak janjian.
"Kakakmu Dinda dan Ayu mereka akan membuka bisnis di kota Bandung dalam waktu dekat ini. Kemungkinan mereka tidak bisa meluangkan waktu untuk menemanimu" Jelas Pak Hartono.
"Ga pa-pa Yah! Mereka kan pembisnis. Justru aq seneng jika mereka dapat meneruskan bisnis ayah" Jawab Arvi tanpa beban.
"Jika kamu ingin mulai merintis bisnis seperti kedua kakak-kakakmu. Kamu tenang saja nanti ayah kasih modal"
"Untuk sementara ini biar Arvi fokus dengan kelahirannya ayah. Soal usaha biar Arvi yang memilih"Sela dokter Richat tak ingin istrinya banyak berpikir untuk sementara waktu. Arvi terlihat senang melihat sikap suaminya yang begitu tulus terhadapnya. Ia tak ingin membuatnya banyak beban pikiran. Apalagi urusan bisnis butuh ekstra.
"Baiklah kalau begitu. Kelahiran cucuku sangat penting "Ucap Pak Hartono setuju dengan pernyataan anak mantunya.
__ADS_1
Usai sarapan dokter Richat merapikan diri siap-siap pergi ke tempat tujuannya untuk menimba ilmu.