AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Makan Mie Instan


__ADS_3

Akhirnya mereka berdua makan mie instan rasa soto kesukaan orang Indonesia. Baru pertama Kali makan semangkuk berdua. Semula Arvi agak canggung tapi sikap Pak Kabag yang malas tahu membuat keduanya semakin tahu satu sama lain. Mereka begitu menikmatinya dengan lahap.


Selesai makan Arvi mengemasi meja makan dan mencucinya didapur. Tak lupa Arvi menyapu membersihkan rumah Pak Kabag tersenyum melihatnya. "Rupanya dia rajin juga"Batin Sakti. Tak ingin melihat istrinya kerja sendiri Sakti bergegas mengepel rumah. Arvi pun tersenyum melihatnya.


Keduanya lalu duduk diteras belakang. Matahari sore masih begitu terang memancarkan sinarnya. Kedua pengantin baru terlihat bahagia bercengkrama.


"Dreet... Dreeet...Dreeet....


Panggilan masuk dari seseorang Semula Sakti tidak menghiraukannya baginya mengganggu quality time nya.


"Iya Hallo Met sore gimana ada yang bisa dikondisikan" Sambut Sakti. Arvi terdiam tak bergerak takut didengar dari orang yang menghubungi Sakti.


"Oh ibu Hanna gimana nih kabar" Tanya Sakti menanyainya karena sudah tiga bulan beliau ada ikut Pelatihan ke Makasar jadi tidak masuk kantor.


"Ada dirumahkah?" Tanya Bu Hanna.


"Iya Saya ada dirumah Bu".


"Koq panggil ibu Saya masih bujang Pak"


"Sorry-sorry...Iya gimana ada perlukah?".


"Ada sedikit waktu gak? Bisa ketemu"


Arvi hanya diam takut kedengaran dari sebrang. Arvi terlihat tidak nyaman disamping Sakti takut ganggu. Lalu ia putuskan untuk masuk kedalam. Ketika hendak melangkah tangan Sakti menahannya untuk tidak keamana-mana. Arvi pun kembali duduk disampingnya.


"Aduh sore ini saya mau keluar gimana ada yang bisa saya banting..." Ucap Sakti dengan memegang erat tangan istrinya.


"Ahhh....Pak Kabag bisa aja bercandanya. ini mau antar sesuatu kerumah" Jelas Bu Hanna seorang PNS di bagian Keuangan sebagai bendahara.

__ADS_1


"Ohh... Tidak usah repot-repot Bu Hanna kan kita bisa ketemu di Kantor besok" Kilahnya menolak. Ia tak ingin diganggu siapapun.


"Ini spesial khusus buat Pak Kabag harus diantar sekarang". Pintanya menjenjelaskan.


"Oh iyakah? kalau tidak merepotkan saya tunggu sekarang sebab saya juga mau keluar" Sakti memberikan syarat kalau akan keluar.


"Oh sip Pak Kabag saya sudah mau nyampe rumah koq" Jelasnya senang.


"Okey....saya tunggu dirumah. Assalamualaikum" Sakti menutup Hp.


"Mau kemana sih?Disini kenapa?" Lanjut Sakti tidak melepas tangan istrinya.


"Takut ganggu..."


"Ganggu apa jangan cemburu gitu itu bendahara dikantor mungkin ada perlu makanya kerumah" Jelasnya.


"Sembunyi kenapa? Kan dia bukan hantu"


"Enggak ah... Ntar di kantor heboh jadi bahan gosip".


"Kan kita suami istri Sayang?"


Arvi pasang mata melotot garang tapi tetap cute membuat Sakti tersenyum senang dan bangga memiliki istri cantik sepertinya.


"Tapi gak perlu sembunyi juga dek! Bilang saja saudara jauh atau adek. Adek ketemu Gedhe.."Sakti menggoda istrinya yang dibalas dengan cubitan sayang sang istri di lengannya.


Tidak berapa lama sebuah mobil Fortuner putih memasuki pekarangan rumahnya. Bisa ditebak kalau mobil itu punya sang empunya Bu Hanna wanita single dengan berparas cantik mengenakan kaca mata berbingkai menenteng hand bag. Tidak berapa lama ia keluar dengan menenteng sebuah handbag putih dengan celana panjang sepatu tali hitam. ia juga menenteng sebuah paper bag coklat. Entah apa isinya. Ia nampak elegen sekali. Mirip sosialita yang biasa kita tonton di tv. Siapa saja akan tertarik melihat ayu parasnya dengan gaya hidup yang tergolong mewah untuk seorang PNS Daerah sepertinya. Dengan gaya hight class nya banyak kaum Adam yang enggan mendekatinya. Kalau toh ada pasti lelaki beruang. Kalau lelaki miskin paling hanya ingin numpang hidup mana bisa mereka memenuhi gaya hidupnya yang bar bar. Untuk wanita seperti Ibu Hanna dengan gaya hidupnya yang nyentrik tergolong mewah untuk hidup di kota kecil ini.


flasback dulu ya

__ADS_1


Usianya sekitar tiga puluh tiga tahun. Sudah lama sekali ia ada hati dengan Pak Kabag tapi tidak digubrisnya. Sakti terkesan cuek dan menghindarinya. Bahkan di Kantor keduanya sering dijodoh-jodohkan tapi Sakti hanya tersenyum diam. Dia PNS diKantor yang ambisius. Banyak rumor yang beredar jika jabatan yang diembannya atas kedekatannya dengan seorang anggota DPRD dan salah satu pejabat di pemerintahan kabupaten yang punya pengaruh di Kota ini. Tidak tahu kenapa Bu Hanna terus mengejarnya meski telah menghindar dan tidak menggubrisnya. Selama tiga bulan Arvi bekerja mereka belum pernah ketemu sebab dia ada ikut Diklat Pelatihan kerja di Makasar. Sudah tiga bulan tidak ketemu Pak Kabag makanya ia paksa diri dengan segala cara harus menemuinya.


Flasback finis


Sakti mempersilahkan masuk tamu sosialitanya. Dengan langkah bak seorang model ia melangkah gemulai memasuki rumah Pak Kabag yang lumayan rapu.


"Ibu Hanna kapan tiba?"Sambut Sakti


"Kemarin Pak hari Sabtu. Oh ya Pak ini ada sesuatu khusus buat Pak Kabag" Suara lembutnya menimpali sambutan si tian rumah.


"Aduh repot-repot Bu Hanna antar kesini di Kantorkan besok bisa. Tapi terima kasih loh buah tangannya" Sambung Sakti menerima paper bag coklat itu dan menaruhnya saja dimeja tanpa membukanya.


"Pak koq ga di buka saya ingin lihat pas tidak ukurannya" Pinta Bu Hanna.


Lalu Sakti mulai meraih paper bag itu dan membukanya. Rupanya ada dua buah benda. Kemeja dan sebuah jam tangan. Melihat pembungkusnya jam ini terhitung mewah. Bagi PNS sepertinya kalau mau beli butuh kerja tiga sampai lima tahun menabung untuk benda mewah seperti itu.


"Wah Bu Hanna tidak salah kasih?" Sakti mempertanyakannya lagi hadiah tersebut.


Bu Hanna tersenyum menggoda ke arahnya.


"Buat orang terkasih koq hitung-hitungan Pak" Sahutnya menimpali.


"Maaf Bu Hanna ini terlalu mahal buat saya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya menolak pemberian Bu hanna" Sakti menyodorkan kembali.


" Pak Kabag ini hanya oleh-oleh kecil dari Makasar koq" Bujuknya berhati-hati mencoba unt mendapatkan perhatian dari lelaki berambut putih incarannya selama ini.


"Bu Hanna maaf saya tidak bisa menerimanya" Lanjutnya


"Pokoknya Pak Kabag harus memakainya" Desak Bu Hanna memaksanya. Ia tak ingin sia-sia usahanya.

__ADS_1


__ADS_2