AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Menggantikan Tugas Sakti


__ADS_3

Sang bunda tak menyangka jika kata-kata yang dibuang suami untuk Arvi begitu membekas dihati anak bungsunya. Jika membahas tentang Arvi maka sang suami hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. Sang Ayah ingin Arvi meneruskan bisnisnya.


Teringat kejadian itu dimana sang ayah mengusir Arvi. Selesai mengenyam pendidikannya S1 ia memutuskan untuk merantau ke Tanah Papua. Sang ayah tidak menyetujui keputusan Arvi. Sebab alasan itu keduanya tidak baku bicara.


Pak Hartono orang yang berkecukupan. Dia seorang pengusaha yang lumayan sukses. Dia tidak menyangka si bungsu lebih memilih merantau ke Papua dari pada ikut mengurus usahanya. Padahal kedua kakaknya sibuk berbisnis mengikuti jejak sang ayah. Gimana sikap Pak Hartono jika tahu Arvi sudah menikah tanpa meminta izin pada sang ayah. Perang dunia ke tiga bisa meledak. Bisa-bisa leher Sakti diremasnya seperti krupuk.


Siang itu dirumah Sakti.


Mas Iwan mengantar menu makanan untuk Bumil. Arvi sudah dikasih tahu sebelum suami berangkat.


Makanan yang dipesannya sesuai dengan bumil mau. Susahnya tinggal di kota kecil ini ada beberapa menu makanan yang tidak dijual seperti ditempat asalnya. Kalau mau makan harus bikin sendiri.


Jangankan bikin sendiri. Mencium bau tumisan bawang goreng atau nasi masak saja pusing tinggal muntah-muntah. Apalagi kalau masak sendiri bisa langsung pingsan.


Melihat kondisi sang istri seperti itu makanya Sakti meminta Iwan untuk membelikan makanan siap jadi. Iwan juga dibikin pusing. Tapi baginya tak masalah sebab Sakti pun memberinya lebih.


"Mbak Arvi bilang saja mau apa nanti pasti saya carikan?" Tawar OB Iwan tersenyum.


"Mas yakin bisa penuhi"


"Bisa soal kecil itu"


"Yakin mas?"


"Seratus persen yakin mbak. Demi Allah"


"Jangan bawa nama Tuhan dong"


"Pasti saya akan carikan"


"Saya pingin makan Lumpia yang ada diSemarang mas" Jelas Arvi.


OB Iwan garuk-garuk kepala bingung mau cari kemana itu barang.


"Wah kalau itu menyerah aq mbak"


"Bercanda mas Iwan. Kapan-kapan aja kalau balik"


"Sampeyan asli geh tiang semarang?"


(Kamu asli ya orang Semarang)


"Iya mas"


Arvi masih nampak loyo diruang tamu.


"Mas Sakti baik mbak Arvi beruntung punya suami sepertinya"

__ADS_1


"Mas Iwan ini promo terus kalau soal Mas Sakti"


"Dari pertama ketemu mbak Arvi saya ada curiga tumben-tumbennya ada ceweq cari Pak Kabag gak disangka jadi istrinya sekarang. Pak Sakti pendiam diganggu Putri Keuangan juga gak ada respon. Hati-hati mbak dengan serangan Putri Keuangan!Kami kira dia jeruk makan jeruk rupanya seleranya pucuk" Gerutu Iwan mengingatkan Arvi.


"Mas Iwan ada-ada saja"


"Serius mbak jangan sekali-kali bermasalah dengan Putri Keuangan bisa potong leher" Mas Iwan tidak menyebut nama Bu Hanna melainkan pake istilah Putri Keuangan.


"Potong gaji aja jangan potong leher bisa mati" Sela Arvi.


"Kalau mas nyampe dipecat nanti saya bantu Carikan kerja tapi di Semarang"


"Sudah koq mbak kemarin gajiku yang tiga bulan ditahan baru di bayar setelah Pak Sakti bantu turun tangan. Dia hanya tunduk dengan Mas Sakti"


"Sebegitu besarnya Bu Hanna mencintai mas Sakti? Aq yang merebutnya dari Bu Hanna. Lalu gimana nasibku serta bayiku ini?" Batin Arvi terdiam mematung.


Menyadari Isti Pak Kabag melamun. OB Iwan gak kehabisan akal untuk menghibur bumil yang lagi jauh dari sang suami.


"Paling Mas Sakti gak lama koq ke Manokwari? Sementara kangennya ditunda dulu" Goda Iwan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Bisa aja mas Iwan mengalihkan topik"


"Iya siapa dulu Iwan" Sahutnya menepuk dadanya membuat Arvi tertawa.


"Mas yakin jika Bu Hanna akan berhenti mengejar Mas Sakti?"


"Saya yang salah mas. Tidak seharusnya saya hadir diantara mereka"


"Mbak itu jalan Tuhan kalau memang mas Sakti cinta sudah dari dulu mereka menikah tapi nyatanya juga tidak. Mbak Arvi tidak salah" Bela Iwan merasa sedih.


"Perlukah aq meminta maaf padanya?"


"Entahlah mbak tergantung dari sampeyan"


"Aq rela meminta maaf jika itu diperlukan tapi apa itu akan menyelesaikan masalah dengan Sakti? Sebab ibu ini otoriter"


"Itu lagi Mbak"


"Mbak Arvi sabar... Sabar...Sabar"


Arvi tersenyum dengan ucapan Mas Iwan yang memintanya untuk terus bersabar.


"Kalau dipikir-pikir betul juga saran mas Iwan harus banyak bersabar. Mungkin ini salah satu pembelajaran untukku dalam mengarungi rumah tangga harus tahan banting tahan perasaan" Gumamnya sendiri.


"Oh ya mbak kalau mau apa-apa telpon saja tidak usah sungkan. Mas Sakti juga banyak membantu kami"


"Iya mas makasih"

__ADS_1


"Mbak saya permisi dulu. Assalammualaikum"


"Waalaikum Salam mas" Sahut Arvi memberi salam.


Mas Iwan pun bergegas balik ke Kantor. Keberadaannya sangat dibutuhkan di kantor. Walau hanya OB keberadaannya sangat dibutuhkan. Karena loyalnya di Kantor ia sering dapat uang tips dari beberapa staf ASN dan Anggota Dewan.


Setelah kepulangan OB Iwan segera Arvi menyantap makanan yang dibawanya. Tapi


ia tidak mampu menghabiskannya sebab ia takut muntah. Arvi hanya memakan beberapa suap saja. Setelah itu ia kembali istirahat.


menjelang malam Sengaja Arvi tidak meminta Mas Iwan untuk mengantarkan makan malam. Sebab masih ada makanan sisa siang tadi.


Arvi menjalankan ibadah sholat Magrib dengan khusuknya. Tak lupa ia berdoa dan memohon ampun pada sang khalik atas segala kesalahan dan dosa baik disengaja atau tidak disengaja. Tak lupa ia berdoa untuk kedua orang tuanya. Sejengkel apapun dia tetap ingat sang ayah dan ibu. Orang yang penuh kasih sayang mendidik dan membesarkannya.


Selesai berdoa ia berkemas. Lalu merebahkan badan yang terasa letih dikasur. Tidak terasa ia tertidur dengan pulasnya di kasur.


Di Hotel tempat kegiatan.


Sakti menikmati makan malamnya bersama panitia dan rekan kerjanya. Rasa capek dan kantuk tak tertahankan membuatnya tak begitu menikmati rasa masakan yang disediakan pihak hotel. Sehingga ia meminta izin untuk kembali ke kamar duluan.


Sakti bergegas masuk ke kamarnya. Ia lalu masuk ke toilet membersihkan diri. Begitu selesai mandi badan terasa ringan dan bersih. Setelah mengganti baju ia berbaring di atas tempat tidur.


Segera ia meraih ponselnya. Sedari pagi ia belum sempat menghubungi sang istri.


Panggilan pertama tidak terjawab. Sakti pikir sang istri sudah tertidur pulas. Akhirnya Sakti menghubungi Mas Iwan.


"Hallo . Assalammualaikum Met malam mas Iwan"


"Malam Pak Kabag. Bagaimana mas ada petunjuk?"


"Iya ini mas ngerepotin sedikit"


"Kenapa mas mu pesan apa?"


"Tidak saya cuma mau tahu keadaan Arvi"


"Oh dia baik-baik saja mas. Dia gak pesan apa-apa itu mas"


"Tapi dia tidak sakit toh?"


"Tidak mas dia sehat. Memang tadi mas gak menghubunginya"


"Aktif tapi gak diangkat. Mungkin dia tidur mas"


"Dia gak cerita apa-apa?


"Tidak itu mas"

__ADS_1


__ADS_2