AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Rumah Sakit


__ADS_3

Tanpa pikir panjang Sakti membawanya kerumah sakit karena udah berapa kali ia pingsan. Dia takut terjadi sesuatu pada Arvi. Sakti melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tapi harus ekstra hati-hati membawa mobil atau motor di Papua karena banyak anjing atau babi milik masyarakat yang berkeliaran dijalan karena tidak dikandangkan sehingga mengganggu pengguna jalan lain. Bahkan untuk diwilayah Papua penyebab lakalantas dikarenakan hewan peliharaan masyarakat yang sudah banyak memakan korban jiwa. Pemerintah Daerah sudah mencoba untuk menjembatani persoalan ini tapi belum menyentuh ke akar rumput. Kejadian tersebut masih sering terjadi bahkan terkadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab guna mencari keuntungan semata. Kesadaran masyarakat masih sangat rendah bahkan terkesan mengabaikannya. Bahkan Perda yang telah dibuat oleh Pemda terlihat jalan ditempat karena tidak ada sanksi yang tegas bagi pelanggar. Sehingga Hal inilah yang sering menimbulkan masalah sosial Karena yang berlaku Hukum Adat.


Sampailah diruang UGD rumah sakit, Sakti menggedongnya ke dalam ruang UGD. " Selamat malam dokter tolong dia dok!" Suaranya meminta didahulukan dengan wajah harap cemas. Dokter dan perawat jaga bergegas menghampiri dan mencoba melakukan pemeriksaan dengan memegangi dahi dan denyut nadi Arvi " Pasien kenapa ini?" Tanya dokter memeriksanya dengan stetoskop. " Dia barusan pingsan dok" Sahut Sakti memberi penjelasan. " Habis jatuh?" Tanyanya lagi. " Tidak dok Pingsan tiba-tiba " Jelasnya dengan nada cemas. " Ini istri bapak?" Tanya dokter yang selesai memeriksanya. Sakti mengiyakan saja tak mau mempersulit keadaan dan menimbulkan banyak pertanyaan dari dokter atau Tenaga medis lainnya.


Hampir setengah jam dengan setianya duduk menunggunya. akhirnya Arvi siuman. Wajahnya pucat tubuhnya terasa lemas. Menurut keterangan dokter jaga di UGD Arvi terlalu capek kurang istirahat dan lambat makan sehingga keseimbangan tubuhnya menurun dan pingsan akibatnya. Karena tidak parah cukup istirahat dirumah tidak perlu rawat inap Jelas dokter panjang lebar. Lalu dokter memberinya selembar resep obat yang harus diambil diluar RS. lalu Sakti membawanya pulang. Karena hari telah larut Sakti putuskan besok saja belinya obat. Arvi hanya terdiam dan menggerutu dalam hati Ketika dokter menyebutnya Nyonya Sakti lebih dari tiga kali didengarnya. Rasanya dia ingin mengamuk tak terima panggilan itu.

__ADS_1


Mobil pun meluncur ke arah kota. Sepanjang jalan Arvi menatap ke arah jendela mobil. Ia tidak mau melihat ataupun menatapnya. Rasa jengkelnya belum hilang. Berapa kali Sakti menoleh kearah Arvi tapi tidak ada tanggapan. Sakti lebih fokus ke arah jalan. Sewaktu melewati tikungan Sakti tidak membelokkan mobil ketempat kostnya meluncur ke arah rumah. Sontak Arvi menoleh dengan mata sedikit melotot padanya. Sakti tersenyum geli kalau Arvi lagi ngambek ga mau bicara sepanjang jalan.


Tibalah mereka dirumah. Sakti menghentikan laju mobil dan bersiap-siap keluar membuka pintu mobil. " Saya ingin pulang ditempat kostku saja Pak" Suaranya memecahkan keheningan dini hari. " Tapi tidak sekarang ". Sahut Sakti menoleh menghela nafas panjang" Apa bedanya sekarang atau besok? Hanya soal waktu saja" Suara Arvi tanpa menolehnya pandangannya fokus kedepan kaca. Tak disangka tak diduga Sakti meluncurkan aksi gilanya. Sakti meraih wajahnya lalu mencium dan ******* bibirnya tanpa dikomando. Nafasnya memburu liar malam ini ak seperti biasanya. Tidak ada kata-kata yang keluar dibibirnya. Yang ada ciuman mesra nan ganasmeluncur ke bibir Arvi tanpa henti. Ciuman itu terasa hangat saat bibir mereka menyatu. Arvi pun membalas ciuman hangat Pak Kabag. Ini bukanlah ciuman pertama baginya ciuman yang sudah berapa puluh tahun tidak dilakukannya. Ciuman apa ini namanya Arvi pun membalasnya. Mereka begitu menikmatinya. Mungkin tak ingin terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman Sakti sadar menyudahi aksinya. Perlahan dan pasti Sakti menyudahinya walau hati kecilnya masih menginginkannya lagi. Arvi hanya terdiam menatap saat Sakti menyudahinya. Bibirnya terasa kaku dan bengkak Ia tidak mampu menghindari serangan Sakti yang mendadak itu. Arvi merasa sedang bermimpi dengan kejadian tadi. " Apa aq sedang bermimpi? Kami saling berciuman? Ciuman apa ini ". Tanyanya lirih dalam hati seakan ini hanya mimpi. Ciuman hangat itu masih membekas dibibirnya. Lamunannya pudar seketika Pak Kabag dari pintu samping membukakan pintu mobil untuknya. Tanpa diminta Sakti menggendongnya mula ia menolak ingin jalan saja tapi Sakti membawanya masuk ke dalam rumah. Selama digendong Arvi tidak berani menatapnya. Ia membuang muka hatinya masih berperang dengan dirinya.


sebagai laki-laki normal ia tertarik pada Arvi gadis muda yang memiliki paras cantik idaman semua kaum Adam. Pantaskah pria yang sudah berumur sepertinya mencoba mendekatinya. Apa kata dunia 🤭🤭🤭Tentu ia akan kalah saingan dengan yang muda-muda. Kan tidak mungkin Arvi yang cantik dan masih muda tidak punya teman kekasih hati. "Mustahil rasanya." Pikir Sakti yang ngelantur kemana-mana. Belum apa-apa dia sudah takut dengan bayang-bayang itu.

__ADS_1


Butuh keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya tapi ia tidak yakin dengan perasaannya. Atau hanya perasaannya sendiri menyakitkan kalau berepuk sebelah tangan. Ia tak ingin terluka seperti dulu Diusianya yang tak muda lagi yah kurang dua bulan lagi sudah 38 tahun. Sudah capek dan lelah dengar pertanyaan itu "Kapan kawin?" Selalu itu yang ditanyakan.


Masih segar dalam ingatannya. Begitu nekat menciumnya tanpa ada permisi. Arvi pun membalas ciumannya, kalau memang ia tidak menyukainya pasti Arvi menolaknya dengan menampar atau mendorongnya. Tapi ini membalas ciuman hangatnya. Atau hanya sekedar sesaat saja. Justru ia bingung mengartikan ciuman itu. Sakti terlelap dalam rasa bimbangnya. Secepat itukah rasa itu datang menghampirinya. Rasa yang telah mati mulai hidup dan tumbuh kembali. Akankah tetap tumbuh atau kembali tandus dan gersang?. Kapan rasa itu tumbuh tak ada yang menyadarinya. Mungkin Tuhan mengirimkan gadis itu lewat Arie.


Disisi lain Arvi masih tak menyangka jika ia akan berciuman dengan Pak Kabag atasan dikantornya. Kejadian yang tak perlu terjadi seharusnya." Mau ditaruh dimana mukaku!" Lirihnya mengingat kejadian tadi. Ia tersenyum malu mengingatnya. Tiba-tiba pikirannya tertuju ke arah keluarganya anak istrinya bisa-bisa jadi pelakor ini " Gumamnya membikin

__ADS_1


__ADS_2