AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Emosi Bu Hanna Meledak


__ADS_3

Rumor kedekatan kedua mulai terendus banyak pihak. Sebab keduanya sering terlihat bersama. Berangkat dan pulang kerja selalu bersama. Namun tidak ada yang berani bertanya soal status mereka.


Mendengar rumor tersebut Bu Hanna tidak tinggal diam Ia berencana mengecek kebenaran berita tersebut. Sebab sudah lama ia menunggu kepastian dari Sakti. Rekan kerjanya yang terpaut lima tahun darinya merupakan pria idamannya selama ini. Sakti tak pernah menanggapinya serius. Ia tetap dingin terhadapnya.


Seperti biasa Sakti asyik mengerjakan tugas kantornya. Bu Hanna masuk ke ruangan. Sakti tersenyum menyambutnya. Perhatian leptop ia fokuskan pada Putri Keuangan yang ada dihadapannya.


"Bu Hanna ada yang bisa saya bantu? Tumben ke ruangan di jam kerja"


"Ada hal penting saya mau tanyakan sama Mas Sakti"


"Soal apa ya Bu bikin saya penasaran"


"Soal kerjaan Mas"


"Kerjaan apa e?"


"Saya dihubungi Pihak Ke tiga katanya Pak Kabag tidak mau tanda tangan"


"Oh soal itu" Sakti kembali ke layar Leptop kerjanya.


"Mas jangan persulit diri kalau mau aman"


"Saya bukan orang yang cari aman. Saya kerja sesuai proesional"


"Pak Kabag!!!"


"Saya paling tidak suka di tekan"


"Sebanding dengan imbalannya mas"

__ADS_1


"Maaf saya tidak bisa "


"Jangan sok suci mas. Mas kira orang kantor tidak tahu kalau kalian kumpul kebo selama ini"


"Itu urusan pribadi jangan sangkut pautkan dengan urusan kantor"


"Wanita itu sudah mencuci otakmu mas"


"Saya tidak suka urusan rumah tanggaku dibawa-bawa. Kami sudah menikah tolong tarik kata-kamu. Perlu kamu tahu caramu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan itu yang paling tidak kusukai" Jelas Sakti dengan tegas tanpa ada rasa takut didengar orang lain


Bu Hanna shock mendengar penjelasan Sakti barusan. Disitu Sakti menjelaskan alasan ketidak sukaan akan sikap Bu Hanna yang egois dan otoriter pada bawahan. Serta cara yang dipake dalam menyelesaikan masalah dengan uang. Sakti tahu keluarga Bu Hanna orang terpandang dan berpengaruh didaerah tersebut. Air matanya berjatuhan tak menyangka kabar itu benar adanya. Pupus sudah mimpi-mimpinya.


"Mas tega sekali mengatakannya! Rupanya kecurigaan ku benar adanya. Kenapa kamu harus berbohong?" Ucap Bu Hanna berurai air mata memprotesnya.


"Dengar dulu penjelasanku!" Bujuk Sakti.


"Saya minta dengan sangat kamu ceraikan dia" Bu Hanna makin emosi.


"Wanita itu hanya memanfaatkanmu mas. Dia tidak pernah mencintaimu"


"Memanfaatkan apa Bu? Apa yang aq punya? Jabatan?? Kalau toh dia aku bantu masuk kerja kebetulan Pak Ketua ada butuh staf hanya itu tidak lebih. Apa yang dia manfaatkan?" Sela Sakti tak terima.


"Lalu kenapa Mas menikahinya?"


"Saya menikahinya karena saya cinta dia"


"Cinta??? Saya gak yakin itu karena cinta pasti wanita Jawa itu main dukun. Orang Jawa kan suka ke dukun"


"Bu Hanna tahu apa tentang dia?" Tanya Sakti seraya membela istrinya sebab tuduhan Bu Hanna sangat berlebihan dan tak masuk akal pake dukun segala.

__ADS_1


"Mas Sakti aq menyukaimu dari Dalu kenapa dia yang kau pilih? Tidakkah ada sedikit rasa sayang dan cinta dihatimu untukku?" Tanya Bu Hanna sesungukan tidak mampu mengontrol emosinya.


"Bu Hanna tolong hargai keputusanku"


"Inikah alasanmu selalu menolak pemberian dariku? Karena wanita yang baru beberapa bulan kamu kenal"


"Bu Hanna berpikirlah secara jernih jangan pake emosi"


"Anda memang manusia berhati batu tidak punya perasaan sedikitpun padaku" Suara tangis Bu Hanna semakin menjadi-jadi.


Sakti menghela nafas panjang tak tahu mau bicara apa lagi padanya. Ia ingin menepuk bahunya, mencoba untuk menenangkannya. Akan tetapi Bu Hanna setengah berlari keluar dari ruang kerjanya sambil menangis.


"Wanita selalu pake perasan dibutakan oleh cinta" Batin Sakti melihat sikap Bu Hanna yang seperti anak kecil maunya harus dituruti. Ada beberapa staf yang melihat Bu Hanna berlari sambil menagis. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi? Tidak biasanya Putri Keuangan menangis dari ruang kerja Pak Kabag. Sakti hanya bisa tertunduk melipatkan kedua tangannya di saku celana. Lebih baik ia berkata jujur. Sakti tidak mampu menahan emosinya dikala Bu Hanna memintanya untuk menceraikan istrinya.


Arvi sempat mendengar pertengkaran hebat keduanya. Sebab kebetulan mau ke ruang kerjanya Sakti. Arvi segera ia hentikan langkahnya. Arvi tertegun dan baru menyadari jika Bu Hanna sangat mencintai suaminya. Bahkan Bu Hanna meminta Sakti untuk menceraikannya. Tubuh Arvi seperti mati rasa. Sekarang baru terjawab alasan Bu Hanna sering merenghina dan merendahkannya.


Siang itu Kebetulan ia disuruh Pak Ketua untuk memanggil Sakti. Kalau lewat Hp lama jaringan susah ada. Bu Hanna yang sempat berpapasan dengannya hanya bisa menatap penuh kebencian dan dendam.


Arvi mengetuk ruangan Sakti yang sudah terbuka. Sakti menoleh tamu siapa yang datang.


"Siang Pak Kabag. Mohon ijin ditunggu kehadirannya di ruang kerja Pak Ketua sekarang" Suara Arvi membuyarkan alam sadarnya.


"Terima kasih. Sedikit lagi saya ke sana"


"Permisi Pak" Suara Arvi pamit keluar.


"Saya harap kamu tidak salah sangka" Suara Sakti menghentikan langkahnya.


"Saya tidak seburuk itu. Mohon dibedakan antara urusan pribadi dan kantor. Saya permisi dulu" Jelasnya berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


"Masalah satu belum selesai satu muncul lagi pusing aq?" Ucapnya pelan melangkah menuju meja kerjanya.


Tidak butuh lama berita pertengkaran Bu Hanna dengan Pak Kabag Sakti menyebar bak bola liar. Desas desus cinta segitiga menjadi penyebabnya. Bahkan hubungan Arvi dan Sakti mulai terpublikasi. Berita perkawinan mereka menjadi trending topik di Kantor.


__ADS_2