
Dirumah Sakti.
Usai pulang kerja Arvi mencoba menghubungi kawan dekatnya kebetulan ia baru datang dari Distrik. Ia meminta Santi datang kerumah Sakti.
"Ada apa Bu Sakti koq murung gitu?" Tanya Santi setengah mengganggu kawan tersayangnya yang nampak murung.
"Gimana nasib anakku nanti?" pertanyaan yang tak terduga terlontar dari mulut Arvi. Santi sedikit bingung dan menerka-nerka masalah apa yang sedang dihadapi bumil ini.
"Huust belum juga lahir sudah berpikir yang aneh-aneh"
"Serius ini kak!"
"Aq juga serius dek jawabnya"
"Jika berita itu benar pasti mas Sakti sudah dipenjara"
"Jangan asal bicara! Kamu dapat berita itu dari mana? hah". Tanya Santi terkejut.
"Orang-orang di Kantor. Katanya dia Meruda paksa Bu Hanna di hotel tempatnya menginap" Jelas Arvi sedih berkaca-kaca. Tidak lama bendungan dimatanya mulai tumpah membanjiri pipinya yang halus.
"Ya Tuhan kenapa bisa begitu?" Suara Santi gemetar mendengarnya.
"Saya tahu diantara mereka memang ada sesuatu tapi mas selalu meyakinkanku jika mereka hanya patner kerja. Tapi dengan kejadian ini lebih baik aq pergi kak. Biar aq yang mengalah" Suara Arvi sesungukan.
"Arvi jangan berkata begitu belum tentu benar berita yang beredar di luar sana" Santi mencoba bersikap bijak dan menasehatinya. Santi merangkul sahabatnya yang terpaut dua tahun darinya itu. Ia mencoba untuk menenangkannya. Sebab ia tahu perasaan wanita hamil moodnya berubah-ubah.
"Posisiku makin tersudut kak. Jika mas Sakti dipenjara pasti aq juga tidak kerja lagi" Lanjut Arvi sedikit agak bimbang.
"Apa yang akan aku katakan pada ayah jika aq pulang? Apa yang dikatakan ayah benar? Aq anak durhaka kak" Ucapnya nangis sejadi-jadinya.
"Arvi tenangkan dirimu tak seharusnya kamu menyakiti dirimu sendiri. Kapan pun kamu pulang mereka tetap menerimamu sebagai anaknya. Tidak ada orang tua yang tidak sayang anaknya" Santi mencoba membesarkan hatinya.
"Tapi apa mereka mau menerima keadaanku yang berbadan dua ini? Apa kata orang -orang nanti jika aq merantau pulang dalam keadaan hamil tanpa ada suami?" Ucap Arvi lirih dengan mata masih sembam menatap Santi. Santi mengerti jika temannya dalam keadaan rapuh tingkat dewa.
"Cantik jangan pernah mendahului takdir! Kamu harus yakin dan percaya jika suamimu tidak seperti itu. Mas Sakti sangat mencintaimu Arvi dia tidak akan membiarkanmu menanggung beban sendiri. Bukankah kalian sudah menikah resmi apa yang kamu kawatirkan cantik" Santi terus meyakinkannya.
__ADS_1
" Tapi kenapa mas Sakti tega menghianatiku?"
"Entahlah Arvi kita tunggu berita kebenarannya dulu. Jangan kita berprasangka buruk terhadap suamimu"
"Sampai sekarang ponselnya juga tidak dapat dihubungi gimana aq tidak kepikiran"
Santi tidak ingin Arvi larut dalam kesedihan dengan pemberitaan tentang Sakti. Arvi sampai putus asa ingin balik ke Semarang tapi ia takut bertemu sang ayah.
"Kenapa jadi delema gini Arvi? Niatmu yang ingin merantau ke Tanah Papua justru hatimu tersangkut pada sosok Pak Sakti. Serumit inikah jalan hidupmu Arvila??? Ah aq jadi pusing sendiri" Batin Santi menggerutu memegang pelipisnya.
"Menurutmu aq harus bagaimana? Perlukah aq menemui mas Sakti? Sementara keadaanku tidak memungkinkan untuk jalan jauh"
"Bersabarlah cantik. Kita berdoa semoga ada keajaiban" Pungkas Santi meyakinkannya.
"Tapi aq tidak yakin jika lewat dari dua puluh empat jam itu berarti dia jadi tersangka. Sampai sekarang aq tidak bisa menghubungi dirinya. Aq istri yang bodoh kabar suami saja aq tidak tahukah" Lirihnya menyalahkan diri sendiri. Membuat Santi hanya mengelus dada. Arvi sangat terpukul dengan kabar itu.
Di Kota Semarang
Pak Hartono tampak asyik bermain catur dengan salah satu pelayannya. Sedangkan sang istri asyik mengarahkan asisten rumah tangganya untuk membuat makan malam untuk mereka. Kebetulan malam ini anak tertua Pak Hartono nginap kerumah beserta suami dan anak-anaknya.
"Garang asemnya pake belimbing wuluh bik luweh mantep"Suara Bu Hartono
"Oh geh Bu. Mangkeh Kulo Paringin blumbing wuluhe"
(Oh iya Bu. Nanti saya beri belimbing wuluhnya)
"Ingat masakan ini saya ingat Arvi bik! Dia sangat menyukainya".
"Ehmmm" Suara deheman sang suami menghentikan percakapan di dapur. Asistennya pun segera pindah melihat sang majikan laki-laki datang ke dapur.
"Eh Ayah sudah selesai main caturnya?" Tanya sang istri tersenyum.
"Bu gak usah mikir anak yang gak mikirin orang tua" Suara Pak Hartono mengingatkan sang istri.
"Ayah tidak bisa kah melunak sedikit kasihan Arvi dia anak gadis kita "
__ADS_1
"Ibu terlalu memanjakannya segala keinginannya dituruti" Ucap Pak Hartono dengan ketus.
"Iya ibu memang memanjakannya. Sebab tinggal dia yang belum menikah. Ibu menghargai keinginannya untuk hidup merantau dia hanya ingin hidup mandiri Pak" Jelas istrinya
Suara langkah seseorang memasuki ruang dapur. Rupanya Dinda yang datang menghampiri kedua orang tuanya.
"Masak apa Bu?" Tanya Dinda merangkul bundanya dari belakang.
"Ini masak Garang asem kesukaan kita" Sahut sang mama.
"Heem sedap ma! Saya gak sabar pingin mencicipinya" Celetuk Kak Dinda tersenyum.
"Mas Tomi pasti suka sudah lama gak makan masakan mama" Lanjut Dinda lagi.
"Memang kamu tidak pernah masak untuk Nak Tomi?" Tanya sang Ibu melirik ke arahnya.
"Masak sih tapi yang gak ribet gini" Sahut Dinda cengar cengir.
"Sudah jadi kewajibanmu Dinda untuk nyenengin suami biar betah makan dirumah" Sauara ibunya mulai ngomel.
"Ayah juga gitu ma?" Tanya Dinda lagi.
"Dinda kamukan sudah lama berumah tangga hal begitu saja minta diajari" Sahut sang ayah sedikit jengkel dengan manja sang anak.
"Habis asisten dirumah kurang pinter masak yah" Jawab Dinda berkilah.
"Makanya belajar dari ibumu" Sahut Ayahnya keluar dari dapur meninggalkan istri dan putri tertuanya.
"Ayah kenapa toh bu? Kayak akhir-akhir ini marah gak jelas"
"Sudahlah jangan dipikirkan lebih baik kamu urus suami dan anak-anakmu. Kita siap-siap makan malam" Sahut sang ibu tersenyum.
"Tidak ada yang disembunyikan dari Dinda toh bu?" Tanya Dinda mengalihkan.
"Sembunyikan apa? Tidak ada yang main sembunyi-sembunyi dalam rumah ini. Sudahlah nak lihat anak-anakmu sudah mandi apa belum? Mereka butuh perhatianmu" Jelas sang ibu menutupi.
__ADS_1
"Okey ibu yang cantik!" Sahut Dinda mengecup sang bunda dengan lembut. Dinda pun bergegas menuju ruang tengah dimana sang suami dan ketiga anak-anaknya sedang asyik bermain Play station. Sedangan anak perempuannya bermain boneka Teddy Bear berwarna abu-abu. Mereka keluarga yang harmonis.