AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Bu Hanna Sang Pendendam


__ADS_3

Semenjak Santi berangkat di distrik Arvi tinggal seorang diri dirumah. Berapa kali Kakak ipar dan sang istrinya sebentar-bentar mengunjunginya. Mereka memastikan jika Arvi dalam keadaan baik-baik saja.


Dalam situasi yang tidak menentu itu berapa kali Adi mencoba untuk mendekati Arvi tapi sikapnya berubah. Arvi mencoba menghindar darinya. Ia tak ingin ada gosip miring terhadapnya. Mengingat kehadiran Sakti yang tak ada kabar berita.


Hari yang sangat melelahkan buat Arvi. rupanya tamu yang tak diundang hadir ke ruang kerjanya. Kebetulan hari ini Pak Ketua ada kegiatan di Dapil. Sehingga dia ada diruangan. sebetulnya ia ingin menghindar tapi tak bisa. Nanggung posisinya.


"Dasar wanita j***ng tidak tahu diri bisanya jadi benalu" Sinsir Bu Hanna tanpa mempedulikan kondisi Arvi saat ini.


Arvi menunduk tanpa membalas sindiran Bu Hanna barusan. Ia mencoba mengalihkan pandangannya ketempat lain.


"Lihatlah dirimu bisa apa kamu sekarang? Tidak ada yang menjadi pelindungmu. Dengar wanita j***ng!!! Aq ingin melihatmu merasakan apa yang kurasa. bagaimana rasanya??? Tanpa Sakti kamu tidak bisa apa-apa. Lihatlah laki-laki yang kamu banggakan pergi entah kemana? Kasihan mana lagi hamil gini. Haaaa" Suara Bu Hanna menghardiknya.


"Ingat ya kata-kataku wanita j***ng aq bisa saja melenyapkanmu beserta anak yang sedang kamu kandung, tapi tidak sekarang" Bisiknya mendekat ke telinga Arvi. Kata-kata yang keluar dari mulut Bu Hanna bagaikan ribuan belati yang menancap di ulu hatinya.


Rasanya sakit luar biasa. Mungkin itu yang dibilang sakit tak berdarah. Matanya nanar menatap satu sudut.


"Jadi orang jangan syok kecantikan. Kamu pikir dirimu hebat bisa mengambil Sakti dariku?? Jangan ngimpi kamu!! Jika dia tidak bisa kumiliki jangan harap kamu bisa memilikinya. Akan kuhancurkan siapa saja yang mengganggu hidupku" Suara Bu Hanna masih mengintimidasinya.


"Ambilah Bu jika itu bisa bermanfaat untuk ibu" Arvi memberanikan diri bicara, sebab ia sudah tidak tahan dengan kata-kata hardikannya.


"Ceeeh..Ceeeh....Ceeeh!! Punya nyali juga kau rupanya. Oh istri Sakti yang masih muda cantik menawan dipuja-puja banyak orang rupanya bisa bicara!! Hahahaha... Berani ya sama aq"Suara Bu Hanna lantang merasa tertantang dengan ucapan Arvi barusan. Ia menunjuk-nunjuk wajah Arvi. Tampak terlihat begitu dendamnya pada Arvi.


"Jika ada salah saya dan mas Sakti meminta maaf" Arvi berusaha setenang mungkin tapi tidak isi hatinya. Rasanya campur aduk. Ia tak ingin meladeni orang yang lagi emosi.


"Maaf makan itu maafmu!! Sebab aq tidak akan pernah memaafkan"Serang Bu Hanna lalu pergi meninggalkan Arvi diruangan.


Arvi terdiam mematung. Walau Bu Hanna sudah tiada diruangan tersebut, tapi kata-kata yang ditinggalkannya masih ternyiang ditelinganya. Kata-katanya begitu jelas menusuk relung darahnya. Rupanya tingkat pendidikan tinggi tidak menjamin etitude seseorang.


"Kesalahan apa yang telah mas Sakti lakukan hingga sebegitu dendam dan bencinya Bu Hanna padaku?" Arvi bicara sendiri. Ia masih tidak habis pikir.

__ADS_1


Tapi jika di telisik lebih dalam kata-katanya menguras emosi jiwa raga.


Lama Arvi mematung mencerna kata-kata Putri Keuangan yang cantik manjalita itu. Perlahan ia menarik nafas dalam-dalam perlahan ia hempaskan.


"Aq tidak ingin mati konyol hanya karena bertahan menunggu kehadiran Mas Sakti. Aq harus pulang ke tempat asalku. Walau dalam keadaan yang berbeda. Aq yakin ayah dan ibu mengerti walau aq telah mengecewakan mereka" Ucapnya menyemangati diri sendiri. Sebab ancaman Bu Hanna tidak main-main. Sebetulnya mereka ingin melaporkan Bu Hanna tapi tidak ada bukti soal hilangnya Sakti yang secara misterius.


Dreet dreet dreet


Bunyi ponselnya bergetar. Rupanya ada panggilan masuk. Segera Arvi meraih ponsel yang ada di atas meja. Alangkah terkejutnya jika menghubunginya adalah Dinda kakak tertuanya. Arvi sempat ragu untuk mengangkatnya. Arvi menarik nafas panjangnya untuk menetralkan pikirannya sejenak.


"Ya Tuhan apalagi ini?" Batinnya bertanya.


"Assalamualaikum Mbak!!" Sahut Arvi memulai percakapannya.


"Waalaikum Salam. Masih simpan nomorku tapi kenapa tidak pernah telpon"Cerocos Dinda serilek mungkin. Ia tahu jika kondisinya tidak baik-baik saja.


"Hiks hiks hiks!"


"Arvi kakak mohon pulanglah. Apapun kondisimu pulanglah kami menyayangimu" Suara Dinda terisak-isak. Nafasnya terasa berat.


"Iya mbak aq akan balik"


"Kamu janji akan pulang?"


"Iya Aq janji akan balik ketemu kalian"


"Apapun yang kamu mau akan kami penuhi asalkan kamu balik dek"


"Tentu mbak. Tidak ada yang bisa aq harap sekarang"Jawab sang adik masih berurai air mata.

__ADS_1


"Maksudmu apa?" Pancing Dinda pada sang adik.


"Panjang ceritanya. Nanti kalau saya sudah balik kita cerita" Jelas Arvi menyika air matanya. Masih terdengar dari seberang jika Dinda pun menahan rindu pada sang adek bungsu kesayangan.


"Janji kamu akan ceritakan pada mbak!" Pinta Dinda dengan kikuk.


"Iya Aq janji. Mbak Dinda apa kabar? Pasti telpon disuruh mama" Jawab Arvi menebak. Arvi tahu tabiat sang kakak orangnya pemalas.


" Ah tidak begitu.. kangen saja sama kamu! Kabar mbak Dinda dan keluarga sehat di sini. Kabar kamu gimana dek?" Jawab Dinda terbata-bata kala mendengar pernyataan Arvi barusan.


"Mbak Dinda yakin? Bukan karena hal lain?" Sela Arvi slidik.


"Dasar kalau orang hukum bawaannya curiga melulu cocok kalau kamu jadi Jaksa atau pengacara" Protes Dinda mengalihkan pembicaraannya. Sontak Arvi tertawa bahagia mendengar celoteh sang kakak tertua.


"Aduh makasih doanya!" Sahut Arvi tersenyum. Sepertinya kesedihan dan beban pikirannya mulai terurai ketika sang kakak menghubunginya.


"Jujur saja aq salut denganmu dek rupanya kamu anak pemberani dan juga mandiri. Dalam keluarga kita hanya kamu yang berani melanggar aturan ayah. Aq tahu itu sangat berat. Tapi ketahuilah jika kakak bangga dan sayang padamu. Kumohon kembalilah bicaralah dengan ayah" Suara Dinda terdengar serak dari sebrang.


"Itu pasti!! Aq akan menghubungi ayah nanti tapi bukan sekarang" Jawab Arvi.


"Tapi dek niat baik jangan ditunda-tunda" Sela Dinda memotongnya.


"Iya Aq paham. Kakak tidak usah kawatir aq pasti ketemu ayah langsung tidak lewat ponsel" Sahut Arvi dengan mantap meyakinkan Dinda.


"Syukurlah kalau begitu pesan kakak jaga diri baik-baik jaga kesehatanmu. Aq tunggu kehadiranmu segera. Jika perlu uang atau apa kirim no rekeningmu biar mbak tranfer" Suara Dinda bernada sendu. Ia tahu jika sang adek begitu merantau jauh semua fasilitas dari sang ayah di hentikan.


" Okey kalau soal itu" Jawab Arvi meyakinkan.


Percakapan dua saudara yang terpaut sepuluh tahun itu berhenti. Walau lewat ponsel rasa canggung dan rindu itu mulai terurai dengan sendirinya. Sebetulnya Dinda ingin memberi tahu sang adek tapi ia tidak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2