
Sakti membopong istrinya masuk kedalam mobil. Ia tak ingin sang istri pingsan seperti tadi siang. Arvi tak keberatan dibopong emang anaknya manja. Santi tertawa melihat ulah keduanya. Mula Arvi menolak sebab ia malu dilihat Santi.
"Mas apa aq harus terus terang pada orang-orang kantor kalau kita sudah menikah?"
"Tidak perlu dek cukup urus secara administrasi nanti juga tahu sendiri. Ga usah banyak mikir ini ranah rumah tangga kita"
"Tapi mas??"
"Saya kawatir dengan keadaanmu akhir-akhir ini sering pusing"
"Mas kalau aq hamil gimana ya?"
Sakti tambah terkejut dengan mata sedikit melotot. Ia tersenyum mengembang sempurna. Binar mata bahagia mulai terbit.
Dengan penuh semangat Sakti mencium bibir istrinya berulang-ulang. Kesempatan itu tidak dibuang sia-sia seharian kerja capek mendengar kabar sang istri hamil betapa bahagianya dirinya.
"Rupanya aq akan punya generasi penerus" Batinnya berbangga diri.
"Tuhan terima kasih"
Dikening dan di pipi tak luput dari serangan ganasnya hingga kearah leher membuatnya terangsang
"Cup cup cup.."
Arvi balik menganga melihat tingkah suaminya dan mencoba menahan ulah nakal sang suami.
"Mas belum pasti!" Ucap Arvi mencoba menghindar serangan mesumnya.
"Kenapa kamu gak senang kalau hamil?"
Tanya Sakti menghentikan aksinya. Wajahnya penuh harap jika kabar itu memang benar. Diusianya yang ke 38 tahun ia ingin punya keturunan.
"Senenglah mas sebab itu rejeki dari Tuhan. Tujuan menikahkan untuk memperoleh keturunan. Hanya saja mendadak gini pasti jadi gosip liar"
"Kita telah menikah dek jangan hiraukan orang bicara. Aq sangat mencintaimu" Lanjut Sakti dengan aksi mesumnya🤭🤭.
Ditempat Adi.
Adi duduk membelakangi dinding Caffe. Adi mabuk berat. Entah habis berapa botol ia minum. Tampak berjejer di meja. Adi tak seperti biasanya, rapi,wangi dan ganteng. Wajah lelah kuyu dengan mata memerah. Pikirannya kacau sekali. Ia kecewa sekali. Firman yang menemaninya tidak bisa berbuat banyak untuk melarangnya mabok.
"Sudah cukup Adi nanti kita tidak bisa pulang" Tegur Firman.
"Ah tidak apa-apa santai saja hidup harus dinikmati kapan lagi bro!"
__ADS_1
"Iyo tapi besok kita kerja"
"Peduli apa kamu dengan perasaanku? Pak Kabag tua itu mendahuluiku. Mentang-mentang dia ada jabatan bisa seenaknya ambil ceweq incaranku"
"Ingat Adi dunia tak selebar daun kelor masih banyak ceweq diluar sana yang lebih cantik dari Arvi"
"Brengsek kamu" Suara Adi lantang langsung melemparkan bogem tangan ke arah Firman yang tanpa persiapan menghindar.
"bruuk"
Firman bangkit dari lantai sementara Adi berdiri sempoyongan sembari meracau dan menunjuk-nunjuk kearah Firman teman kerjanya. Adi beranggapan jika Firman terlalu banyak menasehati dan tidak mampu memahami apa yang dirasakannya. sehingga ia memukulnya.
Ingin sekali Firman membalas rekan kerjanya tapi sadar jika Adi dalam pengaruh minuman beralkohol.
Malam mulai larut tanpa Firman sadari jika Adi menghubungi Arvi.
"Arvi sayang apa yang kamu katakan tadi siang tidak sungguh-sungguh toh? Kenapa kamu jahat sama kakak?" Suara Adi menangis seperti anak kecil.
Melihat itu Firman mencoba meraih Hpnya sebab Adi menangis dikursi tanpa memperhatikan hp yang belum padam.
"Ya Hallo ini dengan siapa?" Tanya Firman via Hp Adi.
"Ini Arvila kak Firman. Kak Adi kenapa kak?" Suara Arvila kawatir akan keadaan Adi saat ini.
"Apa kak?" Suara Arvi penuh harap cemas.
"Saya minta tolong bilang Pak Kabag jemput kami Adi mabuk parah saya cuma bawa motor takut jatuh" Jelas Firman yang dengan Sakti.
"Oh iya kak nanti saya sampaikan"
Atas petunjuk Firman akhirnya Sakti menuruti permintaan sang istri. Sebetulnya ia malas mengurusi orang mabuk. Arvi ikut menjemput Adi yang mabok di Caffe tempatnya nongkrong.
Sesampai di sana Adi terkapar di lantai. Firman tak mampu menahan Adi hingga membiarkannya dilantai.
Melihat pemandangan itu Sakti geleng-geleng kepala. Ia menoleh kearah sang istri yang berdiri dibelakangnya
"Kamu penyebabnya dek" Batin Sakti berkata.
"Malam Bapak. Maaf mengganggu waktu istirahatnya?" Ucap Firman merasa bersalah meminta tolong pada Sakti.
"Tidak apa-apa kebetulan kami belum tidur".
"Mari kita angkat bawa ke mobil sekalian kamu ikut" Lanjutnya.
__ADS_1
"Bapak saya bawa motor ikut bapak dari belakang"
"Baiklah kalau gitu" Sahut Sakti setuju dengan usul Firman barusan.
"Dia kenapa Firman?? Sudah tahu besok pagi banyak kegiatan eh palah mabok berat gini" Gerutu Sakti sembari melirik sang istri yang cengar-cengir merasa bersalah pada Adi.
"Ah saya kira Pak Sakti tahu?" Sahut Adi penuh was-was.
Sakti hanya mengerutkan kening memberikan signal ke sang istri. Arvi hanya tersenyum menjawab.
"Dag Dig Dug" Suara detak jantungnya berkumandang.
"Apa yang telah diperbuat istrinya sampe Adi stress berat begini? Wah rupanya istrinya punya aura kharismatik. Hingga pria seganteng Adi harus broken heart lari ke minuman beralkohol. Ia kenal betul Adi bukan seorang peminum beralkohol handal terbukti ia mabuk dengan meracau " Bisik hatinya memprotes.
"Mari kita angkat" Ajak Sakti.
Akhirnya keduanya mengangkat tubuh Adi. Sewaktu akan diangkat Adi menggeliat masih meracau gak karuan.
Tiba-tiba ketika hendak mau di angkat Sakti dan Firman sesuatu terjadi. Hal ini yang paling tidak ia sukai jika membantu orang mabok. Muntah ya..Ya Adi muntah ke arah badan Sakti. Tentu bau sekali
Huuuaek Huuueek Huuueekk" Suara Adi muntahkan segala isi perutnya yang berbau alkohol.
"Sungguh mati se..Heh kalau bukan karena istriku yang bujuk saya ogah ini. Eh kamu muntah di saya punya badan. Heh" Suara Sakti jengkel. Ia balik mau muntah juga dengan badan Bermandi muntahan Adi.
"Ha ha ha" Suara Firman pecah ketawa
"Pak Kabag kamu punya pesona kuat sekali e sampe Arvi bisa menempel itu? Pak Kabag ... Oh Pak Kabag.... Kamu gak mau kalah e kalau soal wanita cantik. Hingga Arvi juga kamu embat"Celotehnya tanpa sadar.
"Lama-lama saya lempar betul pake batu kalau kamu banyak omong. Berani bicara kalau mabuk" Hardik Sakti mengancamnya sebab berapa kali ia teriak-teriak namanya. Ia malu apa kata masyarakat terhadapnya.
Tapi Adi gak kalah masih mencerocos terus-terusan gak ada kontrol.
Firman tidak mampu menahan tawa dengan ocehan Adi. Sebenarnya ia tahan tapi tidak bisa di kontrol lost dengan sendirinya. Ia sudah tidak mempedulikan Pak Kabag yang bermandikan muntahan Adi.
"Mampus loh Adi kalau kamu sudah sadar Pak Sakti ngamuk kamu itu" Gumamnya sendiri.
"Bagus e kamu tertawa" Seru Sakti jengkel dengan ulah Firman.
"Maaf Pak kilaf" Sahutnya masih menahan tawa.
Arvi merasa bersalah ia pun tak menyangka akhirnya begini.
"Jadi kacau gini? Maafkan adi" Bisiknya bicara sendiri.
__ADS_1
Ia memperhatikan sang suami yang terus ditertawakan Firman. Arvi ingin tertawa tapi takut dosa. Ada rasa bangga betapa suaminya dekat dengan staf honor yang ada di DPRD.