
Selesai surat undangan rapat diperbanyak Arvila bergegas ke ruangan sakti kembali. Mesin printer mulai mencetak draf Rancangan Perda yang telah disusun jauh-jauh hari telah ia persiapkan. Ada beberapa lembar yang jatuh berserakan tanpa pikir panjang Arvila memungutinya. Mata bertemu saling pandang, siapa yang tak tertarik mata indahnya. Ada butir-butir rasa yang tumbuh. Seketika Arvila tertunduk menghindari sorot mata Sakti yang mencuri pandang wajah ayunya. Segera ia sodorkan dan tak ingin berlama-lama saling menatap. Menyadari hal itu Sakti lalu menerima undangan Rapat yang sudah dicopy dan beberapa cetakan yang berhambur dilantai. "
"Arvi..Bisakah kamu antar Undangan Rapat ini ke Sekwan untuk ditanda tangani lalu kasih di bagian umum untuk di edarkan" Perintahnya menyodorkan undangan itu lagi. Bergegas Arvila mengantarkannya ke Sekwan untuk ditanda tangani karena hari ini juga harus diedarkan. Sebab besok ada Rapat Pembahasan Raperda oleh Tim Bapemperda yang telah dibentuk.
Tidak butuh lama Arvila memperoleh tanda tangan Pak Sekwan dan membawanya ke Bagian Umum. Disana OB Iwan telah menyambutnya. Kalau soal edaran surat sudah menjadi tugas dan tanggung jawab di Bagian Umum OB Iwan yang akan mengantarnya sesuai alamat yang dituju.
Waktu menunjukan istirahat siang, para pegawai dan tenaga honor mulai berlari ke Kantin untuk makan siang. Arvi masih berjibaku dengan mesin printer yang terus mencetak tiada hentinya. Sesekali Sakti meliriknya namun gadis itu hanya tertunduk tidak berani menatapnya.
Masih diruangan Sakti, seseorang mengantarkan makan siang untuk mereka. Rupanya tanpa sepengetahuan Arvi, Sakti telah memesan menu makan siang berupa nasi Padang di kantin. Arvi masih fokus dengan hasil cetakan printer takut tercecer gak beraturan halamannya. Sebetulnya Arvi Sudah lapar sekali tapi Sakti Belum memberinya waktu istirahat. Perutnya udah meronta-ronta minta diisi, maklum tadi pagi hanya sarapan mie instan malas masak karna Santi sudah tugas ke Distrik sebelah.
"Mari kita makan siang" Ajak Sakti menghentikan kegiatannya. Dia melangkah menuju nasi Padang pesanannya. Arvila mengikutinya dari belakang. Sakti mensruput es teh yang telah tersaji dimeja dia juga sudah lapar. Sebetulnya Arvila malu harus makan satu meja dengan Pak Kabag tapi rasa lapar mengalahkan segalanya. Dengan lahap dan tanpa canggung mereka menikmati makan siangnya. Suasana mencair tidak ada jarak diantara keduanya, Tidak berapa lama makan siangnya habis disantap tak tersisa. Ternyata Pak sakti gak seperti dalam pikiran Arvila jaim, arogan dan egois. Dan ada satu hal yang ia suka dari beliau mau mendengar saran dan masukan dari siapapun. Dibalik sikapya yang terlihat dingin cuek sok gak peduli tapi ada sikap humanisnya. Diam-diam ia mengagumi atasannya,"Sayang sudah ada yang punya"Lirihnya dalam hati kecewa. Arvila mengemasi dan membersihkan meja tak lupa ia mencuci piring dan gelas. Ketika mau mengantar keluar ruangan Sakti melarangnya. "Kasih tinggal sudah nanti orang kantin ambil" Serunya melarang. "Ah tidak apa-apa mas" Selanya tersenyum manis karena hari ini ditraktir Sakti lagi.
__ADS_1
Tidak berapa lama orang kantin datang membawa baki mengambil piring-piring yang pesan makan ke ruangan. "Terima kasih mbak sudah dicucikan" Seru mas kantin sambil mengambil uang yang disodorkan Pak Kabag. "Makasih Pak saya permisi dulu"Lanjutnya berlalu undur diri.
Dreet..Dreet....Dreet.... Bunyi Hp Sakti bergetar terlihat panggilan Whatshup dari seseorang. Segera diangkatnya. " Ya Met Siang Bapak untuk sementara masih dicetak , Kegiatan Rapat tetap jalan sesuai undangan tidak berubah Bapak Ketua" Jelas Sakti meyakinkan, rupanya Pak Ketua yang menghubunginya. "Baru saya punya anak buah ada masuk?"Tanya Pak Ketua ingat keberadaan Arvila yang baru sekali bertatap muka. "Tenang Bapak saya ada jaga ini"Seru Sakti setengah bercanda, sontak Arvila kaget. "Oh Bagus kalau gitu. Okey sampai besok ketemu di kantor". Sahutnya percaya dengan kinerja Sakti selama ini. "Siap Bapak!"Jawab Sakti mengangguk meyakinkan Pak Ketua kalau rapat akan berjalan seperti yang diharapkannya. Karena Rapat membahas Raperda butuh proses waktu lama, Soal tepat waktu tergantung dari Tim yang menyusun Raperda. Butuh ketelitian agar tidak terjadi tumpang tindih isinya. Panggilan pun diakhiri keduanya.
Sakti bergegas melanjutkan kerjanya yang terhenti istirahat makan siang. "Besok usahakan sebelum jam sembilan kamu sudah datang. Draf mau dibagi kerumah masing-masing anggota" tegasnya menjelaskan ke Arvila karena dia butuh bimbingan kerja untuk menunjang kinerja Pak Ketua. Arvila mengangguk mengerti arahan Sakti.
sekitar Jam lima sore materi draf Rancangan Raperda yang mereka susun telah selesai dan siap untuk diantar. Tidak butuh waktu lama Sakti menghubungi OB Iwan untuk membagi dan mengedarkannya untuk di Rapatkan besok. Para pegawai yang lain mempersiapkan ruangan dan kebutuhan apa saja untuk rapat besok.
Tidak terasa mobil pun menepi di mata jalan tempat kosnya. Arvila menolak diantar sampe ketempat kost dengan alasan tidak ingin merepotkan cukup sampai dimata jalan. Dia malu jadi bahan gosip ditempat kost. Dia juga kawatir kalau kedekatannya dengan beliau jadi gosip dikantor. Siapa yang gak suka Sakti biar dia udah umur rambutnya putih tapi ia ganteng loh. Arvila masih penasaran dengan istrinya. Ada yang bilang dia udah duda ada yang bilang jika istrinya ada diluar kota. Ga tahu mana yang benar Arvi ga berani menanyakannya secara langsung ke atasannya. Melihat sorot matanya aja ia takut apalagi bertanya Maslah pribadi bisa-bisa dipecat anak honor baru. Segera ia turun dan ucapkan terima kasih sudah diantar.
Menemaninya bekerja seharian Arvila merasa bangga banyak ilmu yang didapat sehingga ia tahu tentang proses penyusunan Raperda sampe ke tahap pengesahan. Sengaja Sakti arahkan karena sebagai staf yang diperbantukan di ruang kerja Pak Ketua harus cerdas dan gesit dalam bekerja. Kan ga enak di komplain sama beliau mencarikan Staf yang ga tahu apa-apa. Dia ga mau reputasinya sebagai Kabag Persidangan turun. He...he.. he..
__ADS_1
Perlahan dan pasti dia berjalan menuju rumah kosnya. Sampai dirumah kost terlihat Santi telah siap-siap mau ibadah ke Gereja.
Flas back ya gaes
Yah Santi memang non muslim beragama Kristen Katholik dia rajin ibadah sedangkan Arvi seorang muslim walau keyakinan mereka berbeda tapi keduanya saling menghargai satu sama lain. Santi menganggap Arvi seperti saudara sendiri walau umur mereka terpaut lima tahun. Arvi merasa Santi saudara terdekatnya di Papua. Tapi Santi sangat baik dan penolong. Terkadang memembantu pekerjaan rumah yang ia tinggalkan sewaktu bekerja. Santi sudah punya calon suami seorang anggota Polisi namanya Marcell. Terkadang ia iri dengan Santi yang sudah punya calon pendamping kalau malam Minggu ada yang ngajak jalan. Bahkan beberapa kali Santi dan Marcel mengenalkan teman laki-laki kepadanya tapi tidak ada kelanjutannya. Malah tambah ngejomblo, sepertinya masih ingin sendiri walau kadang kesepian ga ada kekasih yang menemaninya πππ
FlasBack Finisππ
Sesampai dirumah kost bergegas ia mandi membersihkan badan yang sudah lengket karena keringat. Selesai mandi bergegas ia sholat magrib. Setelah sholat ia berbaring dikasur untuk istirahat. Diraihnya Hp yang ada diatas meja. Dilihatnya banyak pesan di group Whatshup teman SD, SMP, SMA dan Fakultas Hukum Undip. Dia tersenyum melihat dan membaca memem atau komen-komen dari teman.temannya. Sudah hampir setahun dia Dikota kecil ini, tidak terasa dua bulan lagi usianya sudah menginjak dua puluh dua tahun.
Karena terlalu capek seharian dia tertidur dengan pulasnya. Tanpa disadari Santi pulang dari Gereja. Dia tidak ingin membangunkannya pasti capek pikirnya
__ADS_1
Ditempat yang berbeda Sakti pun terbaring di ranjang, rasa penat dan ngantuknya tidak bisa tertahankan. Entah berapa kali diusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya tertuju ke gadis yang seharian menemaninya bekerja diruangan. Berapa kali ia menguap menahan ngantuk tapi pikirannya ke tempat lain. Gadis itu mulai mengikis dinding hatinya yang dingin membatu. "Apa ini yang kurasakan"Ucapnya dalam diri tersenyum getir melawan rasa itu. "Sungguh menyiksaku"lirihnya memejamkan kedua matanya. Tidak berapa lama ia terlelap tidur dengan Sononya.