
Akhirnya suasana itu mencair ketika mereka makan siang bersama. Semula Sakti canggung tatkala dimeja makan. Tapi tanpa diminta Arvi melayani Sakti makan. Hari itu Arvi masak tumis tempe dengan sayur buncis goreng ikan serta buat sambal bawang kesukaannya. Santi merasa lega keduanya tampak rukun di meja makan apakah itu hanya kamuflase atau apa adanya. Entahlah ia tak tahu apa isi hati mereka yang sebenarnya. Karena terlihat wajah Arvi tak semurung kemarin.
Selesai makan siang Arvi meminta ijin untuk pergi bersama Sakti. Sebetulnya Arvi ingin dirumah saja tapi ia malu jika Santi harus mendengarnya. Bukan alasan sebab Arvi masih jengkel dengan Sakti soal kemarin. Santi pun tidak bertanya kemana mereka akan pergi. Sebab bukan hak Santi untuk ikut campur dalam rumah tangga mereka.
Sesampai dirumah Sakti. Arvi tidak langsung masuk kerumah. Ia berdiri enggan melangkah masuk ke dalam rumah. Sakti yang telah membuka rumah menoleh ke arah istrinya yang masih di luar. Sakti pun mendekati Arvi yang masih marah.
"Kenapa tidak masuk?" Tegur Sakti meraih tangannya. Arvi berusaha melepasnya.
"Kamu kenapa sih dek?" Lanjutnya mencoba meraih tangan istrinya.
Arvi berdiri tersenyum dingin menatapnya.
"Kita akhiri saja hubungan ini mas" Suara Arvi pelan tapi menyambar hati dan pikirannya. Sontak wajah Sakti berubah seketika. Ia tak menyangka jika istrinya minta mengakhiri hubungan mereka padahal baru menikah seminggu yang lalu. Ibarat tanaman baru ditanam belum tumbuh.
"Tidak dek. Kamu apa-apaan minta akhiri hubungan kita. Emang menikah main-main?Sampai kapan pun saya tidak akan pernah mengakhiri hubungan kita. Selamanya kamu istriku hanya milikku Aq tak rela kamu jadi milik orang lain" Tegas Sakti menatap istrinya penuh keyakinan tanpa sedikit ragu di wajahnya. Sakti menatapnya serius. Ia juga kaget gara-gara kejadian kemarin istrinya minta pisah.
Arvi sampai kehabisan kata-kata menatap wajah suaminya.
"Apa yang kamu ragukan dek?" Tatapnya penuh keyakinan.
"Tapi mas kita tak sejajar. Aq hanya memanfaatkanmu. Mungkin terlalu dini kita saling kenal lalu menikah" Arvi mencoba menjelaskan tapi Sakti menarik Arvi ke dalam rumah. Ia tak ingin menjadi tontonan orang di luar.
"Kenapa kamu bisa berkata begitu?"
"Ku akui mas aq yang salah. Tapi makin ke sini jelas terlihat perbedaan kita"
"Gara-gara kemarin. Kamu cemburu dengan Bu Hanna? Iya kan? Bisa saja aq jelaskan ke dia kalau kita sudah suami istri yang Syah di mata hukum dan negara tapi kamu yang memberi syarat aneh itu" Protesnya berapi-api.
"Tapi mas"
"Dek aq mohon jangan ulangi kata itu. Itu menyakitkan hati mas" Sakti meyakinkankan istrinya untuk tidak mengulanginya.
"Mas anggap saja kalau pernikahan ini tak pernah ada..."
__ADS_1
"Jangan membangunkan singa yang tidur dek!! Sekarang aq tahu kenapa kamu tidak ingin orang tahu tentang pernikahan kita?Kamu malu punya suami tua seperti aq. Iyakan? Kamu menyesal dengan keputusanmu? Okey aq tak seganteng dan tak semuda Adi" Sakti mulai mengungkit soal Adi. Rupanya Sakti mencurigainya dengan Adi anak Komisi A.
Arvila makin tersudut dengan ucapan Sakti.
"Bukan itu mas. Apa-apaan Kak Adi di bawa-bawa segala?"
"Lalu apa dek? Mas gak ngerti sama kamu"
"Mas aq takut jika harus melepas pekerjaan ini" Suara Arvi lirih menjelaskan.
Mendengar penjelasan istrinya Sakti tertawa.
"Takut kehilangan pekerjaan?"
"Iya Aq takut mas. Aq membutuhkan pekerjaan itu apalagi hidup di perantauan kalau aq ga kerja dapat uang dari mana?"
"Sungguh mati se Kenapa kamu tidak kasih tahu dari awal" Sela Sakti masih ga percaya dengan keterangan dari Arvi.
untuk Hanya sesimple itu alasannya tapi membuatnya pusing dan penasaran. Sakti pun memeluk istrinya yang gemesin.
Sakti tidak menyangka hanya Masalah ketakutannya akan kehilangan pekerjaan.
Sakti kembali memeluk istrinya dengan perasaan lega. Terjawab sudah alasan Arvi tidak ingin pernikahannya diketahui banyak orang sebab ia tak ingin kehilangan pekerjaan yang diperolehnya.
Disuatu hari dalam suasana yang berbeda di Kantor. Rapat pembahasan Raperda berjalan seperti biasa makan waktu karena banyak penambahan pasal dan ada beberapa pasal yang harus dirubah atau tidak sesuai. Sehingga memakan waktu lama sampai malam.
Flassback dulu ya
Istirahat siang dimana anggota dan seluruh staf baik ASN maupun tenaga honor menikmati jamuan makan siang secara prasmanan. Sedari tadi mata Sakti memperhatikan Adi yang terus mendekati Arvi. Sebetulnya ia ingin menegurnya tapi lagi-lagi ia mengalah. Menyadari hal itu Arvi mencoba untuk menghindar dari Adi tapi tampaknya Adi gak kalah ide. Ada saja yang membuat mereka dekat.
"Kira-kira selesai jam berapa?" Suara Rina berbisik pada Arvi.
"Tergantung dari Tim Bapemperda yang nyusun" Jelas Arvi.
__ADS_1
"Saya harap jangan pulang malam saya capek besok harus kekantor pagi-pagi"
"Brisik!" Suara Adi menegurnya.
"Apaan sih ganggu?" Suara Rina manyunkan bibirnya saat ditegur Adi.
"Gimana sudah resiko kalau kerja jadi bawahan makanya jadi boss" Sahut Adi penuh canda menggoda keduanya.
"Adi nanti pulang aq ikut ya" Suara Rina meminta Adi untuk pulang bareng.
"Saya kira kamu ikut Firman" Sela Adi yang sepertinya keberatan mengantarnya.
"Dia sudah di boking Lucas. Jangan bilang kalian berdua udah janjian pulang bareng" Omel Rina.
"Ih ih ih kepo mau tau aja orang punya urusan" Sindir Adi sembari tertawa.
"Kak Rina tenang pasti Kak Adi bonceng saya ikut pulang dengan Pak Sakti" Jelas Arvi tersenyum. Adi tersentak kaget kalau ceweq incarannya sudah di boking Pak Kabag Sakti
"Kalah saingan aq" Sindir Rina menggoda Adi yang tampak kecewa.
"Ngapain kalian bergosip disini? Tidak ada kerjaankah" Suara Bu Hanna yang tiba-tiba muncul membuat mereka curiga saling pandang.
"Iya bu Permisi" Suara Rina menyaut.
"Jangan cuma asyik ngegosip makan gaji buta tidak tahu kerja bikin malu instansi" Lanjutnya marah pada mereka anak honor. Hingga semua mata tertuju ke arah mereka bertiga.
"Salah apa hingga kami dapat semprot dari Putri Keuangan" Batinnya kesel dengan umpatan Bu Hanna barusan.
"Kalian pikir ini kantor milik tete moyang kalian?" Suara Putri Keuangan dengan ketusnya.
"Bu jangan marah-marah nanti lekas kerutan muncul" Suara salah satu ASN mencoba mereda amarah Bu Hanna agar tidak semakin liar kemana-mana. Sebab sudah banyak yang memperhatikan mereka.
"Diam tidak usah ikut-ikut. Eh terutama kamu anak baru jangan bikin diri inti sok tahu sok cari perhatian ke semua-semua. Kamu siapakah? Honor saja bikin diri inti!" Bu Hanna menunjuk-nunjuk ke arah Arvi. Ia hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca. Bu Hanna seperti kesetanan emosinya meledak-ledak tak terbendung.
__ADS_1
"Bu sudah jangan berlebihan ini kantor" Bisiknya mencoba menenangkan.
"Kau tunggu e ini belum selesai" Ancamnya menunjuk ke arah Arvila.