AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Rapat Bapemperda


__ADS_3

Pagi hari selesai sholat subuh Sakti bangun merebus air untuk minum kopi. Dia seorang pecinta kopi. Hampir setiap pagi ia minum kopi hitam, bahkan jarang sekali ia sarapan hanya minum kopi. Saking cintanya akan kopi kalau jalan dinas transit di Makasar ia selalu pesan kopi dari Tana Toraja. Kopi Toraja sangat populer dan memiliki nilai jual tinggi.


Hari ini dia berangkat ke kantor tempo karena ada kegiatan Rapat Bapemperda sesampai Dimata jalan ia ingin menjemputnya tapi terlihat dari jalan Arvi sudah dibonceng Bang ojek. Segara ia melanjutkan perjalanannya.


Sesampai dikantor masih terlihat sepi, tempat parkir legang belum ada pegawai ataupun anggota DPRD yang datang. Yang terlihat tenaga clening service yang datang tempo. Segera Sakti memarkirkan mobil Dinas itu. Sewaktu ia keluar dari mobil Sakti melihat Arvila juga baru nyampe dengan mas ojek. Terlihat langkah kakinya berlari kecil memasuki lobi kantor DPRD menuju ruang Pak Ketua dengan terburu-buru. Sakti tersenyum melihat pemandangan indah yang jarang ia temui dipagi hari.


Sakti berjalan dengan gagah dan penuh langkah pasti menyusuri jalan samping menuju ruang kerja sembari tersenyum mengingat wajah Arvila yang cemas takut terlambat. "Rupanya ia takut terlambat takut dapat marah "Ujarnya tersenyum dengan gelengan kepala ringan, tidak terasa telah sampe keruang kerjanya. Segera ia masuk keruangan.


Diruang kerja yang berbeda Arvi membersihkan ruangan menyalakan AC membuka tirai agar ruangan terkena cahaya matahari. Bahkan dia sudah mempersiapkan beberapa surat yang masuk selama Pak Ketua ikut Kunker ke Dapil.


Suasana kantor mulai ramai para ASN dan tenaga honor sudah hadir untuk ikut apel pagi. Apel pagi dipimpin oleh Sekwan selaku pimpinan tertinggi di kantor. Semua nampak serius mengikuti arahan dari Sekwan. Tidak perlu waktu lama karena mereka akan mengikuti Kegiatan Rapat dengan Anggota DPRD yang dari kemarin sudah diagendakan.

__ADS_1


Waktu berputar begitu cepat tidak dirasa sudah jam sepuluh lewat tidak berapa lama Pak Ketua diikuti ajudan dibelakang masuk keruangan. Sedari tadi Arvi yang menunggu kehadirannya tersenyum riangnya. " Bapak sudah ditunggu diruang rapat"Sapa Arvi dengan tersenyum menyambutnya. "Oh ya.? Kalau gitu saya langsung ke ruangan saja ya."Serunya berhenti balik badan menuju Ruang Rapat yang ada di lantai atas diikuti Arvila dari belakang yang mengekor seperti ular.


Ruang Rapat sudah terisi oleh Anggota DPRD bagian Bapemperda yang guna membahas Rancangan Perda yang mau di Sidangkan. Begitu Pak Ketua masuk dan membuka sambutan sepatah dua patah kata lalu beliau menyerahkan kegiatan kepada Ketua Bapemperda yang telah ditunjuk untuk memimpin rapat. Hasil Rapat tersebut akan dilaporkan kepada Ketua DPRD untuk di tetapkan melalui Sidang .


Arvi pun ikut keluar mengikuti Pak Ketua dari belakang. "Arvi hari ini Bapak ada Undangan ke Kantor Bupati. Karena jauh lebih baik kamu tidak usah ikut. Bapak beri tugas kamu ikut Rapat diruangan tadi". Pinta Pak Ketua menghentikan langkah dan memberi tugas pertamanya. " Siap Bapak!" Sahut Arvi menerima tugas dari atasannya. " Bapak langsung jalan e.." Sahutnya pamit sambil melirik jam dilengannya. Arvi mengangguk pelan sambil tersenyum pada atasannya.


Tanpa tunggu waktu lagi Pak Ketua dan ajudan pergi dan tidak sempat keruang kerjanya. Mereka pun berlalu dari pandangan.


Begitu diruangan Arvi duduk dibelakang mendampingi para Anggota Dewan, sementara Sakti mempresentasikan materi yang akan dibahas. Sesekali mata mereka bertemu, seketika Arvi menundukkan wajahnya ia malu dan takut menatap mata sendu itu. Setiap kali mata mereka bertemu cepat-cepat Arvi menoleh mengalihkan pandangannya atau berpura-pura membuka draf yang dipegangnya. Sesekali Sakti berhenti memperhatikan dia. Dari sikap dan pembawaannya terlihat sekali kalau Sakti orang yang cerdas dan berkharisma, buktinya walau dia bukan dosen tapi dia mampu menjelaskan dengan detail dan lengkap. Gak salah kalau dia ditempatkan di Bagian Persidangan yang membawahi Perundang-Undangan. Kinerjanya sebagai Abdi Negara tidak diragukan dalam menyusun materi setiap kegiatan Sidang baik APBD maupun Non APBD.


Sesekali ada Anggota yang Dewan yang bercanda mengurangi ketegangan dirungan biar suasana santai tidak tegang.

__ADS_1


Tak terasa waktu menunjukkan pukul satu siang. Kegiatan rapat siang di skors untuk istirahat makan, yang telah disiapkan Panitia konsumsi. Mereka menikmati makan siang dengan canda tawa dari Anggota dan para staf. Seperti tidak ada jarak mereka mengobrol sambil menikmati hidangan dari Bagian Umum berupa papeda dan ikan kuah kuning makanan khas Papua. Sesekali mereka pada godai Arvila staf yang baru masuk dan paling cantik dikantor. Membuatnya tersipu malu dengan rayuan atau gombalan ala Papua. Dipapua cerita Mop sangat populer. Sakti pun hanya terdiam seolah tidak mendengar dan tidak mempedulikan ketika namanya disebut-sebut "Ehm..Ehm..."Suara teman-teman meledeknya. Dalam hati Sakti hanya tersenyum kecil peluang itu tidak ada dihatinya. Dalam benaknya berkata apa dia mau dengan bujang tua ini. Dia tak ingin kecewa atau hanya cinta diri sendiri.


Istirahat siang pun telah usai mereka bergegas masuk keruangan sebelah untuk melanjutkan kegiatan yang sempat di skors untuk makan siang.


Rapat pun dimulai kembali setelah peserta memasuki ruang rapat. Hampir tiga jam rapat berlangsung. Tidak banyak yang dipersoalkan karena materi dari Raperda yang diajukan tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku.


Setelah lebih dari tiga jam rapat di skors kembali Anggota terlalu capek karena sudah petang mereka minta kegiatan di lanjut esok. Akhirnya Anggota dan para staf pun keluar untuk pulang kerumah masing-masing. Tapi para Staf tidak bisa langsung pulang karena harus membereskan ruangan terlebih dahulu terutama tenaga honor di Bagian DPRD.


Usai membantu staf lain mengemasi ruangan. Arvi sempat berkenalan dengan staf yang ada di masing-masing Komisi dan yang ada di ruangan Wakil Ketua DPRD . Sebab baru hari ini bisa ketemu karena dari kemarin dia mengekor di Sakti terus. Pembawaannya yang supel dan tidak jaim membuatnya mudah diterima dengan siapa saja.


Ketika nyampe ditempat parkir tak terlihat mobil Sakti terparkir. "Sudah pulang rupanya?" Bisiknya pelan. Masih ada beberapa motor yang berjejer diparkiran tapi yang punya masih diruangan. Tanpa pikir lagi Arvi mengayunkan langkah berjalan ke mata jalan untuk naik ojek. Kalau sudah gelap tidak ada ojek masuk atau lewat kantor. Arvi memberanikan diri jalan kaki ditemani lampu jalan. lumayan jauh jarak dari kantor ke jalan raya mana suasana sepi. ada perasaan takut tapi ditepisnya. Bukan takut karena hantu atau dedemit apalah namanya tapi lampu jalan begitu terang kecuali gelap. Justru yang sangat ia takuti kalau ada orang mabuk yang rese mengganggunya.

__ADS_1


__ADS_2