AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Gak Mau Ngomong


__ADS_3

Tak bisa ditahan lagi air mukanya jatuh Rina mencoba menepuk pundaknya untuk lebih sabar tidak usah menghiraukan ancaman Bu Hanna.


"Sudah adek tidak usah dengar dia hanya emosi saja" Bujuk rekan kerja Bu Hanna.


"Iya makasih Pak" Sahut Arvi bergegas pergi dari mereka.


Tanpa diminta Adi mencoba mengejar langkah Arvi. Ia mengekor mengikuti gerak langkah Arvi yang setengah berlari. Langkah Arvi terhenti ketika ia menabrak tubuh seseorang. Tak lain orang yang ditabraknya Sakti. Suaminya sendiri yang sedang berjalan dari ruang Pak Ketua menuju ruang kegiatan. Melihat istrinya menangis Sakti makin heran.


"Ini Kenapa lagi istriku nangis" Lirihnya berkata. Tapi ada Adi yang mengekor di belakang.


" Maaf Adi beri dia waktu untuk berpikir" Suara Sakti memintanya. Adi mengerti maksud ucapan Sakti.


Sakti membawa Arvi ke ruang kerjanya. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Arvi nangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa kali ia menyika air matanya, tapi tak kunjung reda. Ia tak berkata apa-apa hanya menangis saja. Sakti tak bisa berbuat banyak. Rasa laparnya lenyap seketika akibat insiden tadi.


Flashback finis


Arvi duduk termenung mengikuti kegiatan rapat tersebut. Arvi tidak konsen pikirannya melayang entah kemana. Sesekali Sakti mencuri pandang istrinya tampak guratan kesedihan menghias diwajahnya. Beberapa kali ia menghela nafas panjangnya tak juga reda beban pikirannya. Masih ternyiang Omelan Bu Hanna yang terasa menusuk jantungnya. Dalam benaknya ia bertanya. "Aku salah apa? Kenapa aq kena marah?" Pertanyaan itu yang ingin ia sampaikan.


Selesai juga kegiatan pembahasan Raperda oleh Tim Bapemperda dan dari hasil rapat tadi akan di Konsultasikan ke Biro Hukum Provinsi di Manokwari. Rencana Jalan Dinas akan dilakukan Senin depan. Namun semuanya bisa berubah Sebab butuh persiapan dan koordinasi dengan Biro Hukum Provinsi takut terbentur dengan jadwal Kabupaten lain.


Pulang kerja. Selama di mobil Arvi tak mau bicara sepatah kata pun pada suaminya. Ia hanya mengikuti suaminya. Ia hanya pamit pada atasannya kalau pulang ia ikut Pak Kabag.


"Aq minta dengan sangat jangan hiraukan dia. Apa saja yang ia katakan dengar saja tidak usah di balas hanya menguras emosi saja sekali kamu ladeni ucapannya bikin kita sakit hati". Suara Sakti menasehati istrinya, tapi istrinya hanya diam tak bergeming.


"Kamu istriku sudah jadi kewajiban dan tanggung jawabku untuk menjaga dan melindungi mu dek. Mas sangat sayang kamu mas ingin membahagiakan kamu"

__ADS_1


Arvi hanya tertunduk lesu mendengar semua nasehat suaminya.


Arvila hanya mengangguk pelan. Sakti di buat pusing dengan aksi diam istrinya.


"Oh wanita kehadiranmu kunantikan tapi jangan buat aq pusing dengan diam mu itu" Batin Arvi lirih.


Mobil dinas pun meluncur membelah jalan yang terlihat sepi. Udara diluar begitu dingin sehabis hujan. Genangan air memenuhi ruas jalan hingga menutup badan jalan. Ada beberapa titik ruas jalan yang tergenang akibat hujan sejak sore. Sakti pun melajukan mobil dinas dengan kecepatan sedang apalagi suasana malam banyak hewan yang masih lalu lalang di jalan. Berbeda jauh sekali awal Sakti bertugas untuk pertama kali di kota ini. Di Tanah Papua masih banyak pepohonan sehingga curah hujan tidak teratur sehingga tidak mengenal musim kemarau atau pun penghujan.


"Dreeet dreeet dreeet dreeet"


Sakti melihat Hp istrinya bergetar ada panggilan masuk. Dari layar Hp Adi menghubunginya. Arvi sedang mandi.


Semula ingin ia angkat tapi ia diamkan sampai panggilan terhenti. Sakti sempat menaruh curiga ada hubungan apa dengan mereka? Tapi ia tak ingin gegabah sebab mereka rekan kerja honor yang ada di DPRD bukan di seketariatan. Sebab sejak pulang kantor ia tidak menghiraukan Hp nya. Ia hanya diam ga mau ngomong. Pulang pun buru-buru ke kamar dan menyiapkan air panas untuk mandi.


"Mas kamu mandi sudah aq sudah siapkan air hangat itu" Suara lembut sang istri baru muncul.


"Loh ada suara mana orangnya? Kirain bantal guling" Canda Sakti membuat istrinya tersenyum lagi.


"Mandi Sudah bau asem mas"


"Malas ah"


Arvi melotot ke Sakti, Sakti mendaratkan kecupan mesra di bibir istrinya sampai tidak bisa bernafas. Sontak Arvi memukul-mukul suaminya yang agresif. Walau hanya sebuah ciuman mampu meredakan kegalauan, ketegangan diantara keduanya. Sedari tadi siang istrinya gak mau ngomong atau tersenyum sedikit pun. Ia ingin istrinya kembali ceria dan penuh semangat seperti biasa.


"Kalau mas pergi aq tidur dengan Santi ya?"

__ADS_1


"Disini?"


"Emang boleh?"


"Aq mau bawa kamu ketemu ibu dek kebetulan ke Provinsi"


"Gak ah malu mas"


"Loh itu ibuku dek. Sudah lama aq gak tengok beliau sekalian kamu ikut. Anggap saja ini bulan madu"


"Banyak modus ini Pak Kabag"


"Sekalian mumpung ada kesempatan"


"Mas yakin ibumu menerima kehadiranku?"


Sakti mencium kening Arvi yang penuh rasa sedih seharian ini.


"Sekarang dan seterusnya kamu istriku dek kita sudah Syah suami istri. Mana mungkin mereka tidak menerimamu? Sudah lama ibuku mengharap kehadiranmu? Jangan pikir aneh-aneh dek. Justru mas yang bingung bagaimana menghadapi kedua orang tuamu kelak?"


"Kita pikirkan besok aja" Ucapnya mengusap lembut ujung kepala suaminya yang telah memutih semua.


"Pintarnya ini istriku cari alasan" Sahut Sakti menggelitik tubuh istrinya hingga memohon ampun padanya. Tak tahan tertawa digelitik suaminya. Sakti ikut tertawa melihat kecerian kembali diwajah ayu istrinya. Tanpa sungkan ia memeluk istrinya yang wangi oleh sabun dan shampo. Padahal ia belum mandi. Istrinya pun tak menolak sewaktu dicium atau pun dipeluk. Terlihat Arvi nyaman dengan keadaan suaminya.


Sakti pun menuruti kemauan istrinya untuk segera mandi karena sudah malam. Ketika selesai mandi ia melihat istrinya sudah tertidur di kasur memeluk guling. Sakti tersenyum melihat istrinya yang tertidur pulas. Perasaan bangga dapat memilikinya. Disatu sisi ada rasa penyesalan belum mampu membahagiakan istrinya. Lalu Sakti melangkah mendekat istrinya yang tertidur.

__ADS_1


__ADS_2