AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Ingin Sekali Menahan


__ADS_3

Sakti ingin sekali menahan Arvi untuk tetap berada dirumahnya menikmati hari pernikahannya tapi tidak bisa Arvi tetap meminta mengantarnya pulang ketempat kost. Sakti tidak habis akal sebelum Arvi pulang terlebih dahulu minta jatah. Karena ini malam ia akan tidur sendirian lg. Hidup terpisah walau dalam satu kota. Tak kuasa ia lakukan karena itu sudah menjadi kesepakatan mereka berdua. Dengan perasaan bersalah Sakti mengantarnya. Arvi pun merasa bersalah belum bisa menjadi istri yang baik. Batinnya menangis mereka harus tidur terpisah lagi.


Sakti mengantarnya pulang ketempat kost ketika hendak turun Hp Arvi bergetar ada panggilan masuk sepertinya orang tuanya.


"Assalamualaikum Ma! Oh iya ini aq baru pulang" Sakti mendengarnya


"Sudah makan belum? Tadi makan apa?"


"Sudah Ma.. makan nasi ayam" Jawabnya tersenyum.


"Arvi pergi dengan Santi?" Tanya mamanya


"Dengan atasan Arvi Maa" Jawabnya polos


Sakti menarik nafas panjang mendengarnya.


"Arvi kalau ada apa-apa pulanglah nak kami merindukanmu Ceritakan kami mengawatirkanmu" Suara mamanya begitu lirih dikejauhan sana.


"Ma aq baik-baik saja koq ". Tuturnya menutupi kegalauan hatinya.


"Tapi nak ini sudah satu tahun lebih kamu merantau pulanglah nak. Pasti ayahmu tetap menerimamu".Suaranya sedih


Arvi menarik nafas panjang tanpa ia sadari air matanya jatuh berderai. Sakti yang melihat lalu memeluknya untuk membuatnya tenang.


Dari sebrang terdengar suara panggilan mamanya yang masih ngobrol tapi Arvi sudah tidak menyimaknya. Dia nangis sedih.

__ADS_1


Ada rasa penyesalan yang tidak dapat diungkapkan lewat kata.


flasback


Hubungan anak dengan orang tua. Arvi begitu rapat menutupnya. Ia tak ingin berbagi bahkan dengan sahabatnya sendiri. Dibalik sifat ramahnya tersembunyi rahasia yang tak ingin diuraikannya. Bahkan ia menikah pun belum memberi kabar kepada orang tuanya. Kerinduannya pada ayah ibunya merantau jauh di Wilayah Timur Indonesia. Keinginannya merantau sempat ditentang orang tuanya tapi kegigihan hatinya untuk melihat bumi cendrawasih nan indah tidak dapat dihalanginya. Keingin tahuan serta pengalaman hidup di wilayah timur Indonesia yang melatar belakanginya untuk bertahan. Ayahnya tidak terima dengan keputusannya tersebut. Sehingga hampir satu tahun ini ia tidak berkomunikasi dengan beliau, hanya ibunya yang selalu memantau keadaannya. Bumi cendrawasih kaya akan hasil alam yang melimpah baik hasil tambang maupun hasil lautnya. Karena keindahan alamnya yang masih alami diakui oleh turis dari berbagai dunia. Ia terlanjur jatuh hati pada daerah ini rasanya enggan untuk kembali ke tempat asalnya. Baginya mau di Semarang atau di Kota D ini tetap wilayah NKRI yang tercinta. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi ayah tercintanya.


Ketika Arvi hendak bicara jari telunjuk sakti memberi isyarat untuk diam ia mengerti dengan apa yang dirasakannya. Sedikit demi sedikit mulai terkuak alasan istrinya semula menolak keinginannya menikah. Sakti memeluk erat tubuhnya dan mereka saling ciuman. Sepasang mata dari kejauhan tampak memperhatikan aksi keduanya. Ciuman mesra sepasang suami istri yang baru menikah. Tak ingin menjadi gosip mereka menyudahinya.


"Lekas tidur e kamu capek. jangan pikir macam-macam. Malam" Suara Sakti mengingatkan dan kembali memeluknya.


Dalam pelukan hangatnya Arvi mengangguk.


" Besok aq jemput". Sakti masih merasa kalau ia tak rela melepasnya.


Arvi tersenyum dan memberi kode kalau ia nanti akan menghubunginya.


Arvi mengetuk pintu ia tahu kalau Santi dirumah.


"Tok..Tok...Tok..."


Ceklek...


" Ya ampun Tuhan Yesus kamu dan Pak Kabag kemana sajakah? Jam begini baru pulang?" Santi ngomel betul karena seharian ia dirumah ga dihubungi sama sekali.


"Tuhan Yesus tahu kalau aq udah pamit" Sahutnya tertawa mendengar ocehannya Santi. Santi geleng kepala mendengarnya.

__ADS_1


"Stop e jangan bawa-bawa nama Tuhan. Saya curiga e kalian ada hubungan toh" Santi menghardiknya sembari bercanda.


"Ahhh... Ga ada apa-apa" Kilahnya.


"Tidak ada apanya? kamu kira saya tidak lihat sewaktu kalian berdua...".


" Lihat apa sih" Jawab Arvi ngeles tersipu malu.


" Iyo toh kalian dua pacaran toh?" Tebak Santi langsung Arvi geleng kepala berbohong padanya


"Tipu saja mana ada laki-laki dewasa yang rela antar kamu kesana kemari kalau gak saling cinta baku suka Potong ne saya punya rambut kalau tidak percaya" Lanjut Santi masih mengomel kayak nenek-nenek.


"Bahas yang lain ah? Jangan yang itu" Arvi mengalihkan topi ia tak ingin disudutkan dengan pertanyaan Santi yang kepo.


"Ye... malu nih yang baru dapat peluk cium Pak Kabag". Goda Santi membuat Arvi jadi salah tingkah. Rupanya aksi mereka dilihat Santi toh.


"Apaan sih Santi?".


"Coba pulang bawa makanan atau kue? ini ga bawa apa-apa"


"Sorry-sorry gak sempat mampir-mampir" Kilahnya menyudahi percakapan mereka.


Sebetulnya ia ingin berbagi kebahagian dengan Santi tentang pernikahannya tadi pagi. Tapi ia urungkan pikir Arvi belum saatnya Santi tahu tentang kabar ini.


Mereka memang teman kost yang paling ngerti tapi soal asmara Arvi agak tertutup ia tak ingin berbagi cerita dahulu di Santi.

__ADS_1


Arvi masuk kekamar tidak berapa lama Sakti menghubunginya. Ia memberi kabar kalau ia telah nyampe rumah. Sakti sama sekali tidak membahas tentang orang tuanya. Sakti tidak ingin melihatnya sedih di hari pernikahan mereka. Setelah cerita panjang lebar akhirnya mereka capek dan tertidur pulas ditempat yang berbeda.


Selesai menghubungi istrinya Sakti tertidur. Segala masalah yang membelit diotaknya segera ia lupakan sejenak tertutup rasa kantuk yang luar biasa. Yang terlintas senyum istrinya yang ayu. Ada kebanggaan tersendiri dihatinya "Akhirnya aq nikah juga " Batinnya teriak keras.


__ADS_2