
Bu Hanna tampak cantik mempesona dengan sepatu kerjanya hitam mengkilat. Ia mendengar canda gurauan Sakti dan OB Iwan barusan.
"Silahkan duduk Bu Hanna"
"Mas Sakti kenapa gak tegur OB Iwan yang lancang bicara "
Bu Hanna tampak kesal memprotes tindakan Sakti yang mempertanyakan sikapnya yang terlihat melecehkannya dengan gurauan Iwan tadi. Sakti sontak kaget dengan serangan Bu Hanna.
"Saya minta maaf kalau candaan kami tadi terlalu".Sakti meminta maaf pada Bu Hanna.
"Baru aq tahu kalau aq daun setengah tua" Sindir Bu Hanna mengingat perkataan OB Iwan dengan mata setengah melotot padanya.
Sakti menarik nafas panjang gak nyangka kalau rekan kerjanya di Keuangan akan semarah itu.
"Loh saya tadi kan sudah minta maaf koq masih diungkit. Nanti saya kasih tahu sama Mas Iwan untuk minta maaf pada Bu Hanna secara langsung". Bujuknya agar dia gak ngamuk lagi.
"Belum" Sahut Bu Hanna masih jengkel ada guratan amarah di wajahnya.
" Saya belum dimaafkan toh! Dengan cara apa saya dimaafkan" Sakti mencoba merendah.
"Ada syaratnya mas"
"Ya sudah sebagai permohonan maaf saya, saya ikuti Bu Hanna punya syarat"
"Mas harus mau e" Sakti mengangguk seraya setuju apapun yang dia mau.
"Mas harus terima kado yang kemarin aq bawa" Sontak Sakti makin terkejut dengan syarat yang diajukannya, rupanya berbeda dengan pikirannya.
"Maaf Bu Hanna itu terlalu berat"
Sakti menolaknnya secara langsung karena itu berlebihan hadiahnya.
Bu Hanna mengangkat kedua bahunya tak memberi pilihan lain.
"Saya hanya punya syarat itu Mas"
"Tapi saya tidak bisa. Mas Iwan tadi hanya bercanda jangan dianggap serius" Jelas Sakti mencoba untuk membela dan masih membujuknya lagi.
"Mas pikir saya ini barang lelucon" Suara ketus Bu Hanna menanggapinya.
__ADS_1
Membuat Sakti makin tersudut. Disatu sisi ia ingin menyudahi kesalah pahaman dengan Bu Hanna soal candaan Iwan, disisi lain ia tak ingin menerima syarat yang diajukannya. Padahal banyak kerjaan yang sudah menunggunya. Mana dia gak keluar-keluar.
"Perempuan maunya dimengerti tapi mereka tak mau mengerti. Perempuan itu ribet banyak maunya gak mau disalahin" Batin Sakti berkecamuk. Ia takut salah bicara membuat Bu Hanna tambah sakit hati.
"Bukan begitu Bu! Bu Hanna salah paham? Saya kan sudah minta maaf" Sakti mulai kehabisan kata-kata untuk membujuknya agar mengakhiri kesalah pahaman diantara mereka.
"Kenapa Mas Sakti selalu menolak semua pemberian dari saya" Protes Bu Hanna lagi.
Sakti menarik napas panjang sembari menggaruk kepala yang sebetulnya tidak gatal. Dia pusing menghadapi ibu sosialita yang banyak maunya ini.
"Saya juga gak tahu kenapa Mas Sakti menghindar dari saya? Apa karena anak baru itu?" Pertanyaan yang terduga menghujam kearahnya. Sakti yang tersudut mencoba untuk menguasai keadaan.
"Kenapa jadi melebar gini? Mana istriku dibawa-bawa? Kalau sampai ia tahu kami sudah menikah bisa perang dunia ke tiga ini" Batinnya bertanya gak karuan.
Nafasnya terasa berat, Butiran air mata perlahan jatuh. Tak disangka adegan Drakor terlihat didepan matanya Bu Hanna menangis berapa kali ia menyika air matanya. Perlahan Bu Hanna mengusapnya untuk mengontrol emosinya. Lelaki yang dihadapinya itu tidak bergeming dengan tipuan air mata.
"Mas gak ngerti dengan perasaan saya? Saya sakit hati sekali sampeyan menolak setiap pemberian dari saya. Hati mas memang terbuat dari batu" Protesnya berlinang air mata.
Sakti makin tersudut dengan pertanyaannya.
"Bu Hanna dengar dulu" Sakti mencoba meraih tangannya tapi ditolak dan buru-buru keluar dari ruangannya.
Sengaja ia tak mengejarnya nanti jadi bahan gosip sekantor. Sakti sadar kalau selama ini Bu Hanna ada hati tapi ia menganggap sebatas patner kerja di Kantor tidak lebih.
"Aq manusia yang berhati batu" Sakti merenung mencerna pernyataan Bu Hanna.
Masih diruang kerja Sakti.
"Dreeet dreeet dreeet..! Suara Hp bergetar terlihat panggilan dari Pak Ketua.
"Selamat siang Bapak" Suara Sakti memberi salam.
" Siang juga. Pak Sakti bisa keruangan saya sebentar sekarang saya tunggu" Suara Pak Ketua dari hp.
" Siap Bapak segera saya keruangan" Suara Sakti menyudahi pembicaraan.
Segera Sakti bangkit dari duduknya berjalan menuju ke ruangan Pak Ketua.
"Tok tok tok" Suara ketukan pintu
__ADS_1
"Ceklek.." Sakti membuka pintu
"Siang Bapak Ketua" Salam Sakti memberi hormat.
"Siang..Siang.. Mari sini duduk Bapak ada perlu sebentar" Sahut Pak Ketua.
"Siap Bapak. Soal apa ini Bapak?"
"Ini soal materi Sidang apakah sudah ada apa belum? Kalau belum tolong dibuat Surat ke Tim anggaran biar bisa menentukan kapan jadwal sidang" Jelas beliau.
"Siap Bapak nanti saya koordinasikan dengan Pak Sekwan " Jawab Sakti penuh wibawa.
"Mantap kalau begitu" Suara Pak Ketua penuh keyakinan pada Sakti.
"Kalau begitu saya pamit ke ruangan" Sakti undur diri.
"Pak Sakti tadi saya suruh sopir antar Arvi pulang biar dia istirahat dirumah dulu. Sepertinya dia trauma dengan kejadian lalu"
"Oh iya Pak". Sahutnya sedikit lega dengan keadaan istrinya.
"Saya kasihan dia jauh dari keluarga hidup di perantauan sendiri. Saya suruh tinggal dirumah tapi ia menolaknya". Pak Ketua simpatik terhadap Arvi yang mandiri.
Sakti tersenyum mengangguk mengerti maksud dan tujuan beliau.
"Pak Sakti yakin tidak ada hubungan yang spesial dengan bawahan saya?" Tanya beliau penuh slidik.
Sakti tersenyum. Ingin rasanya jujur kepada atasan istrinya itu tapi ia terlanjur berjanji.
"Serius ini kalau tidak ada yang spesial saya mau kasih jodoh dengan Adi anak Komisi sepertinya dia naksir Arvi" Jelasnya penuh semangat ingin menjodohkan Arvi. Mata Sakti terbelalak kaget.
"Waduh kenapa istriku dicarikan jodoh. Ini aq suaminya" Batin Sakti menggerutu.
"Terserah anaknya saja" Sahut Sakti tersenyum kecut.
"Pasti saya rasa dia mau. Adi anaknya baik pekerja keras dan bertanggung jawab". Pak Ketua memuji Adi dihadapannya.
"Atau kamu juga ada hati???" Pertanyaan itu menuju ke arahnya lagi. Sakti tersenyum penuh arti.
"Arvi gadis cantik dan pintar banyak pria yang memujanya. Mustahil kalau dia tidak ada pacar". Sakti berkomentar biar Pak Ketua tidak mencarikan jodoh buat Arvila.
__ADS_1
"Itu lagi?? Atau kamu ada pilihan lain" Sela Pak Ketua menggodanya. Sakti masih tersenyum santai menanggapinya.
Akhirnya Sakti menyudahi percakapannya dan meminta ijin untuk kembali ke ruang kerjanya. " Tumben Pak Ketua membahas masalah pribadi di Kantor gak biasanya beliau begitu" Batin Sakti bercerita heran tumben sekali beliau menanyakan masalah pribadinya. Ia ingin berkata jujur tapi ia harus menghormati keinginan istrinya.