AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Dokter Richat Yang Menjengkelkan


__ADS_3

Diruang tunggu bandara


Arvi dengan setia menunggu jadwal penerbangannya ke Jakarta sambil mengisi daya ponselnya. Semula ia ingin mengambil rute Manokwari-Semarang tapi hari itu tidak ada penerbangan terpaksa ia ambil tiket Jakarta langsung. Arvi masih paranoid dengan kejadian semalam. Berulang kali ia menoleh ke belakang bawaannya takut. Takut ada yang mengejar dari belakang.


Sepasang mata mengawasi gerak gerik sikap Arvi yang tidak terlihat fokus. Dia terlihat gelisah dengan wajah pucatnya. Entah kebetulan atau apa tumben-tumben ia tidak mengalami morning sickness. Pria tampan berwibawa itu pernah ia jumpai. Tapi sayang Arvi tidak jeli. Matanya tertutup oleh rasa takut dan kecemasan yang terus menyelimutinya. Hingga pria itu tak sabar ingin mengajaknya berbincang. Memang mereka saling kenal. Bahkan ia teman dekat suaminya.


Hari itu dokter Richat ikut penerbangan pagi dengan rute yang sama Manokwari-Jakarta langsung. Rute sama tujuan Arvi.


"Selamat Pagi. Kepada para penumpang yang terhormat Pesawat Batik Air dengan Nomor Penerbangan XXXX Tujuan Manokwari-Jakarta akan segera berangkat diharapkan para penumpang segera menuju ke Cabin pesawat sebab Pukul 07.00 akan diberangkatkan. Terima kasih atas perhatiannya"


Mendengar informasi tersebut Arvi bergegas mengikuti arahan petugas maskapai yang diikuti para penumpang lain. Arvi melupakan sesuatu yang tak kalah penting.


DiDalam Cabin Pesawat.


Arvi berjalan mencari nomor seatnya. Matanya fokus ke nomor seatnya yang dicari. Arvi belum sadar ada sesuatu yang tertinggal. Ia tidak memperhatikan jika sepasang mata itu terus memperhatikannya. Rupanya dia dapat seat tengah. Walau tidak dekat jendela langsung setidaknya ia bisa menikmati perjalanannya dengan sedikit tenang.


Arvi duduk memperbaiki sandaran kursinya agar lebih terasa nyaman posisinya. Tiba-tiba ia teringat satu benda yang sangat penting dalam hidup di era modern sekarang. Ponsel pintar hadiah dari suaminya. Seketika badannya terasa lemas. Sebab pintu pesawat sudah ditutup pramugari. Rasanya ia ingin menjerit dan menangis sekencang-kencangnya jika tidak ada lagi benda yang tersisa. Semuanya hilang tak tersisa.


"Sial apa aq?" Ucapnya lirih sembari menarik nafas dalam. Butiran bening mulai membasahi pipinya. Bukan soal nilai nominalnya tapi itu hadiah khusus buat dia dari Sakti.


"Ehhemmm!!" Terdengar suara deheman seseorang. Arvi masih tidak menyadari jika orang sebelahnya merasa terganggu atau memberi signal padanya


"Ehhmmmm..ehhmmm!!" Ulangnya berdehem kembali.


Tapi kali ini terdengar lebih kencang dan mengganggu penumpang lain. Menyadari hal itu Arvi menoleh ke sumber suara itu. Matanya terbelalak lebar. Buru-buru ia mengusapnya.

__ADS_1


"Sudah besar masih menangis! Tidak malukah?" Sapanya dengan akrab. Arvi baru menyadari jika laki-laki yang duduk di dekat jendela adalah Richat. Tepatnya dokter Richat teman lama Sakti. Arvi terlihat segan hingga mengusap air matanya.


"Apa kabar dok?" Ucap Arvi menyapanya dengan wajah tertunduk.


"Justru aq yang harus bertanya! Apa kabarmu?" Sahutnya mencoba memperhatikan Arvi dengan seksama tapi Arvi melengos menyika air matanya.


Arvi tersenyum kecut mendengarnya. Cerita tentang suaminya yang menghilang tanpa jejak pasti telah terdengar ditelinganya. "Untuk apa dijawab?"Batinnya bicara sendiri.


Ternyata segala tingkah lakunya dokter Richat perhatikan. Membuat bumil salting saja.


"Tidak mau jawab?"Tanya dokter lagi.


"Haruskah kujawab? jika yang bertanya tahu jika aq sedang tidak baik-baik" Jelasnya menoleh dan Richat tersenyum penuh arti.


"Rasanya aq ingin marah padamu saat ini tapi tidak ada gunanya. Sebab anda tidak jujur. Terlalu beresiko bagi seorang wanita hamil muda bebergian dengan pesawat? Sengaja kamu ingin menggugurkan janin yang ada dirahimmu hanya karena Sakti hilang tanpa jejak" Ucap Richat dengan ketus menyindirnya. Arvi hanya menelan ludah padahal ia tidak dalam keadaan dehidrasi.


"Terlalu sadis caramu. Sebagai teman aq tidak terima jika keturunannya ikut hilang" Lanjutnya menyudutkan tindakan Arvi.


"Bahkan sebelum pergi susah apa kamu periksa dan memberitahukanku?" Gerutu Richat terus memojokkan Arvi.


"Mbak permisi!" Panggil Arvi pada sang pramugari yang masih melakukan check jumlah penumpang. Mendapat panggilan otomatis pramugari cantik itu mendekatinya.


"Selamat pagi nona ada yang bisa saya bantu!" Sapa pramugari cantik itu.


"Pagi mbak. Mbak bisakah saya pindah duduk?" Sahut Arvi terlihat jengkel dan merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Tentu Richat makin jengkel dengan moody bumil yang ada di sampingnya gampang berubah .


"Dia mau bikin apa lagi sih?" Batinnya dongkol.


"Sebelumnya saya meminta maaf selaku crew yang bertugas tidak dapat memenuhi keinginan nona. Sebab sesuai SOP dari maskapai kami tidak dibenarkan merubah seat penumpang. Nona ingin pindah kenapa?" Jelas sang pramugari dengan santun.


"Mbak jangan dengar istri saya dia lagi ngambek" Suara dokter Richat menyaut tanpa diduga. Membuat Arvi membulatkan matanya.


"Oh nona ini istri Bapak ya?" Tanya pramugari itu dengan ramahnya.


"Buk.."Suara Arvi terhenti tangan Richat meraihnya mencoba untuk mengajaknya duduk kembali. Penumpang yang lain mulai memperhatikan aksi mereka.


"Iya Mbak kita pengantin baru. Maklumi saja kalau ada Drakor dikit-dikit diantara kami" Jelas Richat sambil tersenyum meyakinkan pramugari itu.


"Oh baiklah semoga perjalanannya menyenangkan. Sedikit lagi pesawat akan take off. Nona harap bersabar ya. Terima kasih" Ucapnya berlalu kembali ke tempat kursinya sebab mau take off.


Arvi jengkel bukan main dengan sikap dokter Richat yang tanpa permisi mengaku-ngaku jika mereka suami istri pengantin baru. Kenal sekali juga tidak. Yang lebih kenal dekat ya Sakti suaminya. Arvi hanya mengenal dokter Richat saat periksa di Rumah Sakit sebagai dokter kandungan.


Dokter Richat mengerti jika wanita hamil disampingnya sedang marah. Ia tidak mau menoleh ke arahnya sama sekali.


"Kasihan sekali Sakti jika dia ada. Pasti kamu marah-marahin terus" Dokter Richat mencoba mengajaknya ngobrol. Entah akan dapat respon atau tidak dari wanita cantik yang sedang hamil.


"Bukan urusanmu" Jawab Arvi ketus.


"Oh masih marah toh? Jawabnya koq ketus" Bujuk Richat mencoba menguasai keadaan.

__ADS_1


Dalam batinnya" Epenkah dia siapa? Bicara ketus padaku, tapi dia istri Sakti teman baikku? Dia bersikap begitu sebab salahku juga ngaku-ngaku sebagai suaminya. Mungkin ia tidak nyaman atau dia tidak ingin orang lain menggantikan posisi Sakti? Andai aq punya istri yang setia mustahil di umurku yang menginjak kepala empat"


"Selamat pagi para penumpang yang kami hormati Pesawat Batik Air akan take off dari Bandar Udara Rindani menuju Bandar Udara Cengkareng dengan ketinggian sepuluh ribu kaki dengan kecepatan tiga puluh ribu feet harap penumpang mengenakan sabuk pengaman tegakkan sandaran kursi melipat meja" Pramugari memberikan announcement kepada para penumpang. Arvi pun tidak menyimak baik-baik arahan dari pramugari cantik yang membawa alat peraga berupa lifefas berlogo maskapai.


__ADS_2