AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Kerja Bakti


__ADS_3

Menjelang malam udara dingin masih menusuk kulit. Hujan rintik tak kunjung reda. Semenjak sore hingga malam keduanya belum keluar dari kamar. Bibik tidak berani membangunkannya takut mengganggu keduanya.


Sekitar jam delapan malam Arvi keluar dari kamar. Bergegas ia menuju dapur. Buru-buru bibik menghampirinya.


"Mbak Arvi mau makan?" Tanya bibik penuh slidik.


"Belum bik!"Sahutnya mengambil beras yang ada di karung.


"Untuk apa mbak beras bibik sudah masak koq?" Jelas bibik penuh curiga.


"Ini bik saya mau masak bubur" Jawabnya lekas mencuci beras tersebut.


"Loh ada nasi koq masak bubur?" Sela bibik masih kepo.


"Ini pak dokter tidak enak badan makanya saya buatkan bubur"


"Oh!"


"Bik! Ayah sudah pulang belum?" Tanya Arvi menanyakan keberadaan Pak Hartono.


"Iya sampe lupa mbak. Bapak tadi telpon kalau ga bisa pulang. Saya mau bangunkan tapi takut ganggu mbak dan pak dokter. Besok sore baru bapak pulang" Jelas bibik


"Nanti saya telpon ayah bik"Sahut Arvi meyakinkan.


"Mbak biar bibik aja yang kerjakan. Mbak urusi pak dokter aja. Pasti minta ditemani" Ucap bibik mencoba mengambil alih tugasnya.


"Makasih ya bik!" Ucap Arvi pergi meninggalkan bibik di dapur. Ia balik ke kamar mengecek kondisi dokter Richat.


*****


Suasana kentor DPRD


Mungkin teka teki hilangnya Kabag Persidangan yang begitu misterius masih menjadi bahan berita yang sampai sekarang masih jadi tanda tanya.


Hari itu cuaca begitu terik matahari bersinar dengan terangnya. Keringat mengucur dengan deras membasahi baju. Sebab terik matahari begitu panas menembus kulit.

__ADS_1


"Coba ada Pak Kabag Sakti pasti tong dapat traktir nasi Padang ini" Celetuk Rina yang masih teringat akan kebaikan beliau yang suka traktir anak-anak honor kalau dapat rejeki lebih.


"Itu lagi. Tong semua kangen dengan sikap juteknya tapi dia baik. Sayang e Pak Kabag pergi Tara tau kemana" Sahut Firman dengan mengusap keringat dengan sapu tangannya.


"Saya kasihan e sama Arvi dia kecewa sekali itu mana dia lagi hamil itu" Sambung salah satu anak persidangan.


"Dia yang bodoh pergi begitu saja. Tidak bisakah tunggu Pak Kabag lebih lama lagi. Disitulah kesetiaan seorang istri patut dipertanyakan"Seru Firman tapi tiba-tiba tangan Rina mencubit lengannya.


"Macam tahu saja kondisinya" Sela Rina tidak menyukai pernyataan Firman yang terkesan menyudutkan Arvi.


"Mentang-mentang teman kamu belain terus" Sindir Firman menyadari jika Rina jengkel.


"Bukan soal teman Pak Firman Arvi bukan tipe orang yang lari dari masalah pasti ada hal tertentu hingga ia pergi tanpa kasih kabar pada kita. Contohnya Pak Sakti pergi tanpa kabar pasti ada hal buruk yang menimpanya. Secara orang baik pasti banyak yang tidak suka" Jelas Rina penuh semangat.


Pernyataan Rina barusan membuat Adi teresima dibuatnya.


"Ada angin apa sampe kamu bicara gitu" Batin Adi kagum pada Rina.


"Tumben otakmu waras Rin" Seru Theo menyimak serius ucapan Rina.


"Tapi betul juga Rin!! Gara-gara beliau pekerjaan dikantor pun ikut terhambat sebab beliau ahli dibidang tersebut. Jika ada yang ganti pasti dia harus sejajar dengan beliau"


"Semoga dia lekas balik bisa menjalankan tugas seperti biasa" Seru Adi penuh optimis.


"Tapi aq dengar-dengar Pace terlibat kasus penyalahgunaan wewenang dan jabatan rehap kantor ini yang tak kunjung beres"Ucap Firman asal


"Tapi bukan sifat pak Sakti seperti itu" Seru Adi menimpali.


"Eh dari tadi kalian berdua kompak bela Arvi dan Pak Sakti"


"Bukan begitu brother tahu sendirilah Pak Sakti seorang abdi negara yang menjunjung yg tinggi sumpah dan jabatan tidak mungkin ia seperti itu"


"Tapi buktinya sekarang dia lari tanpa jejak?"


"Saya rasa dia ada masalah yang kita tidak tahu pastinya. Masa jalan dinas langsung hilang. Saya justru ada curiga jika beliau di lenyapkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab"

__ADS_1


"Bisa jadi. Gosip-gosip Putri Keuangan marah besar sewaktu tahu jika ia menikahi Arvi" Tutur firman mengaitkan topik tersebut dengan Bu Hanna yang masih memanas.


"Biar saya satu masyarakat me ogah dengannya"


"Eh banyak duit ini!" Sindir Thio


"Biarpun. Bekasnya om-om gitu" Seru Adi seraya jijik.


"Gak yakin aq coba didekati pasti gak nolak"Sindir Rina yang tertawa geli saat Adi berlagak jijik.


"Iyo diakan simpanan Pikal anak mantu Pak Wakil"


"Iyokah?? Up date betul itu infomu?" Ucap Rina penuh kepo.


"Stop sudah bahas Putri Keuangan nanti ribut lagi. Bisa-bisa kena Surat Peringatan" Suara OB Iwan mengagetkan mereka sekatika.


"Bikin kaget saja ini laki-laki Jawa satu. Eh betulkah katanya waktu mas bercanda dengan Pak Sakti ngatain daun setengah kering dia marah Sampai tahan gaji mas?" Tanya Firman meminta konfirmasi pada mas Iwan yang kebetulan ada.


"Ah betul sungguh mati betul itu Pak Sekwan aja tidak di gubris. Untung Pak Sakti bantu saya menyelesaikannya" Seru Iwan mengingat jasanya.


"Malang betul nasibmu mas" Suara Rina mengiba setengah bercanda.


"Tiga bulan gaji saya ditahan. Sekedar mengingatkan kawan jangan sekali-kali bicara tentang dia tahu sendiri akibatnya" Pinta OB Iwan yang trauma terlibat masalah dengan Bu Hanna sang putri keuangan.


"Oh ya mas makasih saran dan nasehatnya" Ucap Firman setengah terkejut mendengar penjelasannya.


"Begitu sudah kalau orang punya kuasa bisa memainkan orang punya keadaan dia tidak takut dosakah"Gerutu Thio penuh amarah yang menyala.


"Stop brother jangan kencang-kencang dinding pun bersuara" Pinta Adi mengingatkan untuk mengurangi volumenya.


"Oh tidak bisa fullgoso ini sudah keterlaluan. Bisanya dia tahan orang punya gaji hanya masalah candaan. Begitu sudah kalau tidak kawin-kawin"Ucap Thio menggelengkan kepala merasa heran juga kaget.


"Ya mau gimana lagi? Pak Sekwan selaku pimpinan tertinggi aja tidak berani menegur atau melakukan pembinaan. Bisa-bisa iris jabatan apa e" Ucap Firman antusias.


"Saya rasa percakapan kita cukup sampai disini takut ada yang memanfaatkan keadaan. Ingat loh kita anak honor bisa-bisa kita iris leher" Suara Adi meminta percakapan mereka hentikan takut ada yang menyampaikan pada Putri Keuangan yang mereka sangat segani. Tidak ada yang berani melawan titahnya. Semua dia libas tanpa ampun.

__ADS_1


"Mereka sedang melaksanakan kerja bakti disekitar kantor. Rutinitas kantor setiap hari Jumat yaitu kerja bakti. Dengan terpaksa mereka menyudahinya walau mereka belum puas dengan percakapan sewaktu kerja bakti siang itu.


__ADS_2