AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Menjadi Suami Istri


__ADS_3

Minggu ini hari kedua mereka menjadi suami istri. Akan tetapi mereka tidak tinggal serumah. Hanya status mereka yang berbeda suami istri. Status Arvi sekarang menjadi Nyonya Sakti Prananda Prasetyo.


Seperti biasa Arvi menjalankan rutinitasnya pagi itu dengan memasak Santi bangun tempo karena harus pergi ke Gereja. Sebab rencananya selesai pulang ibadah ia akan berangkat ke tempat tugas di distrik. Dalam benaknya inilah kesempatan yang bisa ia berikan pada suaminya sewaktu Santi jalan tugas ke distrik. Apa kata orang kantor jika tahu kalau keduanya nikah yang ada dia akan jadi bahan bully menikah dengan pria berumur karena jabatannya. Apalagi kalau bukan demi kenyamanan hidup semata. Pikiran tersebut mulai membayanginya.


Sakti baru ingat kalau ada hal yang lebih penting dari mengerjakan pekerjaan kantornya. Yah ia lupa kalau harus jemput istrinya ditempat kost. Bergegas ia masuk kekamar mandi. Sakti tidak ingin mengecewakan istrinya.


Santi mengemasi barang yang akan menjadi perbekalan selama di distrik tiga Minggu. Arvi pun ikut membantu. Satu sisi ia gembira bisa meluangkan waktu untuk suaminya. Disisi lain ia akan merindukannya. Selama satu tahun lebih Santi sudah banyak berjasa membantunya mencari kerja di pengetikan. Sebetulnya Arvi juga bukan anak yang miskin-miskin amat cuma ia ingin mandiri tidak bergantung pada orang tua dan saudara. Ia bukan anak manja yang segala rupa harus dipenuhi. Walau dia anak bungsu dia berjiwa petualang.


"Say kamu lama di distrik?"


"Heemmmm..".


"Koq gitu?".


"Kenapa?". Santi melirik ke arahnya.


"Tanya gak boleh?"


"Mau tahu atau mau tahu banget" Sahut Santi bercanda.


Arvi mencubit lengannya tertawa.


" Serius deh" Selanya ingin tahu.


"Sama cantik seperti biasanya tiga minggu"


"Entah kenapa aq merasa kita akan jauh"


Santi mengerutan keningnya. Ia berpikir sejenak.


"Ya iyalah jauh kita emang jauh kamu di kota saya di distrik" Serunya riang melanjutkan aktivitasnya.


"Bukan San? Bukan itu. Aq merasa kita akan semakin jauh" Jelasnya.

__ADS_1


Buru-buru Santi menjewer telinganya.


"Iyo karena hati dan pikiranmu tertutup Pak Kabag seorang makanya kita semakin jauh" Lanjut Santi dan Arvi menjulurkan lidahnya mengangguk-angguk mendengarnya.


Akhirnya mereka menyudahinya.


Santi naik ojek seperti biasa ke Pelabuhan rakyat menuju Distrik tempatnya bertugas. Tinggalah dia sendiri ditempat kost. Ada sih tetangga kost sebelah tapi Arvi jarang ngobrol sama mereka.


Motor Sakti mulai masuk kehalaman kost. Sakti bergegas turun menuju tujuannya. Tampak rumah kostnya tertutup.


Sakti mengetuknya. "Tok..Tok..Tok..." Sauara ketukan pintu terdengar. Arvi segera keluar dari kamarnya.


"Ceklek.."


"Loh koq gak hubungi dulu mas?" Sambutnya tersenyum sedikit kaget dan mencium tangan suaminya.


"Coba ucapkan salam selamat siang... Assalammualaikum. Eh tanya kenapa tidak menghubungi? Kamu tunggu siapa sih" Sahut Sakti mengusap kepala istrinya.


Arvi tersenyum cengengesan. Udah ketahuan sifat aslinya. Kepala bermain gumam Sakti dalam benaknya.


"Barusan betangkat mas"


"Oh.. Kalau gitu selama dia distrik kita serumah" Sakti mulai mengajukan permintaan sembari memeluk tubuh istrinya.


"Mas ini pikirannya mesum" Sela Arvi menatap suaminya sambil tersenyum.


"Ih ga pa-pa sama istri sendiri kecuali dengan wanita lain. Kan sudah halal" Serunya mencubit hidung istrinya yang mancung berjidat jenong tapi cantik.


Arvi semakin manja dalam peluknya.


"Jangan disini ah mas gak enak sama terangga" Arvi mengingatkan karena Sakti sudah mulai mencumbunya dengan beringas.


"Biarin kan kamu istriku sudah halal. Kalau ada yang macam-macam tinggal kasih keluar buku nikah" Hardiknya masih memeluk Arvi. Tak mau kalah Arvi mencubit dada Sakti. Cubitan sayang pada suaminya.

__ADS_1


"Masak apa kamu hari ini aq sudah lapar sekali " Sakti bertanya karena sedari pagi ia hanya meneguk secangkir kopi yang dibuatnya sendiri.


"Mas mau makan?" Tanyanya.


"Iya sayang" Sahutnya sembari mencium pipinya.


"Sudah tidak dapat jatah, tidak dibikinkan sarapan masih tanya lagi". Candanya memprotes Arvi. Tapi Arvi membalasnya dengan senyuman.


Tanpa pikir panjang lagi Arvi meladeni suaminya untuk yang pertama kalinya. Kebetulan hari ini Arvi masak Ikan masak kuah kuning pedas. Dengan suasana siang yang terik makanan itu paling cocok dimakan dengan papeda. Makanan khas Papua terbuat dari sagu. Dijamin siapa saja yang makan akan ketagihan dan tidak lupa akan Tanah Papua.


Tapi sayang Santi tidak sempat ke pasar makanya makan dengan nasi. Sakti tidak berkomentar banyak yang ada dipikirannya hanya satu rupanya istriku bisa masak.


Akhirnya Sakti membawa Arvi kerumah untuk sementara waktu. Selama Santi kerja di distrik.


Tibalah dirumah Sakti. Tak mau membuang-buang waktu kedua pengantin baru itu memanfaatkan untuk memadu kasih sebagai suami istri. Apalagi tenaga baru diisi. Arvi hanya bisa pasrah melayani keinginan suaminya. Biar siang bolong Sakti hajar saja walau penuh mandi keringat. Dalam benak Sakti "kenapa kenikmatan surga dunia ini tidak ia rasakan sedari dulu? Kenapa baru sekarang bertemu istrinya" Arvi menikmati kemesraan mereka berdua. Karena capek bergumul melampiaskan hasrat suami istri yang tertahan semalam akhirnya mereka ketiduran.


Sore harinya badan Arvi terasa capek sekali. Ia tersenyum sendiri mengingat aksi mereka yang begitu membara disiang hari. Sampai badannya terasa sakit semua. Arvi terbangun dari tidurnya Sakti tidak terlihat lagi disampingnya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang loyo sehabis bertempur dengan suaminya diranjang. Tak lupa ia menyiram rambutnya yang sebahu dan memakaikannya shampo. Begitu keluar kamar mandi Arvi memunguti pakean mereka yang terhambur berserakan. Cepat-cepat ia memakai baju dan keluar mencari suami tercinta.


Rambutnya yang basah sehabis mandi membuatnya tambah segar dan enak dipandang. Arvi berjalan mencari Sakti ke semua ruangan rumah. Indra penglihatannya tertuju pada dapur. Rupanya Pak Kabag ada didapur membuat kopi. Minuman kesukaannya. Mendengar langkah kaki mendekat Sakti menoleh. Senyum kebahagian terpancar diwajah keduanya. Melihat istrinya yang cantik dengan rambut basah tanpa dikomando Sakti mendekat dan memeluknya. Ciuman dan cumbuan memborbardirnya tiada hentinya. Arvi kewalahan nafasnya memburu tersengal-sengal hampir kehabisan nafas mendapat ciuman mesra dari Sakti. Sakti menghentikan aksinya tersenyum puas memiliki Arvi seutuhnya tanpa ada batas.


"Bulan depan mas mau ambil cuti kita ke Semarang ya? Sekalian mas ingin ketemu mereka menyelesaikannya" Tuturnya mengusap wajah istrinya yang tersipu malu.


Arvi mengangkat kedua bahunya seraya menyerahkan sepenuhnya pada suaminya.


"Dek koq kayak kamu gak seneng dengan ideku" Lanjutnya.


"Siapa bilang gak seneng jangan bahas itu mas sekarang aq lapar" Serunya bergelayut manja.


" Siap tuan putri kita cari makan yuk mas juga lapar" Tambah Sakti.


"Ga ada bahankah mas yang bisa diolah?" Potong Arvi bertanya.


"Coba kamu cek dikulkas dan lemari dek. Mas belum sempat belanja" Sakti menjelaskan.

__ADS_1


"Okey "Arvi tersenyum bergegas memeriksa bahan yang ada di Kulkas. Rupanya yang ada mie instan dan telur.


__ADS_2