
Suasana di lobby hotel rekan kerja Arvi tampak asyik bercengkrama menunggu kehadirannya.Tidak berapa lama Arvi menghampiri mereka.
Tanpa rasa curiga sedikit pun Arvi duduk santai ikut nimbrung bersama rekan kerjanya. Sepasang mata telah mengikutinya dari belakang. Sontak Arvi terkejut ketika suara itu meminta ijin untuk bergabung. Yah Sakti ingin bergabung dengan rekan kerjanya. Tampak sekali Sakti bersandiwara agar tetap dekat dengan Arvi. ia tak ingin melepas Arvi lagi. Ia sudah rasakan betapa menderitanya jauh dari orang tercinta
"Selamat malam bisa ikut bergabung!" Suara Sakti menghentikan canda tawa mereka.
"Malam!!" Suara rekan kerja Arvi serentak menyaut bak paduan suara pada upacara sekolah tiap hari Senin.
Mereka saling menatap satu sama lain sebab mereka tidak saling kenal kecuali Arvi. Melihat Sakti ikut nimbrung perasaan Arvi jadi gak enak. Rasa gugup mulai menghinggapinya. Melihat Sakti begitu santauy duduk ditengah rekan kerja Arvi.
"Maaf Pak dari daerah mana?" Tanya salah satu rekan Arvi.
"Dari Papua"
"Wah jauh sekali!"
"Eh suami temanku ini orang dari sana loh!"
"Iya dokter Richat kenal tidak?"
jleb
Diluar ekspektasi Arvi rupanya rekan Arvi tertarik dengan Sakti begitu menyebut asal muasal daerahnya. Hingga membuat Arvi mau copot jantungnya.
"Papua sangat luas Bu. Luasnya delapan kali pulau Jawa. Kemungkinan kenal sangat kecil karena luasnya wilayah. Kecuali jika tinggal satu kota pasti kenal" Jelas Sakti dengan percaya diri tinggi. Sengaja ia ingin mengerjai istri cantiknya itu. Arvi hampir mau bangkit dan berlari menjauh tapi ia tidak bisa menghindar.
"Coba ceritakan tentang Papua saya tertarik ingin kesana" Seru rekan kerja Arvi tampak senang dengan penjelasan Sakti barusan.
Tapi dari raut wajah Arvi tampak begitu risau. "Aq balik ke kamar dulu ya capek ingin istirahat"Celetuk Arvi ingin menghindar dari Sakti.
"Eh tunggu dulu kamu tidak ingin kenal dengan beliau jauh-jauh dari Papua gak ada salahnya kita ngobrol kapan lagi mumpung ketemu" Sergahnya meminta untuk tetap ikut nimbrung.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu kangen dengan suamimu?" Goda temannya meledek Arvi. Sakti melirik ke arah Arvi yang terlihat salah tingkah. Ia nampak gelisah. Arvi takut jika Sakti membuka kartunya di hadapan rekan kerjanya.
"Kamu takut sekali dengan dokter Richat nanti aq kasih tahu jika kamu aman bersama kami tidak ada yang ganggu"Sindir rekan kerjanya lagi.
"Maaf ya Pak jika rekan kerjaku ini pemalu jika belum kenal anda" Celetuk teman Arvi seakan mempromosikannya pada Sakti. Sakti hanya tersenyum penuh arti hingga Arvi tidak tahan dengan tatapannya.
"Oh ya Pak namanya siapa?" Tanya rekan kerja Arvi mengulurkan tangan.
"Kenalkan nama saya Prananda Sakti Prasetyo panggil saja Sakti"Sebutnya dengan percaya diri menyalami rekan kerja Arvi.
"Mita"
"Rio"
"Danuarta"
"Koq namanya mirip anaknya Arvi" Suara Mita mengingat nama Sakti barusan.
"Jika anak itu darah daging Richat mana mungkin dia merelakan namaku tersemat untuknya pasti memakai namanya"Batin Sakti tanpa berani mengungkapkannya di hadapan rekan kerja Arvi.
"Iyakan nama Junior mirip dengan Bapak ini Prananda Sakti Junior"Jelas Rio tanpa curiga los begitu saja menyebut nama Junior dengan hafal di luar kepala tentu membuat Arvi klimpungan. Wajahnya tampak pucat. Sakti hafal tabiat sang istri jika ia sedang berpura-pura mereka tidak saling kenal.
"Apalah arti sebuah nama? Mungkin hanya mirip" Jelas Sakti penuh rasa curiga. Ia mencoba menenangkan Arvi yang gelisah sedari tadi.
Arvi hanya tersenyum tak tahu mau bilang apa jika rekan kerja yang ia harap bisa tutup mulut nyatanya mereka sangat ember.
"Jika diberi kesempatan aq ingin bertemu anaknya ibu ini. Oh ya kita belum saling kenal" Sakti mengulurkan tangan bersandiwara padahal mereka sudah tidur seranjang pake acara tidak kenal. Sebetulnya Arvi enggan meladeni Sakti tapi ia tak enak hati.
Mau tidak mau ia ikuti alur permainan Sakti. Keduanya saling berjabat tangan dengan ekspresi wajah yang datar. Tidak ada rasa curiga jika kedua ingsan itu suami istri yang terpisah selama tujuh tahun lamanya.
*****
__ADS_1
Di Semarang.
Dokter Richat dengan telaten mengurus Junior seperti anak sendiri. Malam ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya jika Arvi ke luar kota Junior tidur bersamanya. Jika sudah balik otomatis Junior sekamar dengan mommy nya.
"Deddy apa tidak kangen dengan Mommy" Celetuk Junior membuat hati Richat miris bukan main.
"Kangen. Tumben Junior tanya Deddy itu?" Sela dokter Richat memeluk anak sambung yang sangat ia sayangi itu.
"Habis Deddy jarang bicara dengan mommy"
"Sayang tidak harus ditunjukkan dong" Kilah dokter Richat masih dengan posisi memeluk Junior.
"Tapi Deddy sayang mommy?"Tanya Junior dengan polosnya. Ia juga anak yang kepo pingin tahu isi hati Deddy nya.
dokter Richat tertawa getir sang anak mulai mengerti jika hubungan keduanya hanya terlihat baik di luar.
"Tentu Deddy sayang mommy. Kalau tidak sayang mommy koq bisa ada Junior"Jelas dokter Richat sekenanya sebab ia tahu lambat laun Junior akan tahu seperti apa hubungan mereka.
"Junior sudah besar pingin punya adek kayak Junior biar ada teman main bola, maen perang-perangan. Rumah pasti tambah rame deddy" Ucapan Junior yang polos begitu menyayat hatinya.
"Siapa yang ajar Junior minta adek jika mommy nya sepertinya tidak mungkin"Batin Richat tertawa perih. Dengan polisnya anak itu meminta adek. Sejenak ia tertegun mengingat hubungan rumah tangganya dengan Arvi yang begitu dingin.
"Nanti kalau mommy datang baru minta"Seru dokter Richat asal agar anak itu tidak bertanya aneh-aneh.
"Betul e Deddy janji tidak bohong"Seru Junior dengan mata berbinar penuh pengharapan.
Dokter Richat hanya mengangguk mengiyakan saja padahal itu adalah permintaan yang paling berat. Dokter Richat sadar diri sosok Sakti tidak bisa tergantikan di hati Arvi.
"Ayo sayang bobo besok sekolah"Bujuknya mencium kening Junior agar segera tidur. Ayah dan anak itu pun tertidur dengan pulasnya. Apalagi seharian kerja tentu membuatnya capek.
Belum lagi aksi Junior yang begitu aktif meminta ini itu pada Deddy nya. Terkadang Richat takut kehilangan Junior. Anak itu bagai penerang hatinya yang selalu sepi tidak terjamah. Hanya Junior yang mampu membuatnya tertawa dari rutinitas hariannya selama ini.
__ADS_1