
DiRumah Sakit.
Dokter Richat membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan observasi tentang kondisi istrinya saat ini. Dari hasil pemeriksaan jika istrinya sedang mengalami pendarahan. Dia harus betres agar bayinya tetap sehat dan selamat.
"Untung kamu segera membawanya kerumah sakit lambat sedikit bisa-bisa tidak tertolong"
"Dia harus banyak istirahat kurangi aktivitas yang gak penting dan jangan banyak pikiran itu mempengaruhi mental sang ibu" Lanjut sang dokter yang menangani Arvi.
"Susah dibilangin gak mau diam" Ucap dokter Richat
"Dia harus rawat inap barang dua atau tiga hari"
"Dok itu terlalu lama. Aq mau dirumah saja" Pekik Arvi tidak mau
"Dia minta di rawat dirumah saja takut dengan jarum suntik" Sindir dokter Richat pada Arvi.
"Wah istri dokter koq takut jarum suntik?" Ucap sang dokter setengah terkejut dengan ucapan dokter Richat barusan.
"Iya ini dok! Biar sudah dia kurawat dirumah. Biar seminggu sekali kontrol kemari" Ucap dokter Richat tak ingin Arvi tersiksa mencium bau obat rumah sakit. Tentu ia ingin yang terbaik buat istrinya.
"Tapi janji harus ikuti semua nasehat suamimu. okey" Lanjut dokter mengingatkan Arvi untuk selalu mendengar nasehat suaminya.
"Sip dok!" Sahut Arvi penuh bahagia jika dia diperbolehkan pulang.
Atas saran dokter yang memeriksanya ia harus rawat inap tapi Arvi menolaknya. Ia tidak tahan dengan bau obat dirumah sakit. Semula dokter Richat menyetujuinya tapi Arvi merengek minta pulang.
Dari peristiwa itu bisa terlihat dengan jelas jika dokter Richat begitu perhatian pada istrinya. Ia sangat menyayanginya. Entah sejak kapan ia juga tidak tahu.
Sengaja dokter Richat tidak memberi kabar Pak Hartono ia tidak ingin mertuanya kepikiran soal keadaan istrinya saat ini. Sebab sewaktu mereka berdua ke rumah sakit. Pak Hartono belum bangun.
******
Di Perjalanan pulang menuju rumah. Arvi tampak murung pikirannya menerawang.jauh memikirkan Sakti yang tiada kabar.
Entah berapa kali ia mengusap perutnya dengan lembut. Seakan ia ingin mengadu pada janin yang dikandungnya. Dokter Richat melirik memperhatikan aktivitas bumil yang terus-terusan mengelus perutnya. Ia tampak berpikir berat.
"Ehhhmmm" Dokter Richat berdehem mengingatkan Arvi jika ada orang lain selain dirinya.
__ADS_1
"Dokter kita cari es cream ya" Suara Arvi meminta dibelikan es cream.
"Tapi janji tidak usah turun biar aq yang belikan" Jawab dokter dengan memberi syarat untuk tidak turun dari mobil.
"Okey aq setuju.Terima kasih" Sahut Arvi setuju sambil melempar senyum ke arah dokter.
"Tetaplah tersenyum walau kau tidak menyukaiku" Ucap dokter Richat tiba-tiba hingga membuatnya memalingkan wajahnya ke arah dokter Richat.
"Apa maksud dokter? Aq tidak mengerti" Seru Arvi mencoba mencerna perkataan dokter Richat.
"Lupakan! Anggap aq tak pernah bicara" Ucap dokter Richat mencoba meralat ucapannya tadi.
Dari raut muka Arvi terlihat ia tidak menyukai kata-katanya.
"Stop!!! Aq mohon hentikan mobilnya!!" Pekik Arvi meminta dokter untuk menghentikan laju mobil.
"Aq bilang stop ya stop!! Jika tidak aq akan keluar dari mobil!!!" Hardik Arvi ingin membuka pintu mobil.
"Tenanglah kita akan menepi kumohon jangan buka pintu. Ingat ada anak yang kau kandung" Bujuk dokter Richat mencoba sebisa mungkin untuk membuat bumil tidak nekat membuka pintu mobil. Sebab jika ia berhenti sembarangan bisa-bisa dari arah belakang menabrak mobil mereka.
Tanpa pikir panjang dokter Richat mencoba menepikan mobilnya. Sambil melihat situasi. Berharap bumil tidak ngamuk. Jika ia berhenti mendadak tentu membahayakan keselamatan mereka terutama bumil.
"Kita cerai saja" Suara Arvi pelan.
"Whattt???"
"Dengar Arvi sampai kapan pun aq tidak akan menceraikanmu! Titik " Lanjutnya meraih tangan Arvi untuk meyakinkannya.
"Kamu egois"
"Biar memang itu sifatku. Aq hanya mempertahankan apa yang seharusnya kulakukan. Bukan membuangnya begitu saja" Jelas dokter Richat.
"Lepaskan!" Pinta Arvi yang tidak suka tangannya di sentuh.
"Aq tidak akan melepaskanmu kamu istriku! Ingat itu!" Jelas dokter Richat penuh penekanan. Matanya menatap tajam ke arah Arvi.
"Kamu melanggar kesepakatan kita!" Protesnya tak mau kalah.
__ADS_1
"Apa yang kulanggar? Membiarkanmu lari? Arvi kamu istriku aq berhak untuk menyentuhmu itu tidak dilarang" Jelasnya panjang lebar sambil menyindirnya.
"Kesepakatan kita?" Ucap Arvi ketus mengingatkan akan kesepakatan yang telah mereka buat.
"Itu hanya lisan bukan tertulis tidak ada saksi dan bukti"
"Kamu ingkar!" Bentaknya mencoba melepaskan cengkraman tangannya yang kuat.
"Arvi tolong dengarkan jangan kayak anak kecil!! Kamu marah-marah gak jelas"
"Apa aq yang gak jelas? Dengar dokter dari awal aq katakan jangan lakukan tapi apa anda bersikeras. Sekarang anda menuntut hak anda. Bukankah kita sudah buat kesepakatan. Dan perlu anda ingat dokter aq tidak butuh belas kasihanmu. Anak ini punya ayah jadi anda tidak perlu repot-repot aq bisa urusi sendiri!" Ucapnya penuh penekanan. Ia langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
Perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya. Ia berusaha untuk selunak mungkin menghadapinya.
"Pernikahan ini salah jadi kita akhiri saja" Lanjutnya dengan lirih. Entah kapan datangnya air matanya mengguyur dengan deras. Tentu membuat dokter Richat semakin merasa bersalah.
"Arvi..Arvi!" Panggilnya.
Arvi menoleh. Buru-buru ia mengelap air mata yang membanjiri pipinya. Tanpa diduga dokter Richat menarik bahunya mendekapnya dengan erat.
"Menangis lah jika itu membuatmu lega. Katakan apa yang ingin kau ucapkan! Tapi satu pintaku jangan kau ulangi kata cerai itu menyakitkan buatku" Ucapnya disela-sela Isak tangis arvi yang terisak-isak. Dengan jelas dan lugasnya dokter Richat tidak menyukai kata cerai.
"Aq tahu kamu membenciku. Sebagai laki-laki akan kupegang teguh janjiku padamu. Jangan kau ragukan itu. Pantang untukku mengingkarinya" Bujuknya penuh keyakinan.
Memeluknya seperti ini membuat dokter Richat sangat tersiksa. Tersiksa akan perasaan hatinya yang menggebu-gebu. Entah mengapa ia memberanikan diri ingin memeluk wanita yang sudah menjadi mukrimnya.
Dalam hukum agama dan negara tidak ada yang melarang. Akan terapi mereka sendiri yang menyepakati perjanjian yang telah dibuat. Padahal mereka melanggar sendiri. Buktinya mereka bersentuhan bahkan mereka saling berdekatan tidak ada jarak.
"Oh Tuhan tersiksanya aq" Bisiknya dalam hati. " Aq tak tahan berlama-lama seperti ini. Rasanya ku ingin selamanya mendekapnya setiap waktu. Tanpa harus jaga jarak. Aq mulai menyukai wanita ini" Bisiknya menahan hatinya.
"Maaf tidak seharusnya kita begini" Ucap Arvi lirih menjauh darinya. Ia mengingatkan akan kesepakatan mereka semula. Ia tertunduk tanpa menatapnya. Dengan cepat Dokter Richat pun menjauh dan memperbaiki duduknya. Ia fokus ke depan.
"Ayo kita belanja es cream!" Suaranya mencairkan suasana yang kaku. Lalu ia melanjutkan perjalanan pulang kerumah sambil mampir ke toko untuk membeli es cream.
Arvi hanya mengangguk tanpa berani menatap suaminya. Entahlah ia takut menatap dokter ganteng itu. Ia takut kejadian dengan Sakti akan terulang lagi.
Perasaan akan suka dengan istri temannya Sakti tidak ia pungkiri. Dari pertama kali ia bertemu Arvi. Ia menyukai gadis cantik itu. Makin kaget lagi jika itu istri Sakti.
__ADS_1
"Maafkan aq kawan jika menyukai istrimu!" Bisiknya dalam hati.