AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Gaji Iwan Di Bayarkan


__ADS_3

Rencana kerja ke Manokwari untuk membawa sang istri ketemu Ibunya gagal total. Sakti tidak ingin membawa sang istri ke Manokwari dalam keadaan sakit sebab frekuensi muntah sang istri yang berlebih. Kondisinya tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Mengingat jarak tempuh yang begitu jauh. Jika naik pesawat kehamilannya bisa berakibat fatal. Dengan berat hati ia urungkan. Ia takut jika sang istri mengalami keguguran.


Siang hari suasana kantor.


Sakti tampak sibuk mempersiapkan apa saja yang akan dibutuhkan dalam kegiatan tersebut. Penuh dengan cekatan ia kerjakan di bantu rekan kerjanya yang ada di persidangan.


Beberapa kali temannya menanyakan keberadaan Arvi. Dengan penuh bijak Sakti membenarkan kabar tersebut.


"Bapak Kabag betulkah itu kabar?" Tanya salah satu staf dengan memperatikan mimik Sakti.


"Kabar apa?"


"Kabar soal pernikahan Pak Kabag?"


Sakti tersenyum mendengarnya.


"Sudah hamil lagi. Ada lagi pertanyaan tanyakan sudah mumpung aq ada disini"


"Serius pak?"


"Kapan saya main-main?"


"Wah beneran toh berita itu. Selamat ya pak" Sela rekan kerjanya.


"Telat udah ada tiga bulan yang lalu"


"Haa??? Memang Pak Kabag ga mau ngundang-ngundang kita"


"Bagaimana mau ngundang hanya ijab qobul di depan penghulu dan keluarga saja" Jelasnya tampak santai.


"Mas lalu gimana dengan Bu Hanna?" Tanyanya terhenti ketika salah satu rekan kerjanya mengedipkan mata memberi kode.


"Stop sudah tanya aneh-aneh"


"Habis Bu Hanna serang-serang Arvi terus itu Pak"


"Kamu juga stop kompor bleduk jangan bikin panas-panas lagi"


"Apaan sih kan kita tanya langsung" Protesnya lagi.


"Jiii langsung kalau ada ibu Hanna boleh"


"Perlukah konfrensi pers?" Suara Sakti mencoba menengahi keduanya.


"Bercanda saja bapak" Selanya


"Kayaknya perlu deh pak kan bagian dari sosialita" Sahutnya membuat mereka pecah ketawa.


Siang itu Sakti ada keperluan dengan Kabag Keuangan. Ia punya inisiatif untuk ketemu Bu Hanna kebetulan dia ada di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Selamat siang. Bu Hanna bisa saya masuk?"


"Mari Pak Kabag silahkan masuk. Tumben perlu apakah? Sepertinya penting sekali"


"Bu saya ke sini ada urusan dikit semoga tidak mengganggu kerja Bu Hanna"


"Mari Pak Kabag soal apa? Siapa tahu bisa bantu"


"Ini Mas Iwan ada minta tolong soal gajinya"


"Ohh.. Saya kira apa?"


"Maksudnya?"


"Pak Sakti Prananda Prasetyo laki-laki yang egois maunya menang sendiri"


"Bu Hanna jangan kedepankan ego pribadi. saya rasa percakapan kita kemarin sudah cukup jangan diperlebar atau pun diperuncing. Ini masalah kantor bukan urusan pribadi"


"Lalu apa hubungannya dengan semua ini? Apa mas??"


"Bu Hanna berpikirlah yang rasional kasihan kamu tahan Iwan punya hak gara-gara masalah candaan itu? Bu Hanna harus bisa memilah-milah persoalan jangan mencampur adukkan masalah ini ke kantor"


"Rupanya Iwan lebih penting dari aq??"


"Maksud ibu??"


"Tidak jelaskah semua sikap dan tindakanku mas?"


"Kamu terlalu munafik mas hanya memikirkan orang lain tidak memikirkan perasaanku"


"Saya hanya mau urus masalah gaji Iwan tidak lebih"


"Kamu hanya bisa baik dengan orang lain tapi tidak untukku"


"Berapa kali harus kubilang kalau aq menganggapmu adek tidak lebih. Sekarang aq telah membina rumah tangga tolong hargai keputusanku"


"Sampai kapan pun aq tidak terima dengan penjelasanmu itu. Mas gak tahu rasanya sakit hati"


"Aq mohon Bu Hanna hentikan pertkaian yang ga penting ini. Kamu masih muda masih punya kesempatan. Buka hati untuk pria lain"


"Jahatnya kamu mas" Suara Bu Hanna mulai terasa berat terisak tangis.


"Maaf kalau aq menyakitimu. Aq hanya menggapmu sebatas patner kerja saja tidak lebih"


Suara Sakti mencoba meminta maaf. Tapi Bu Hanna tetap dengan pendiriannya. Sakti balik heran begitu kerasnya pendirian Bu Hanna.


"Apa bedanya aq dan Arvi dimatamu? Ia jauh lebih muda dan cantik sehingga mas memilihnya. Mas hanya dimanfaatkan anak baru itu" Ungkit Bu Hanna masih cari ribut.


"Jangan mengada-ada Bu Hanna sudah cukup saya tidak ingin berdebat lagi. Kesabaran saya ada batasnya. Istriku sedang hamil momen yang sudah kunantikan tolong jangan rusak kebahagian kami dengan ego Bu Hanna yang ga jelas. Maaf permisi" Sakti pamit undur diri.

__ADS_1


"Ingat mas saya akan buat perhitungan dengan sampeyan. Kalau saya tidak bisa memiliki jangan harap dia juga bisa memilikimu" Ancamnya bernada serius. Hingga benda apa saja yang dimeja kerjanya dilemparnya.


Sakti berjalan mendengar segala umpatan yang dikeluarkan Bu Hanna. Ia hanya mengelus dada. Ia tak menggubris segala umpatan dan ancamannya.


Sebetulnya ia malu harus ribut. Bagi Sakti hanya sebatas rekan kerja tidak lebih. Kalau selama ini ia baik dan care karena usia mereka yang terpaut jauh. Gak ada salahnya dia dekat, rupanya kebaikannya selama ini di salah artikan Bu Hanna.


Tidak sia-sia ribut dengan Bu Hanna. Gaji Mas Iwan di bayarkan.


"Mas Sakti makasih ya akhirnya dibayarkan saya punya gaji tiga bulan" Suara Iwan seakan berat menahan tangis haru.


"Oh syukur kalau sudah di bayar"


"Mas ini buat uang rokok" OB Iwan memberikan beberapa lembar uang untuk Sakti.


Sakti tersenyum kecil sembari geleng-geleng kepala.


"Aq sudah membantumu itu tak perlu" Ucapnya menolak


"Tapi mas sesuai perjanjian" Sela Mas Iwan tampak serius.


"Maksud loh???"


"Saya gak mau mengingkari mas takut dosa"


"Haaaa...Salut buat mas Iwan masih ada rasa takut dosa. Kalau mas mau ngasih saya semuanya jangan nanggung" Goda Sakti tersenyum menggodanya.


"Waduh entek mas gajiku. Arep kei opo anak bojoku mengko"


(Waduh habis mas gajiku. Mau dikasih apa anak istriku nanti). Celetuk Mas Iwan memakai bahasa Jawa medoknya.


"Ha ha ha. Main saja mas biar ga stress. Lain kali kalau gitu kasih tahu gak sampe tiga bulan begini kasihan kan anak istri dirumah" Sakti mencoba menasehatinya.


"Itu lagi mas. Saya sudah menghadap beliau dikantor juga di rumah tapi tidak ada respon. Bahkan Pak Sekwan juga gak ada hasil. Saya sudah meminta maaf mas tapi Bu Hanna ga peduli" Jelas Mas Iwan menceritakan langkah apa saja yang telah ia lakukan.


"Buat pelajaran kedepan mas"


"Mas punya magnet apa toh koq bisa luluhkan hati Bu Hanna?"


"Mau tahu?"


Dengan semangat Mas Iwan mendekatkan telinganya ke arah Sakti.


Lalu Sakti berbisik pelan.


"Pake ajian Semar mesem mas" Suara Sakti setengah berbisik diikuti tawanya


"Mas Sakti bercanda melulu? serius ini mas"


"Ya itu kayak di lagu Nella Kharisma itu Semar Mesem" Ucapnya penuh canda tawa.

__ADS_1


"Itukan lagu mas? Mbak Arvi yang cantik aja bisa klepek-klepek itu jatuh ditangan mas Sakti"


__ADS_2