AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Sakti Kangen Sang Istri


__ADS_3

Begitu masuk kamar Sakti menarik nafas panjang. Rasa ngantuk itu hilang seketika akibat ulah anak buahnya barusan. Pandangannya teralihkan di ponselnya. Sakti meraih ponsel dan mencoba menghubungi sang istri.


Hanya itu yang ada diotaknya sekarang. Ia ingin menuangkan keluh resahnya pada sang istri. Hanya dia satu-satunya orang yang mau mengerti keadaannya. Walau usianya terpaut lima belas tahun Arvi terbilang wanita yang pengertian dan sabar. Itu yang membuat Sakti jatuh hati padanya. Orangnya gak neko-neko. Walau terkadang ada sifat manja dan kekanak-kanakan tapi Arvi mampu meluluhkan hati dan pikirannya.


Rupanya panggilannya terhubung. Suara yang ia rindukan menyaut dari sebrang.


"Assalamualaikum" Sahut Arvi mengangkat ponselnya. Terdengar dengan jelas suara sang istri yang baru menangis.


"Waalaikum Salam Dek. Loh koq diangkat? kamu gak tidur dek? Kenapa menangis" Tanya Sakti mengintrogasi sang pujaan hatinya.


"Kenapa mas telpon jam begini?" Tanya balik Arvi tersenyum dari sebrang sana.


Arvi mencoba mengalihkan pertanyaan suami. Sakti sadar jika sang istri mencoba menutupi kesedihan hatinya. Sakti tahu sang istri tak ingin terlihat sedih.


"Iyo e mas yang salah ganggu istirahatmu! Kamu tidak apa-apa dek?" Tanya sang suami penuh rasa kawatir dengan keadaan Arvi yang lagi hamil trimester awal. Kangen yang memburu terasa diantara mereka. Seharian dari kemarin mereka tidak bertanya kabar.


"Justru saya yang ingin bertanya kepada mas kenapa telpon jam begini? Ada apa?" Tanya sang istri curiga.


Sakti menarik nafas berat dan dibuangnya perlahan lahan.


"Kamu habis menangis dek? Suaramu terdengar parau?" Tanya Sakti ulang perasaan sedih menggelayuti hatinya.


"Maafin mas ya ninggalin kamu karena pekerjaan. Mas janji kalau balik akan mengganti waktu yang terhutang ini. Apa yang kamu mau dan suruh mas akan turuti" Lanjutnya lagi penuh semangat memohon pada sang istri.


"Aq habis sholat malam mas" Sahut Arvi dengan lembut menjelaskan.


"Maaf belum bisa bahagiakan kamu" Sela Sakti meminta maaf pada sang istri. Dari nada bicaranya Sakti begitu tulus meminta maaf.


"Mas aq sholat untuk kita bertiga semoga kita di beri kesehatan selalu" Sahut Arvi tak ingin suaminya meminta maaf terus.


"Aq kangen kalian berdua! Kamu gak kangen aq dek?" Tutur Sakti.


"Gombal juga ini suamiku" Potong Arvi mendengar Sakti mengeluh jika ia kangen dengan dirinya. "Jika kamu bertanya berarti kamu ragu dengan pernikahan ini mas?"


"Ha ha haaa. Serius dek aq memang kangen dengan kalian" Jelas Sakti lagi.


"Aku mencintaimu selalu untuk selamanya" Lanjutnya dengan tegas.

__ADS_1


"Stop merayuku dengan kata-kata manis mu itu"Serang sang istri mengganggu suaminya.


"Kamu tidak percaya dek dengan mas?" Sakti mulai agak sedikit goyah dengan sindiran sang istri.


"Kumohon percaya padaku. Mas akan buktikan kalau hanya kamu berdua yang ada di hati dan pikiran mas tambah satu lagi mamaku" Lanjut Sakti meyakinkan sang istri.


Arvi tertawa geli mendengar rayuan sang suami. Biar kepepet tetap dia ingat mamanya.


"Apa yang membuatmu menarik dimataku? Sudah tua, rambut putih banyak gaya super pede sok banyak duit" Omel sang istri tidak mampu menahan tawanya.


"Biar toh tapi banyak penggemar. Tapi koq kamu mau dek dengan aq yang sudah tua ini?" Sahut Sakti dengan pedenya mendengar Omelan istrinya dari telpon. Ia tahu sang istri bercanda.


"Kepepet aja gak ada pilihan. Coba ada pilihan yang lain. Sungguh mati kamu sangat over pede mas menyesal aq nikah denganmu" Tambahnya lagi membuat Sakti makin terpojok dengan penjelasan Arvi.


"Kamu tidak serius toh dek?" Sakti tiba-tiba meradang dan minder akan ucapan sang istri. Rasa takut mulai menghantuinya.


"Jangan-jangan apa yang dibilang istriku serius ini? Wah gawat kalau gini" Batin Sakti bicara sendiri.


Arvi tertawa jika sang suami mulai kalut dengan pernyataannya.


"Berarti mas meragukan keputusan kita menikah?" Ucapnya lagi menggoda.


Arvi tahu maksud suaminya.


"Tidak ada yang ingin meninggalkanmu. Kecuali mas yang ingin jauh dari kami"Potong Sang istri.


"Aduh omongannya kenapa lari kesini?" Protes Sakti takut sang istri marah tapi Arvi palah tertawa.


"Mas takut jika aq pergi?" Tanya Arvi tiba-tiba mendengar kepanikan sang suami.


"Iyalah siapa yang tidak takut jika ditinggal pergi istri dan anak"


"Sudah jangan bicara ingin pergi! Mas tidak mau jauh dari kamu dan calon anak kita. Selamanya kita bersama mau senang atau susah. Mas sangat mencintaimu? Apakah kamu juga mencintaiku?"


"Haruskah kujawab?" Tanya Arvi balik.


"Iyalah Karena buat mas cinta butuh kepastian"

__ADS_1


"Apa gunanya pernikahan kita? Tidakkah itu cukup bukti?" Protes Arvi pada Sakti. "Percuma diucapkan kalau itu menyakitkan"


"Iya sayang. Mas tahu kalian adalah anugerah yang terindah yang mas miliki. Sampai kapan pun tidak akan tergantikan yang lain"


" Yo rayu terus" Sindir sang istri hingga membuat Sakti tertawa dengan senangnya rupanya sang istri tidak suka dirayu.


"Mas tadi mau bilang apa? Kebanyakan ngegombal sampai lupa?"


"Ini mereka pada mabuk bikin ribut di Hotel" Jelas Sakti.


"Tapi mas tidak kenapa-kenapa?" Tanya sang istri panik.


"Dorang gedor pintu minta uang untuk pake minum. Ya mas tolaklah lagian sudah jam dua waktu istirahat tentu mengganggu penghuni hotel yang lain"


"Oh saya kira mas ikut mabuk?"


"Dulu boleh dek sekarang sudah tua sudah insyaf" Goda Sakti tersenyum.


"Ada harus mereka minta uang untuk minum rupanya suamiku juga peminum juga. Baru kutahu" Tutur Arvi menyindir sang suami.


"Itu dulu dek biar mas minum tapi gak sampe mabuk" Jelasnya membela diri.


"Iyo tidak pernah absen mabuk" Serang istrinya lagi.


"Koq kamu menyudutkan ku dek?" Potong Sakti memprotes.


"Mas gak sadar? Mas kan Kabag di bagian situ jadi harus mampu menjadi leader buat bawahan bukan ngajari mabuk" Serang istrinya gak mau kalah.


"Tapi aq sudah insyaf dek gak coba-coba lagi dengan minuman beralkohol"


"Baguslah kalau sadar. Mas gak malu jika Raperda tentang peredaran miras hanya cuma di buat dan di susun di atas kertas semata sedang implementasinya gak ada? Itu namanya buang-buang uang negara. Sedangkan biaya operasional pemerintah berasal dari uang rakyat melalui sumber pajak. Sebagai ASN mas harus berperan aktif melaksanakan Perda yang di buat dong" Protes Arvi panjang lebar di telpon. Membuat telinganya terasa panas.


"Iya istriku yang cantik dan pintar jangan marah-marah"


"Sudah jam empat pagi mas lebih baik istirahat besok masih ada kegiatan lagi loh?" Sanggah sang istri mengingatkan suaminya.


"Siap Bos. Mas istirahat dulu. Jaga dirimu juga anak kita dek! Aq mencintaimu selalu" Suara Sakti mengakhiri percakapan mereka.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waalaikum Salam Hati-hati mas" Sahut Sang istri tersenyum.


__ADS_2