
Selesai kegiatan di Kementrian Sakti bergegas balik ke hotel tempatnya menginap semalam. Tidak butuh waktu lama taxi online yang dipesannya datang dan membawa ke tempat hotel tujuannya. Walau Sakti tugas di pedalaman tapi dia orang yang tidak gaptek.
Sesampai di hotel Arvi di sambut ramah oleh petugas security hotel.
"Selamat sore Pak!" Sapa security hotel dengan ramah.
"Sore!" Sahut Sakti tak kalah ramahnya.
Tiba-tiba ada seorang anak yang menendang tubuh Sakti hingga mainannya jatuh.
"Dimana orang tuanya koq dia sendirian!" Batin Sakti memperhatikan bocil yang menabraknya.
"Bruuk"
Mainan yang dipegangnya terlampar jatuh kelantai. Tanpa memperhatikan. Sakti mengambilkan mainan Spiderman anak itu dan memberikannya.
"Maaf om tidak sengaja!" Suara anak itu meminta maaf tanpa sengaja telah menabraknya. Anak itu terlihat sopan meminta maaf padanya. Anak itu menatapnya tanpa ada rasa takut sedikit pun. ia terkesan dengan sikap anak itu. Ia begitu sopan terhadapnya.
"Mungkin anakku seumuran dengannya tapi kenapa wajahnya? Astaga inikah anakku wajahnya???" Batinnya lagi tertarik pada anak itu. Memang anak itu ganteng dan menggemaskan. Sepintas mirip dengan dirinya versi anak kecil.
"Nih mainannya! Lain kali hati-hati jangan lari nanti jatuh" Ucap Sakti menatapnya dengan intens sebab ia tidak melihat dimana orang tuanya.
"Makasih om!" Ucapnya senang tidak dapat marah.
"Sama-sama!" Serunya membelai pucuk kepala anak itu.
Namanya anak kecil biar dilarang juga tetap lakukan. Ia berlari kesana menemui orang tuanya.
Baru beberapa langkah mata Sakti memindai seseorang yang sangat ia kenal. Pria tampan memakai kemeja abu-abu menggandeng tangan bocil yang menabraknya barusan.
__ADS_1
Shock
"Astaga itu Richat dan anak itu??? Anak itu Junior anakku" Batinnya terharu. Ingin ia menatap dan lebih mendekat tapi ia urungkan niatnya.
Jantungnya rasanya mau copot dari sarangnya. Sakti menelan ludahnya terkejut pikirannya langsung berkelana pada sosok bocil yang ada dalam lindungan Richat teman karibnya.
Menyaksikan kedekatan keduanya hatinya terasa sakit.
"Mungkin ini yang namanya sakit tak berdarah?"
"Seharusnya aq bukan dia"Batinnya memprotes tidak terima keadaan.
"Tuhan mengapa jadi begini? Apa takdir mempermainkan kami? Seharusnya aq yang bersama anak itu bukan sahabatku!" Ungkapnya membatin. Tanpa Sakti sadari air matanya jatuh. Rasa penasaran dan keingin tahuannya terjawab sudah. Tuhan menjawab doanya selama ini ia bertemu dengan anak yang ia rindukan selama ini.
"Pak kenapa?" Sapa scurity yang melihat Sakti melamun.
Sakti tersenyum dengan perasaan kecewa bercampur aduk. Rasa bahagia dapat melihat perkembangan sang putra. Ia tumbuh dengan sehat jadi anak yang cerdas tanpa kekurangan apapun. Di sisi lain ia kecewa orang lain yang menggantikan posisinya. Seharusnya dirinya yang dipanggil Deddy bukan Richat sahabat karibnya. Tubuhnya lemas tiada daya.
Dreet...Dreeet Dreeeet
Bunyi ponselnya bergetar dari saku celana. Buru-buru Sakti memeriksa gerangan siapa yang menghubunginya. Rupanya rekan kerjanya yang menginap di hotel lain.
"Iya Hallo bagaimana ada petunjuk?" Seru Sakti keluar dari lobi hotel.
"Pak Kabag saya mohon ijin bisa kesitukah!"
"Hemm! Dalam rangka?"
"Pak Kabag tong minta traktir!"
__ADS_1
"Tuhan ampun!" Seru Sakti geleng-geleng kepala heran dengan anak buahnya di kantor.
"Jangan bilang uang kalian habis!" Lanjut Sakti sedikit jengkel dan penuh curiga.
"Dasar rusa masuk kota begini udah!" Maki Sakti dalam hati tanpa berani mengungkapkannya secara langsung.
"Tanya lagi!"
"Tidak ada traktir-traktiran urusan kantor sudah selesai. Usahakan malam ini juga kalian balik tidak boleh ada yang melawan perintah saya!" Titahnya jengkel penuh emosi ngadepi anak buahnya yang udik lihat kota megapolitan Jakarta.
"Baik Pak Boss!" Sahutnya sedikit kecewa mendapat Penolakan. Jiwa empat limanya tumbang seketika. Ia tahu Sakti keras pada anak buahnya yang mencoba aneh-aneh. Sebab Sakti tahu akal bulus mereka udik dengan kehidupan perkotaan.
"Saya tidak mau tahu malam ini juga kalian ke bandara pulang jika tidak tanggung akibatnya!" Perintahnya penuh ancaman lalu mematikan ponselnya. Ia mulai jengkel dengan anak buahnya.
"Kayak orang udik saja gak pernah lihat kota besar di kasih hati minta lebih. Dasar kalau rusa masuk kota " Omel Sakti sendiri sehabis terima telpon dari anak buahnya.
Jika Sakti tidak keras dan tegas mereka akan ngelunjak ke hal-hal yang negatif. Sebelum itu terjadi lebih baik mereka balik kandang saja agar tidak menimbulkan masalah di kota pikirnya. Bagaimana juga ia tidak ingin mereka terpengaruh dengan gaya hidup perkotaan.Mendengar nada bicara Sakti yang uring-uringan sendiri.
"Aq tidak menyangka di ibu kota negara justru masalahku muncul ke permukaan. Punya anak buah yang kadang ngeselin. Sungguh mati se..." Gerutunya dalam hati dongkol sedongkol dongkolnya.
Tubuhnya terasa letih rasanya pingin ada yang dipeluk untuk mencairkan suasana hatinya saat ini. Namun siapa? Sebab dari tadi siang ia sempat menghubungi Arvi tapi tidak diangkat. Mungkin dia masih marah padanya.
Rupanya ada sosok yang sangat hafal akan dirinya. Siapa lagi kalau bukan Richat. Sedari tadi dokter Richat mengikuti gerak langkah Sakti yang keluar dari lobi. Hingga ia meminta Junior untuk menunggunya di dalam lobi hotel.
"Betulkah itu Sakti?" Tanyanya dalam hati antara yakin dan tidak yakin sebab sudah lama mereka tidak berjumpa. Ya semenjak pindah ke Semarang ia sudah tidak bertemu dengannya.
"Aq yakin dia? Tapi sedang apa dia di sini? Lalu kemana dia selama ini? Kenapa Arvi bilang jika Sakti sudah meninggal? Lalu pria yang ada di hadapanku ini siapa? Setahuku Sakti tidak memiliki saudara kembar? Sedari kecil kami biasa main bersama" Batin Richat penuh banyak pertanyaan yang menyerangnya tiada henti-hentinya.
Karena rasa penasaran yang begitu kuat ia beranikan diri mendekati sosok itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan seksama Richat mengamati seluruh gerak gerik Sakti sedari tadi. Pria gagah yang tak muda lagi dengan rambut putih. Ya Sakti yang berambut putih. Ciri khas yang tidak pernah ia lupakan.
__ADS_1
Melihat postur tubuhnya, cara jalan dan gaya bicaranya yang khas ia yakin seratus persen jika lelaki yang membelakanginya itu adalah Prananda Sakti Prasetyo Dokter ganteng itu rupanya mengikuti Sakti dari tadi.