
Esok Hari
Matahari terlihat terang benderang. Di musim kemarau kota Semarang sangat terasa panas dan di malam hari udara terasa dingin. Saking dinginnya semalam Junior memeluk erat sang mama. Seakan takut jika mamanya akan pergi.
Seperti biasa Arvi tidur sekamar dengan Junior. dokter Richat masuk ke kamar mereka. Richat ingin mengecek secara langsung jika Arvi masih tidur atau sudah bangun. Sebab kemarin melakukan perjalanan jarak jauh tentu ia capek.
Rupanya Arvi telah bangun dan ada di kamar mandi menjalankan rutinitas wajibnya mandi pagi.
Tinggal Junior yang masih bobok di balik selimut tebal. Richat mengelus kepala Junior dengan lembut. Melihat Junior seperti melihat foto copy Sakti dimasa kecil. Muka mentah-mentah kayak Sakti. Dokter Richat menahan nafas. Ia begitu sayang pada Junior tapi tidak dengan ayah kandungnya.
Kleek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Arvi keluar dari kamar mandi.
"Hari ini tidak usah masuk kantor tanganmu masih luka" dokter Richat memulai pembicaraan.
"Apa masih sakit?" Lanjutnya bertanya keadaan tangan Arvi.
"Aq baik-baik saja. Bagaimana luka dokter apa sudah baik"
"Seperti yang kau lihat" Jawabnya salting. Entahlah dokter Richat merasa grogi jika berdekatan dengan Arvi padahal di kamar bukan cuma mereka berdua ada Junior yang masih Sono tidur.
Arvi mendekat di laci mengambil sesuatu di laci meja. Perlahan ia mendekati dokter Richat yang duduk di bibir ranjang.
Tanpa ada penolakan dari dokter Richat ketika Arvi mengolesi zalf pereda nyeri yang di akibatkan perkelahiannya dengan Sakti kemarin. Dengan telaten Arvi mengobati pria ganteng dan gagah yang menjadi patner hidupnya tujuh tahun ini.
__ADS_1
"Aduh. Issh" Suara dokter Richat menahan sakit akibat tersentuh tangan Arvi. padahal tangannya sendiri juga sakit tapi ia ingin mengobati orang yang telah membantunya.
"Maaf!" Ucap Arvi lirih.
Menatap Arvi dari dekat tensinya makin naik turun tidak terkontrol. Jantungnya berdegup kencang berapa kali ia menahan ludah. Rasanya ia ingin menerkam wanita yang ada di hadapannya. Tapi ia tidak berani. Bahkan sebelum ke Jakarta keduanya pernah berciuman di mobil.
Pernah mereka sekamar waktu tinggal dirumah ayah Arvi tapi keduanya tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Bahkan sekarang keduanya tinggal serumah tapi kamar mereka terpisah. Arvi begitu menjaga jarak padanya kayaknya Arvi sangat mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap jaga jarak.
"Kamu dirumah saja istirahat" Ucap dokter Richat meyakinkan ulang.
Arvi hanya mengangguk setuju sambil jalan menuju meja rias yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur. Lalu dokter Richat bangkit mendekatinya.
"Arvi apakah kamu ingin kembali pada Sakti?"
"Sedikit saja hatimu untukku" Lanjutnya memberanikan diri bertanya.
Arvi hanya diam mematung membelakangi dokter Richat yang meminta kepastian. Ia tahu jika antara Arvi dan Sakti masih mencintai.
Melihat Arvi yang hanya diam dokter Richat berbalik badan. Peluangnya kecil.
"Bangunkan Junior biar aq yang antar ke sekolah. Istirahatlah semoga lekas sembuh" Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Arvi yang diam mematung.
******
Di ruang makan Arvi menemani keduanya sarapan. Tak lupa ia membawakan Junior bekal ke sekolah. Tidak ada suara atau canda tawa ketiganya. Suasana seperti kaku kayak tidak ada manis-manisnya.
__ADS_1
Junior pun dengan lahap menyantap sarapan yang di buatkan sang asisten rumah tangga.
Dokter Richat melirik Arvi yang tidak ada semangat.
"Apa mungkin kata-kataku tadi telah menyakitinya?" Ucapnya membatin sebab sedari tadi ia tidak melihat Arvi tersenyum. Bahkan Junior juga menyadari hal itu.
"Mommy kenapa diam? Masih sakit?" Tanya Junior memperhatikan sang mommy yang seperti tiada daya.
Arvi hanya tersenyum kecut. Ia tak ingin sang anak tahu beban hatinya.
"Sayang ayo kita berangkat nanti terlambat. Untuk siang nanti pak sopir yang jemput ke sekolah" Ucapnya menghampiri Junior yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
"Okey Deddy " Seru Junior berhambur memeluk sang Deddy dengan happy.
Melihat keduanya yang akrab hati Arvi makin teriris pedih. Hal itu makin membuatnya delema. Junior sangat sayang Deddy nya.
Dengan wajah yang masih memar Richat menjalankan aktivitasnya ke rumah sakit. Ia melarang Arvi ke kantor dulu sebab luka di telapak tangannya belum mengering. Tentu ia tidak mampu beraktivitas seperti biasa. Sementara Junior ke Sekolah diantar Richat pulangnya baru dijemput pak sopir.
Arvi hanya menurut apa kata suaminya, bahkan ia pun tidak keberatan dengan permintaan dokter Richat yang melarangnya masuk kantor. Semua ia turuti tanpa ada kata sanggahan. Memang tangannya masih terluka yang diakibatkan dirinya sendiri.
Richat tahu jika istrinya sedang berperang pada dirinya sendiri. Sebagai suami dan juga Ayah Junior dokter Richat sangat bertanggung jawab terhadap mereka.
Sementara Sakti ayah biologis dari Junior keduanya belum bercerai tapi Arvi telah menikah dengan dokter Richat. Mungkin ini akhir dari sebuah penantiannya selama ini.
Tidak ada alasan apapun untuk menolak atau membantah dokter Richat. Sebagai seorang suami dokter Richat jauh lebih sempurna. Tapi hati tidak bisa di pungkiri.
__ADS_1