
Arvi masih gelisah menunggu kabar sang suami. Entahlah pikirannya aneh-aneh memenuhi ruang otaknya. Padahal sempit tapi menampung banyak hal. Begitu Tuhan sangat kuasa.
Ditempat berbeda di Kantor Polisi
Sakti memberikan keterangan atas Laporan Bu Hanna. Nyalinya tak kalah ciut atas laporan yang di ajukan oleh Bu Hanna. Sakti menuntut balik melaporkan Bu Hanna. Keduanya saling lapor. Saking sibuknya Sakti lupa menghubungi sang istri. Mana batere ponselnya lowbet tidak ada daya sama sekali.
Disatu sisi ada seseorang yang sangat puas atas kejadian tersebut. Ya siapa lagi kalau bukan rekan kerja Sakti. Dengan adanya masalah tersebut tentu langkahnya semakin mudah. Sakti termasuk orang yang gigih dalam mempertahankan sesuatu apalagi untuk kepentingan umum.
Flesbeck dulu ya
Kantor DPRD yang mereka tempati sekarang merupakan gedung baru yang diresmikan Pemda sekitar setengah tahun yang lalu.
Pembangunan gedung tersebut menelan dana milyaran rupiah. Dana yang begitu besar tentu banyak pihak yang menuding terjadi penggelembungan dana pada preses pembangunannya berjalan lambat tidak sesuai dengan perjanjian. Sebab gedung tersebut tidak sepenuhnya selesai. Ada beberapa ruangan yang tidak jadi.
Bahkan yang menjadi sorotan banyak pihak sepertinya ada pejabat penting yang bermain dalam proyek tersebut. Namun oknum tersebut sangat susah untuk dijamah. Bahkan ada isu yang berhembus bahwa Sakti diduga ikut terlibat dalam tindakan penyalahgunaan wewenang dan jabatan pada proyek tersebut. Sebab pada pelaksanaannya Sakti menjadi ketua PPTK pada proyek pembangunan gedung tersebut. Otomatis tudingan miring mengarah kepadanya.
Tapi Sakti santai menghadapi tudingan miring tersebut. Ia tidak merasa menerima baik berupa uang atau pun benda sebagai barang bukti bentuk gratifikasi. Kalau tuduhan tersebut dialamatkannya harus dikroscek kembali. Sebab ada oknum yang mencoba menjadikannya kambing hitam pada kasus tersebut. Terutama rekan kerjanya di Kantor. Ada beberapa teman kerjanya yang tidak menyukai kinerjanya yang disiplin dan penuh tanggung jawab.
Rasanya jika kasus tersebut diproses secara hukum tentu Ada oknum yang lebih bertanggung jawab dari pada dirinya. Orang tersebut adalah Pikal seorang Pengusaha kontraktor besar di kota D. Istrinya masih keluarga dekat dengan pejabat di kota D. Selain itu dia seorang ASN. Dia adalah rekan bisnis Bu Hanna. Kedekatannya sering menjadi sorotan Bahkan ada gosip jika keduanya memiliki hubungan fair. Sementara Pikal ini sudah memiliki istri dan anak. Karena melibatkan keluarga pejabat sehingga kasusnya jalan di tempat. Siapa yang berani korek keluarga pejabat itu siap-siap nyawa taruhannya.🙏🙏
Flashback finis
__ADS_1
Siang Hari jam istirahat Kantor.
Arvi, Adi dan Rina masuk ke Kantin. Kehadiran mereka bertiga menjadi buah bibir. Tak henti-hentinya pandangan sinis mengarah pada Arvi. Sebutan Arvi dikantor yaitu Putri Pak ketua yang disematkan padanya terkadang membuatnya risih.
"Wah Putri Pak Ketua datang dengan ajudannya" Bisik salah satu pegawai dengan sinisnya.
"Tumben Pak Kabag tidak mendampinginya?" Sahutnya lagi tanpa basa-basi lagi.
"Oh Tidak tahukah Pak Kabag kan lagi di proses di Kantor Polisi makanya gak bisa temani Putri kesayangan Pak Ketua" Jelas salah satu ASN dengan ketusnya.
Mendengar kata-kata tersebut Arvi menatap kedua sahabatnya penuh sejuta pertanyaan yang siap untuk ia lontarkan ke arah mereka. Jantungnya pun seakan mendapat serangan bom yang bertubi-tubi sedari pagi tadi yang memporak-porandakan hatinya. Sebab ASN yang ada di Bagian Umum menatapnya dengan sinis dan senyum mengejeknya.
"Apa hanya aq yang tidak mengetahui kabar ini?" Tanya Arvi lirih menatap Adi dengan sendu. Adi lalu menepuk bahunya untuk lebih tenang dan sabar.
Air mata Arvi tidak terbendung ibarat air bah yang mengalir dengan derasnya. Baik Adi atau Rina tidak berani bicara sebab mereka hanya anak honor. Sementara yang berbica ini para ASN. Nyali mereka untuk membela Arvi tiada daya.
"Kamu tidak tahukah jika Suamimu Pak Kabag ada di Kantor Polisi? Suamimu ternyata laki-laki bejat yang memp****sa Bu Hanna. Kamu tidak bisa melayaninya dengan baikkah hingga harus memp****sa wanita yang tidak berdaya" Sahut ibu ASN yang berbicara tepat di telinganya.
"Ibu tolong hentikan jangan menyudutkannya dia tidak tahu apa-apa biar semua diselesaikan secara hukum" Sergah Adi mencoba melindungi Arvi yang menangis.
"Eh kamu anak honor jangan bikin sok jadi pahlawan! Kamu kira kita tidak tahu termasuk kamu juga itu tanam saham di perutnya toh?" Hardiknya dengan kata-kata yang tak mengenakkan untuk didengar.
__ADS_1
"Sebegitu hina dan rendahnya kah ibu hingga menuduh Arvi seperti itu? Setahuku Arvi wanita yang baik "Sanggah Adi ikut emosi.
"Heh anak honor jangan macam-macam sama saya kalau masih mau kerja! Dibayar berapa kamu membelanya hah? Lama-lama kalian ngelunjak ya!" Hardiknya penuh amarah menunjuk Adi.
"Saya mohon ibu kasihan Arvi. Belum tentu berita itu benar adanya kan masih sebatas laporan yang berhak menentukan salah dan benarkan Hakim" Jelas Adi dengan lantang tapi Arvi menarik lengannya sambil menggeleng pelan untuk tidak menjawab segala perkataan mereka.
"Adi tidak usah kamu menjawab nanti berbuntut panjang" Rina mencoba mengingatkan Adi sambil memberi kode mata.
"Kamu terima Arvi dikata-katakan kayak gitu?" Jawab Adi balik debat dengan Rina.
"Sudah jangan berdebat. Biarlah orang mau bilang apa? Aq dan Sakti yang tahu" Tutur Arvi sambil menyika air matanya yang terus mengalir dengan derasnya.
"Tapi mereka terlalu sekali" Kilah Adi.
"Cukup kak Adi berdebat dengan mereka. Status kita hanya anak honor. Aq tidak apa-apa justru aq mengkawatirkan suamiku" Sahut Arvi mencoba untuk tenang.
"Dalam keadaan begini kamu masih kepikiran suamimu? Hallo??? Anda tidak salah minum obat bu?" Gerutu Rina yang tidak habis pikir dengan sikap Arvi yang terlihat lemah.
"Ingat e saya akan membuat perhitungan dengan kalian bertiga. Siap-siap kalian akan saya keluarkan dari Kantor ini" Hardiknya menunjuk-nunjuk ke arah mereka bertiga.
"Silahkan ibu saya tidak takut laporkan saja" Ucap Adi penuh keyakinan. Ibu ASN itu pun berlalu dari mereka.
__ADS_1
Acara makan siang yang menyakitkan buat Arvi. Mereka harus berdebat dengan rekan kerja Sakti yang tidak menyukainya. Adi sangat kasihan pada Arvi yang terus di sudutkan. Rasa kecewa sudah pasti. Jangankan makan siang pesan makan aja belum sudah dibom bordir dengan kata-kata yang tidak sepatutnya dilakukan oleh oknum ASN.