
Kantor
Isu tentang kepergian Arvi begitu menyita perhatian. Jarak hilangnya sang suami dalam waktu yang berdekatan menimbulkan rumor miring.
Hingga muncul isu sabotase menimpa keduanya. Banyak pihak yang mengaitkan tentang kasus penyalahgunaan wewenang dan jabatan proyek pembangunan kantor yang belum selesai.
Melihat sepak terjang Sakti yang begitu loyal sebagai abdi negara banyak yang tidak menyangka jika Sakti terlibat di dalam kasus tersebut.
"Sebetulnya dia kemana sih?" Bisik salah satu staf yang asyik bergosip.
"Paling-paling ia kabur dengan istrinya" Sahutnya dengan spontan.
"Kan belum ada putusan dari pengadilan yang menyatakan dia bersalah" Sela rekannya.
"Tapi ini sudah mau di usut"
"Orangnya sudah kabur duluan!"
"Tapi ada gosip katanya dia di bunuh"
"Ya Tuhan kasihan e padahal Pak Sakti orangnya baik.
" Eh kenapa kamu bela dia orang korupsi gitu"
"Tapi kan belum tentu tunggu putusan Pengadilan"
"Drai tadi tinggal bela Pak Sakti. Jangan-jangan kamu dapat ceperan dari proyek itu"
"Eh jangan asal tuduh. Saya bicara berdasarkan aturan"
"Ah Pak Sakti itu kesayangan anggota makanya dibelain terus"
"Betul itu apalagi Pak Ketua. Dia kan anak emasnya Pak Ketua sampe di Carikan istri. Padahal sudah tua gitu koq mau ya?"
"Gimana tidak mau orang berduit gitu"
__ADS_1
"Ha ha ha...!!" Gelak tawa mereka serentak
"Ah kalian kenapa sih tidak suka dengan Pak Sakti padahal dia baik loh? Yang pegang proyek itu bukan Pak Sakti nanti kita lihat berita perkembangan kasus ini kalau menuduh dan menerka-nerka bisa-bisa kita kena tangkap loh" Tuturnya menasehati rekan kerjanya yang tampak menyudutkan Sakti.
"Iyo amit-amit jabang bayi bisa-bisa kita kena pencaran nama baik" Ucapnya menyudahi percakapan mereka.
"itu sudah hati-hati loh dinding pun bisa mendengar sampelah ke telinga Putri Keuangan. Mampus kita semua tertahan gaji kita. Ingat loh sudah tidak ada Pak Sakti" Suaranya mengingatkan rekan kerjanya yang asyik bergosip segera bubar untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing di Kantor.
Di Kediaman Bu Hanna.
Bu Hanna tampak serius berbicara via ponsel. Hingga wajahnya tampak pucat begitu selesai menerima telepon tersebut. Entah Telepon dari siapa? Bu Hanna begitu gusar terlihat. Mondar mandir seperti setrikaan.
"Tamat riwayatku! Bisa-bisa apa yang kumiliki habis tak tersisa? Aq tidak ingin jatuh miskin! Tidak mau brengsek kamu Sakti rupanya kamu belum mati" Ucapnya dengan bibir bergetar menahan amarah.
Sementara dari dalam dapur sang ibu dan kakak berlari mengcari sumber suara yang membikin heboh seisi rumahnya.
"Hanna kamu kenapa??" Tanya sang mama penuh slidik tidak biasanya dia semarah ini.
"Iya kamu ini bikin sports jantung saja!" Tegur abangnya kaget dengan teriakan Bu Hanna.
"Ada masalah apa hingga kamu uring-uringan? Masalah lagi dengan Sakti? Sudahlah Hanna jangan mempermalukan dirimu sendiri. Ingat nak laki-laki bukan hanya dia masih banyak pria di luar sana yang tertarik dan menyukaimu" Bujuk sang mama dengan lembut dan perhatian padanya.
"Hanna!! Dengar sedikit mama punya nasehat" Bentak sang kakak terlihat gusar dengan tingkah adeknya yang begitu jumowo.
"Kau tarada malukah? Kam mengejar Sakti tapi kamu menjalin hubungan terlarang dengan Pikal! Dimana hati nurani mu Baik Pikal atau Sakti keduanya sudah berkeluarga. Abang malu dengan gunjingan orang-orang di luar sana"
"Jika kamu malu keluar dari rumah ini!" Pintanya mengusir sang kakak.
"Hanna sudah cukup aq tidak tahan dengan sepak terjangmu yang begitu arogan semua...semua mau kau kuasai" Ungkit sang kakak.
"Hai jika aq tidak begini mana bisa keluarga kita bertahan? Heh kamu saja hanya jadi parasit dalam rumah ini!" Sindirnya sinis pada saudara nya itu.
"Sudah-sudah kalian bertengakar terus tidak ada habisnya!! Hanna apa yang sebenarnya terjadi Mama ingin mendengarnya secara langsung dari mulutmu bukan dari mulut orang yang tidak bertanggung jawab" Pinta mamanya berusaha melerai pertengkaran kedua anaknya itu.
"Mama tidak perlu tahu itu urusanku!" Ucapnya tak ingin mamanya tahu tentang masalah yang melilitnya.
__ADS_1
"Hanna mama tidak ingin kamu terlibat soal hilangnya Sakti setelah kalian berseteru sebelumnya" Tegurnya mulai menaikkan nada bicaranya.
"Sudah deh ma! Tidak perlu ikut campur itu urusanku"
"Hanna!!! Urusanmu juga jadi urusan mama"
"Mama lihat sendiri anak kesayangan mama yang sombong merasa paling sempurna tidak mau mendengar saran dan nasehat orang lain"Sindir sang kakak.
"Lebih baik kakak keluar kalau hanya menjadi beban hidupku" Lantangnya mengusir sang kakak.
"Pluuuk!!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Bu Hanna. Mamanya menampar Bu Hanna.
"Mama!!" Pekiknya
"Hanna kamu sudah tidak waras nak! Bagaimana juga itu abangmu kalian sedarah tidak seharusnya kamu mengusir kakakmu dari rumah ini" Jelas mamanya penuh amarah yang mendidih. Dalam hatinya malu melihat kedua anaknya bertengkar saling menyudutkan.
"Iyo mama hanya menyalahkan ku pernah tidak mama berpikir aq sudah pontang panting berkorban demi keluarga ini tapi apa hasilnya?? Kakak terus memojokkan ku seolah-olah aku ini menghalalkan seglaa cara" Jelas Bu Hanna berurai air mata memprotes sang mama.
"Jika kamu tidak mau disudutkan tolong Hanna hentikan semuanya tidak ada gunanya. Tanpa dia kamu akan tetap dihormati tapi tidak dengan cara begini" Bujuk kakaknya lagi.
"Diam!! Simpan nasehatmu untuk dirimu sendiri itu tidak berlaku untukku!" Suara Bu Hanna masih bersikap arogan tidak terima dengan ucapan kakaknya.
"Hanna mama gak menyangka kenapa kamu jadi begini!! Hanya karena harta kamu lupa segalanya" Ucap mamanya berurai air mata.
"Sudah saya tidak peduli dengan kalian.ama dan kakak sama saja tidak mengerti dengan jalan pikiranku!" Tuturnya pergi meninggalkan keduanya.
"Hanna kamu salah sangka nak!!" Teriak mamanya menangis tapi anak gadisnya tidak mempedulikannya lagi.
"Mama kasih tinggal sudah dia terlalu sombong semenjak Pikal pengaruhi dia" Bujuk anak laki-lakinya
"Ma Hanna harus menjauh dari Pikal sebab dia sudah berkeluarga. Sudah dari dulu tapi tidak diendahkan dianggapnya aq ikut campur masalah pribadinya. Mama tahu sendiri sepak terjang Hanna selama ini kadang saya malu dengan gunjingan tetangga" Jelasnya mengajak sang mama duduk di sofa.
"Itu yang saya kawatirkan? Mama berharap sekali Sakti bisa jadi suaminya tapi ternyata tidak? Dia lebih memilih wanita lain dari pada Hanna. Aq takut jika gosip-gosip itu benar nak!" Sahut mamanya
"Semoga saja tidak ma! Semoga Hanna masih punya pikiran waras"
__ADS_1
"Semoga saja!" Ucapnya mengusap air matanya.
Tinggalah keduanya bercakap-cakap membahas Hanna anak bungsunya yang belum menikah. Sang mama ingin menjodohkan Hanna saja agar bisa pisah dari jerat Pikal sang pacar yang statusnya suami orang.