AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Hp Tertinggal


__ADS_3

Siang itu Sakti mengantarnya pulang, sama seperti kemarin malam hanya sampai Dimata jalan. Mobil Dinas itu pun berlalu dari pandangannya.


Ketika berjalan seorang diri teringat akan sesuatu yang ia lupakan. Ya Heand phone nya ketinggalan diruang kerja Sakti. Mereka asyik ngobrol nyampe lupa hp ada dimeja kerjanya Sakti."Gimana mau menghubunginya kan ga enak mau nyuruh Pak Kabag"Gerutunya dalam hati. Arvila melanjutkan langkahnya menuju ketempat kost nya. "Hanya hp lah hiburannya, orang tua jauh di kampung halaman. Pacar pun lagi gak ada.


Flassback dulu ya


Arvila hidup di perantauan sendiri kedua orang tuanya ada di Semarang. Dia memiliki dua saudara perempuan yang sudah berkeluarga semua. Keduanya tinggal di Semarang. Arvila memilih merantau ke Papua sejak selesai kuliah. Dia ingin hidup mandiri tanpa campur tangan kakak-kakaknya yang udah sukses berumah tangga. Berbeda dengan Arvila sebagai anak bungsu yang serba dimanja oleh ortunya membuatnya risih. Keputusannya hidup di Papua ditentang orang tuanya karena menurut mereka terlalu beresiko dan sering muncul diberita ditelevisi beberapa pembunuhan yang dilakukan oleh gerakan sparatis, isu tentang SARA yang sering menimbulkan kerusuhan dan memakan korban jiwa hingga puluhan serta jarak yang begitu jauh menjadi alasan ortunya menolak. Arvila berusaha meyakinkan kedua orang tuanya kalau ia mampu hidup di perantauan dan bisa jaga diri. Dengan berat hati mereka merelakan anak gadisnya merantau ke bumi cendrawasih. Orang bilang Tanah Papua tanah emas tapi emang benar di Papuakan ada perusahaan tambang emas terbesar di negeri ini tepatnya Perusahaan Freeport di Tembagapura.


Flasback finis

__ADS_1


Hari itu mentari begitu panas menyengat kulit putihnya walau waktu sudah menunjukkan tiga sore tapi masih terasa panas. Sekitar lima menit langkah kakinya menuju menuju tempat kost. Dari teras depan Santi menyambut kehadirannya sambil tertawa meledek "Wah ibu dewan jalan kaki!! Aduh kasihan ee" Tawanya meledek Arvila dengan muka kemerahan terkena panas matahari. Arvila tersenyum kecut dengan ledekan teman kuliahnya dijawa. "Yo ibu Dewan banyak duit"Serunya berkelakar."Tumben pulang tempo saya kira ne kamu pulang lebih malam lagi"Cerocos Santi semangat menggodanya."Hari ini gak ada kegiatan Pak Bos jalan ke Dapil" sahutnya sembari melepas sepatunya. "Kawan aq masuk dulu capek pingin tidur "Lanjutnya memberi kode ngantuk. Santi hanya mengangguk dan acungkan jempol tanda setuju kalau dia harus istirahat. Santi pun bergegas masuk kamarnya, sedangkan Arvila mengganti pakean kerjanya dengan pakean rumah. Waktu memasuki sholat Ashar segera ia melaksanakannya takut lupa kalau udah tidur. Selesai Sholat bergegas ia tidur sore ngantuk tidak terhindarkan. tidak butuh waktu lama rasa capek membuatnya tertidur pulas.


Hari mulai gelap suara azan berkumandang dimana-mana segera Sakti menjalankan ibadah sholat magrib. Selesai sholat ia duduk diruang kerjanya menatap layar monitor tiba-tiba dia teringat kalau kacamatanya tidak ada ketinggalan di ruang kerjanya. "Yah harus ambil ini mana hujan" Lirihnya menghela napas dalam-dalam. Dalam hati ia menyesali kenapa bisa lupa padahal itu penting sekali. Teringat kejadian tadi siang pulang bareng Arvila sicantik yang membuat kacamatanya ketinggalan.


Segera dia sambar kunci mobil diatas meja. Tidak berapa lama mobil meluncur ke kantor. Sesampai diKantor Pak Satpam menyambutnya"Malam Pak ada yang bisa saya bantu?" Sapanya tersenyum menghampirinya" Iya mas kacamataku ketinggalan bisa temani saya mas masuk" Jawab Sakti melihat suasana kantor yang sepi. "Baik Pak". Jawab Satpam berjalan mengekor mengikuti langkah atasannya. Tidak berapa lama mereka sampai ketujuan. Ketika mengambil kacamata dimeja kerjanya Pak Satpam memperhatikan keadaan ruang kerja Sakti terlihat sebuah hp di meja dekat mesin foto copy."Hpnya tidak diambil sekalian mas!" Pinta Pak Satpam mengingatkannya."Hp?"Tanya Sakti kaget gak menduga ada Hp juga yang ketinggalan diruangannya. Pak satpam menunjuk letak Hp. Sakti lalu memungutnya diamatinya dengan seksama "sepertinya ini bukan hp Arie" Lirihnya yang hafal betul merk Hp yang dimiliki Arie. Pikirannya tertuju pada gadis itu, yang masuk keruangan tidak ada orang lain selain Arie dan dia. "Ini milik anak baru itu"jawab Sakti bergegas melangkah keluar mengunci ruangan yang diikuti Pak Satpam. Sebelum balik ke rumah tak lupa dia pamit memberikan sedikit uang tips untuk membeli rokok buat Pak Satpam.


Pagar rumah belum terkunci sehingga Sakti bisa masuk, tapi dia bingung tempat kosnya yang mana semua pintu tertutup penghuninya enggan untuk keluar rumah karena hujan.


Sakti berdiri kebingungan karena terlihat sepi sekali tempat kostnya. Hingga seseorang mengagetkannya.

__ADS_1


"Malam Cari siapa?"Tegur seorang penghuni kos yang tak lain adalah Santi teman satu kost Arvila. "Malam maaf mengganggu saya mau tanya apa Okta tinggal disini?" Jawabnya menoleh kearah suara yang menegurnya." Oh Arvila iya dia ada didalam, sebentar saya panggilkan"Jawab Santi membenarkan. "Arvila ada yang cari kamu" Teriak Santi dari luar. Kala itu Arvila ada dikamar. Mendengar teriakan Santi cepat-cepat dia keluar penasaran tamu siapa yang mencarinya malam-malam. "Tumben ada tamu untukku" Gerutunya penasaran dengan siapa gerangan yang mencarinya malam-malam.


Begitu keluar dia kaget Tara baik, Pak Kabag mencarinya kenapa malam-malam. dia sedikit shock ga nyangka aja Pak Kabag ke tempat kostnya. "Eh malam Bapak. Mari silahkan masuk"Sambutnya menyalami atasan dikantornya, gak nyangka tahu juga tempat tinggalnya. "Mari-mari Pak masuk" Tawar Santi ikut semangat mempersilahkan beliau masuk." Ah tidak usah disini aja!" Sakti menolak ajakan mereka, karena Sakti tidak mau jadi bahan gosip teman-teman kosnya. Dari saku celana ia menyodorkan Hp ke Arvila. Tentu saja dia kaget gak nyangka kalau Sakti akan mengantar Hp itu ke tempat kost. "Loh koq ada di Bapak?" Tanyanya malu hati memanggil mas dihadapan Santi. Dengan tersipu malu karena keteledorannya hp ketinggalan diruangan. "Barusan dari Kantor kacamataku ketinggalan sekalian kubawa" Jelas Sakti sedikit canggung karena penghuni kost mulai keluar memperhatikannya. "Makasih pak".Sahut Arvila tertunduk malu Santi menyenggol lengannya "Saya pulang dulu" Pamit Sakti. Seketika Arvila mengambil payung yang ada dibalik pintu kostnya " Mari saya antar Pak!" Tawarnya membuka payung mendekatinya. Dia tahu kalau Sakti buru-buru pulang tidak enak dengan penghuni kost yang lain.


Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, Sakti menatap gadis cantik yang mencoba memayunginya. "Sudah malam lebih baik kamu istirahat aja ! payungnya aq bawa besok aq kembalikan" Sakti menolak Arvila yang ingin mengantarnya pulang karena hujan mulai turun kembali. Arvila mengangguk pelan "Aq pulang dulu ya!" Pamitnya dengan sorot mata sendunya menatap gadis cantik yang menggetarkan hatinya. Arvila hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Hatinya berdesir lirih menatap wajah gadis cantiknya, entah sudah berapa puluh tahun ga merasakan perasaan seperti ini. Hatinya menderu gak karuan. Jiwa mudanya kembali bangkit seperti masih umur tujuh belas tahun. 🤭🤭🤭🤭🤭🤭


Dibawah hujan Sakti berlalu dengan perasaan yang berkecamuk. Hatinya seperti ingin membawanya pulang kerumah. Pikiran Pak Kabag terpecah belah oleh bayang-bayang wajah gadis cantik yang menggetarkan hatinya. Tidak terasa sudah sampai ke mobil. Segera ia tancap gas meluncur kerumah dengan senyum-senyum sendiri. "Ada yang gak beres ini" bisiknya sendiri.


Sepertinya Pak Kabag lagi kesengsem dengan anak baru ya namanya mulai terukir dihati kecilnya "Arvila Okta Maulidia". Atau hanya perasaannya sendiri. Di umurnya yang tidak muda lagi ga ada salahnya ia mendamba seseorang yang akan menemaninya sampai tua. Mungkin ini yang namanya puber kedua🤭🤭🤭.

__ADS_1


__ADS_2