AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Hati Richat Yang Galau


__ADS_3

Kehadiran Sakti yang tiba-tiba muncul diantara mereka membuat Richat klimpungan. Rasa percaya dirinya untuk terus menggapai hati Arvi mendadak runtuh seketika. Mimpi memiliki hati Arvi seutuhnya sirnah dengan sendirinya.


"Mimpi apa aq semalam?"


"Mengapa Arvi tidak memberi tahunya jika Sakti ada di hotel yang sama? "


"Apa keduanya sedang berhubungan tanpa sepengetahuanku?"


"inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah?"


"Tuhan mengapa aq harus alami kisah serumit ini?"


""Kenapa hal ini harus aq alami? "


"Apa dia ingin meminta Istri dan anaknya kembali?"


" Haruskah aq mengalah! Merelakan ketiganya bersatu?"

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan hari itu?"


"Hari dimana untuk pertama kali Arvi tidak menolak kucium sebelum ke Jakarta"


"Apakah itu hanya mimpi? Apakah aq yang terlalu berharap dapat memilikinya seutuhnya?"


"Tujuh tahun lamanya aq memendam rasa. Hidup bersama seatap tapi tidak bisa memiliki hatinya. Jangankan memiliki hatinya tubuhnya pun tidak kudapat"


Bagitulah perasaan Richat saat ini. Hanya bisa membatin tanpa mampu menjawabnya.


Terlihat wajah frustasi yang tidak bisa ia tutupi. Kecewa dan kecewa di hatinya. Mungkin ini yang dinamakan broken heart. Separuh jiwanya ada di Junior. Walau bukan ayah biologisnya tapi anak itu sudah menjadi penyemangat hidupnya.


Sungguh diluar rencana. Ia berharap kehadirannya di Jakarta untuk memberi surprise pada istrinya. Ternyata dirinyalah yang diberi surprise. Rencana gagal total.


Kehadiran Junior mampu membuatnya kuat. Bocah berusia enam tahun itu mampu menetralkan hati dan pikirannya. Untungnya ia mengajak Junior jika tidak kayak orang ilang gak ada tujuan.


******

__ADS_1


Ditempat kegiatan Bimtek. Arvi masih stay mengikuti bimtek yang diadakan Panitia di Hotel tempatnya menginap bersama rekan kerja serta peserta yang lain.


Tidak ada rasa curiga sedikitpun. Ia fokus ikut kegiatan bimtek tersebut sampai pukul sepuluh malam. Bosan tentu ada tapi ia mencoba menepisnya. Batinnya "ilmu mahal harganya" belum tentu ia dapat kesempatan seperti hari ini mendapat pembekalan dari ahli yang membidanginya.


Kegiatan tersebut dijelaskan secara terperinci dan akurat oleh narasumber yang membidanginya. Sesekali canda tawa diselingi agar tidak terlihat tegang dan peserta kegiatan merasa santai mengikutinya.


Baginya itu sangat luar biasa. Bertukar pikiran dan adu gagasan. Dia tidak mau membuang kesempatan emas itu untuk bertanya kepada ahlinya. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Sebagai seorang abdi negara wajar jika ia membutuhkan ilmu untuk menunjang kinerjanya di kantor. Sebab itu sangat bermanfaat untuk kedepannya.


Saking antusiasnya ikut kegiatan. Masalah yang semula muncul menggelayut di benaknya perlahan pudar dengan kegiatan bimtek tersebut. Arvi hanya ingin melupakan beban persoalan hidupnya sebentar saja. Ia ingin fokus di kegiatan ini dulu. Jiwa profesionalitasnya harus ia tunjukkan. Jangan malas karena memiliki masalah pribadi.


Sebenarnya ia sudah capek sekali tapi ia harus profesional mengikuti kegiatan sampai selesai. Sebenarnya kegiatan lanjut besok berhubung narasumbernya harus balik ke tempat lain malam ini juga kegiatan dilanjut sampai selesai.


Akhirnya waktu juga yang menyudahi. Tepat pukul sepuluh malam kegiatan bimtek ditutup panitia. Seluruh peserta keluar dari ruangan meting tersebut.


Rasa capek menggelayuti seluruh badannya. Seharian duduk mendengarkan materi bimtek membuat sekujur tubuhnya di dera rasa capek yang tak berkesudahan. Ingin cepat-cepat balik ke kamar untuk istirahat.


Ketika Arvi berjalan bersama rekan kerja sekantor menuju ke lift. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang? Seperti ada sesuatu yang siap meledak disana. Rasa panik seketika memenuhi ruang hatinya. Bukan karena di dalam lift banyak peserta yang ingin kembali ke kamar masing-masing. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya

__ADS_1


__ADS_2