
Esok hari Arvi ditemani sang suami ke pasar. Rencana ia akan masak untuk menyambut kehadiran Santi di rumah. Sebab Santi belum pernah ke rumah. Hampir satu Minggu ia tak bertemu Santi. Hanya lewat Whatshup ia berkirim kabar jika posisinya masih di kota belum balik ke di Distrik sebab ada kegiatan Diklat di Kantor Dinas Perhubungan.
Dengan senang hati Santi akan ikut. Sakti akan menjemputnya selesai pulang dari pasar. Rencana ia mau bakar ikan. Arvi tahu kalau Santi suka ikan bakar dengan sambal colo-colo dengan tumis kangkung pedis.
Tidak butuh lama berbagai kebutuhan rumah ia beli untuk menjamu tamunya. Selesai belanja Sakti menjemput Santi ke tempat kost. Kedua sahabat itu saling melepas rindu hampir seminggu tidak ketemu. Wajah sumringah terpancar di kedua sahabat itu.
Tanpa sepengetahuan sang istri Sakti mengundang Kakak dan Arie beserta keluarga. Semenjak mereka nikah hampir tak ada waktu untuk bertemu dengan mereka. Sakti pikir ini saatnya mereka kumpul walau hanya sekedar bakar ikan. Momen yang jarang ia lakukan. Terlebih sekarang sudah punya istri. Walau ia tidak begitu mahir memasak tapi Arvi mau belajar. Buktinya ia masak sayur asam makanan favorit Sakti. Ia mau belajar dari hal-hal kecil. Tapi istrinya cengeng dan penakut.
Kedua sahabat saling bahu membahu di dapur menyiapkan masakan. Terdengar suara klakson mobil. Sakti tersenyum sembari membolak balikkan ikan takut hangus. Sengaja ia biarkan tamunya tanpa ada penyambutan khusus. Sebab ikannya bisa jadi arang. Ari bersama sang istri dan kedua anaknya mulai berhambur ke dalam rumah. Rombongan berikutnya Sakti punya kakak Mas Pandhu dan sang istri dan ketiga jagoannya yang mulai beranjak remaja.
Arvi sontak kaget dengan kehadiran mereka sebab Sakti tak memberi kabar terlebih dahulu. Arvi lalu mempersilahkan mereka masuk. Rupanya Iparnya membawa mie goreng dan kue marmer kesukaan Sakti. Istri Ari ada membawa es buah dan capcay. Arvi meminta Santi agar pacarnya untuk datang bergabung makan siang bersama. Tapi pacarnya lagi piket tidak bisa ditinggalkan.
Suasana rumah tampak hidup Kedua anak Arie tampak berlarian ke sana kemari. Ketiga keponakan Sakti asyik main game mobile lagend dengan smart phone mereka. Suara gelak tawa mereka sembari menikmati es buah buatan istri Arie.
Sakti dan Arie sibuk membakar ikan di samping rumah.
"Bagaimana sudah ada tanda-tanda?"
"Tanda-tanda apa? Gajian? Belum"
"Ah masa kamu tidak paham dengan yang kumakasud?"
Sakti sebenarnya sudah tahu maksud dan tujuan Arie dari semula.
"Nanti saya kasih tahu jamunya biar tok cer"
"Husss Ntar didengar anak-anak" Sakti mencoba mengecohnya Lalu Arie menoleh mencoba mencari siapa dibelakang. Rupanya tidak ada siapa-siapa.
"Gak lucu kawan. Saya serius ini? Atau mau tunda punya momongan?"
"Entahlah ia belum siap jika orang kantor tahu soal hubungan kami"
Mendengar ucapan Sakti barusan. Arie memukul testanya heran terheran-heran.
"Kenapa dia begitu? Apa alasannya?"
__ADS_1
Belum siap Sakti jawab Istri mas Pandu datang mengecek ikan sudah matang belum.
"Kalian serius sekali ngobrol apa?" Tanya Iparnya memperhatikan raut muka mereka yang menyembunyikan sesuatu.
"Ini Kakak Ipar soal harga ikan yang mulai turun" Sahut Arie asal.
"Oh tapi ikan segar-segar toh dari nelayan langsung"
"Iya kak" Jawab Sakti.
"Sakti kapan kamu mau bawa maituamu ke Ibu?" Tanyanya lagi.
"Kalau tidak ada halangan insyaallah minggu-minggu ini kak. Kenapa kak? Mau ada titip?"
"Tidak kasihan Ibu pasti sudah nungguin kalian" Jelas Kakak Iparnya.
"Oh iya. Siapa tahu kakak ada rencana mau kesana? Sekalian bareng kak"
"Tidak bisa soalnya anak-anak ada sekolah sudah mau ulangan. Titip salam buat ibu kalau kami sekeluarga sehat"
"Iya Kakak nanti saya sampaikan"
"Ayo kita masuk saya sudah lapar" Seru Sakti.
"Iyalah pengantin baru harus banyak makan biar strong kalau di ranjang" Goda Arie menyenggol bahu teman terdekatnya. Hingga istri Mas Pandhu tertawa.
"Heh tidak ada topik lainkah?"
"Mau apalagi kawan ingat e umurmu tahun depan sudah 39 tahun. Mau nanti anakmu panggil kamu tete" Arie menggodanya lagi.
"Sembarang kamu umur boleh nambah tapi jangan ragukan keperkasaan ku kawan" Ucap Sakti memamerkan otot dilengannya.
Tanpa mereka sadari Arvi memperhatikannya dari dalam rumah sambil tersenyum melihat keakraban keduanya.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu makan bersama. Mereka langsung menikmati makan siang dengan lahapnya. Momen berkumpul keluarga yang jarang sekali mereka lakukan. Santi tampak menikmati makan siang dirumah Sakti yang ramai penuh canda tawa anak-anak.
__ADS_1
Makanan favoritenya begitu nikmat terasa. Tidak butuh waktu lama dengan sekejab makanan itu habis disantap mereka. Apalagi cuaca panas dengan kesegaran es buah menemani mereka.
"Santi kenapa pacarmu tidak ikut?" Tanya Istri mas Pandhu mulai akrab dengannya.
"Lagi tugas piket kakak" Jawab Santi sopan.
"Cepat nyusul Arvi ntar kalian baku lomba"
"Ha ha ha" Tawa mereka bareng
"Iyo San tunggu apalagi kalian?" Sela Arie yang mengenal Santi dan sang pacar.
"Mohon doanya kakak" Suara Santi ikut tertawa.
"Amin amin amin" Suara mereka serentak diiringi gelak tawa.
Sewaktu Arvi mencuci piring didapur. Istri mas Pandhu mendekatinya.
"Arvi gimana keadaanmu?" Tanya beliau penuh kasih. Memang mereka jarang ketemu.
"Alhamdulilah sehat Kak" Sahut Arvi tersenyum menjawab pertanyaan iparnya.
"Arvila saya berharap kalian cepat dapat momongan"
Arvi tersenyum saja mendengarnya.
"Jangan tersinggung dengan ucapan kakak. Kamu tahu sendiri umur Sakti sudah kepala empat dia harus punya keturunan biar rumah tangga kalian rukun dengan kehadiran anak. Kami titip Sakti ke kamu"
Ucapnya penuh haru meminta pada adek iparnya itu.
"Insyaallah kak kalau memang sudah waktunya pasti Tuhan kasih"
"Jangan ditunda-tunda dek. Anak bawa rejeki masing-masing. Kalau perlu punya anak kembar cowoq ceweq biar sepasang" Imbuhnya dengan semangat.
Arvi tersenyum mendengarnya. Sebab ia tahu ia menginginkan anak perempuan tapi Tuhan baru memberinya tiga jagoan yang ganteng dan hitam manis.
__ADS_1
Sore hari baru mereka pulang. Tak lupa mereka memanen apa yang ada di sekitar rumah yang kebetulan sedang berbuah pisang dan jeruk. Sebab Baik Arie atau mas Pandhu tidak begitu memiliki pekarangan yang luas. Mereka tinggal di komplek yang padat penghuninya Kampung Lama.
Begitu mereka pulang termasuk Santi rumah kembali sepi hanya tinggal mereka berdua. Sakti merangkul istrinya setelah melepas kepulangan mereka dari rumah. Ada rasa rindu kapan moment itu kembali lagi. Pekerjaan masing-masing menyita waktu untuk bertemu. Walaupun tinggal dalam satu kota.ðŸ˜ðŸ˜