AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Ke Jakarta


__ADS_3

Flasbeck dulu ya.


Perasaan dokter Richat di buat gamang tatkala sambungan telpon mereka putus akibat jaringan yang tiba-tiba hilang. Tanpa pikir lagi dokter Richat menghubungi pihak rumah sakit tempatnya bekerja. Jika ia meminta ijin untuk cuti selama empat hari ada keperluan mendadak.


"Tolong kosongkan jadwal praktek ku di rumah Sakit!" Pintanya lewat ponsel


"Ih Tumben dokter cuti? Biasanya full" Tanya rekan kerjanya terheran-heran.


"Iya ada keperluan mendesak tidak bisa ditinggal" Jelas dokter Richat.


"Mau kemana sih dok?" Tanyanya kepo.


"ih mau tau aja!" Sela dokter Richat


"Ke Papua ya dok?"


"Tidak ke Jakarta"


"Jangan lupa buah tangannya dok!"


"Iya kalau ingat" cibir dokte Richat.


Dari balik pintu mendengar Deddynya mau ke Jakarta Junior begitu semangat bukan main.


"Betulkah Deddy kita ke Jakarta?" Tanya ulang Junior seakan tidak percaya.


Deddynya tersenyum. Rupanya sedari tadi Junior nguping pembicaraanya dengan rekan kerjanya.


"Iya kita nyusul mommy!" Jelasnya membuat mata Junior berbinar-binar.


"Bik tolong siapkan baju kami berdua!" Pinta dokter Richat dengan sopan sebab sang bibik lagi rapikan pakean junior yang telah beliau setrika.

__ADS_1


"Baik tuan!" Jawab bibi sambil mengangguk.


"Bik jangan kasih tahu mbak Arvi jika dia telpon kalau kami nyusul" Pinta dokter Richat mengingatkan.


"Iya Pak. Lalu kalau tuan besar gimana Pak?" Sela bibik ingat sang ayah mertua.


"Kalau ayah biar aq hubungi sendiri"Jelas majikannya dengan santun.


"Waduh mas Junior nyusul mommy ke Jakarta" Goda bibik tersenyum pada Junior.


"Bik nanti jagain Catty ku ya!" Pinta Junior pada sang bibik untuk menjaga piaraan yang sangat ia sayangi.


"Siap mas ganteng!" Seru bibik menunjuk hidung anak majikannya yang mancung.


"Oh ya bik jaga makannya. Kalau ada apa-apa telpon saya segera" Titahnya yang juga sayang Carry.


Catty adalah kucing betina lokal warnanya putih ke abu abuan. Pipinya gembul dengan kumis tebal semakin menggemaskan. Junior sangat menyukai hewan berkaki empat yang suka makan ikan. Tiada hari tanpa main sama Catty. Saking sayangnya kemana-mana dibawa. Tapi perjalanan ke Jakarta ini terpaksa tidak di ajak cukup di titip di bibik.


Ketika menghubungi ayah mertua jika mereka akan menyusul Arvi. Besar harapan Pak Hartono agar rumah tangga keduanya berjalan secara harmonis. Saling merekatkan hubungan diantara keduanya. Kesan yang ingin ditunjukkan Richat pada mertuanya. Memang ia ingin mendapatkan hati Arvi seutuhnya bukan hanya suami diatas kertas. Siapa tahu akan tercipta sesuatu yang telah lama ia impikan. Kan selama menikah mereka tidak pernah bulan madu.


Ia sadar selama tujuh tahun lamanya dunianya hanya untuk bekerja. Jarang sekali ia membawa Arvi dan Junior jalan-jalan. Paling ke mall belanja kebutuhan bulanan itupun kalau ada waktu. Sebab Arvi tipikal wanita yang mandiri tidak terlalu bergantung pada suami. Itu salah satu sifat yang di kagumi dokter Richat. Dia wanita yang tangguh saking tangguhnya ia cuekin dokter Richat.


Richat ingin memberi surprise pada Arvi jika ia akan menyusulnya ke Jakarta. Kota yang penuh kenangan untuk pertama kalinya ia pernah mengikuti seorang wanita. Wanita yang kini menjadi istrinya. Ingatannya akan peristiwa tujuh tahun lalu masih terbayang dipelupuk mata. Ia tersenyum sendiri jika mengingatnya.


Apalagi perpisahan keduanya diparkir bandara keduanya saling berciuman penuh rasa. Tentu tidak dapat ia lupakan. Ingin rasanya ia mengulang.


" Mungkin ini yang dinamakan rindu!" Batin Richat tersenyum sendiri mengangkat kejadian itu.


"Deddy koq kita gak kasih kabar mommy jika kita mau nyusul ke Jakarta?" Celotehnya dengan wajah yang menggemaskan. Celoteh Junior membuyarkan lamunannya. Seketika wajah Arvi lenyap dalam pikirannya.


"Kita kasih kejutan buat Mommy!" Jelas Deddy nya mengusap rambut anak tampannya yang mirip Sakti. Ga ada mirip-miripnya dengan dirinya. Memang bukan dirinya yang tanam saham tapi dia yang ngurus dari masih di kandungan hingga sekarang.

__ADS_1


"Deddy jika kita pulang naik kereta lagi ya" Rengek Junior tampak senang melihat pemandangan di luar. Sebab baru pertama kali ia diajak Deddy nya naik kereta api.


"Iya"


"Mommy pasti seneng lihat kita datang! Junior kangen mommy kan?" Tanya Richat dengan sayangnya memeluk anak cerdas dan menggemaskan itu.


Junior mengangguk tersenyum sambil memainkan Spiderman yang baru dibeli Deddy nya.


"Junior kangen mommy kangen masakan mommy yang lezat"


"Kalau ketemu mommy Junior mau apa?"


"Junior mau dedek bayi. Teman-teman Junior pada punya adek kayak Misca sudah punya adek dua" Celotehnya dengan riang tanpa beban. Justru membuat Deddy nya tersenyum miris.


"Bagaimana mau punya dedek bayi jika mommy mu tidak mau tersentuh. Mommy mu hanya ingat ayahmu bukan Deddy. Maaf sayang belum bisa memenuhi keinginanmu yang satu itu. Tapi Deddy janji akan membahagiakan kalian berdua. Maafkan Deddy sayang" Ucap dokter Richat membatin. Ia menarik nafas dalam untuk menstabilkan hatinya yang rapuh. Tapi kehadiran Junior di sisinya mampu membuatnya tertawa walau ada rasa sakit yang menusuk di relung hatinya.


"Deddy koq sedih?" Junior memperhatikan Deddy nya yang berkaca-kaca.


"Enggak mata Deddy kelilip kena debu" Kelitnya berbohong.


Tiba-tiba Junior memeluknya dengan erat. "Aq sayang Deddy aq gak mau jauh dari deddy!!" Ucap polos Junior seakan ia takut jika Deddy nya akan pergi jauh meninggalkannya.


Perjalanan kereta api dari Semarang ke Jakarta memakan waktu enam jam lebih sepuluh menit. Sempat beberapa kali berhenti di stasiun untuk menaikkan beberapa penumpang. Bahkan sempat berhenti lama di stasiun Cirebon mengisi bahan bakar. dokter Richat juga belum pernah menginjak kota yang letaknya di pesisir pantai Utara Jawa berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Pantura memang tiada lawan


Sengaja dokter Richat naik kereta ia ingin mengajak Junior berlibur dengan naik kereta. Dalam benaknya kapan lagi ia membawa bocil itu jalan-jalan ke Jakarta sebab dia sudah mau pindah tugas ke Papua Barat. Kesempatan yang sengaja ingin buktikan bahwa ia ayah yang bertanggung jawab.


Flasbeck finis


********


Pukul lima sore kereta telah berhenti di Stasiun Senin. Tampak keduanya turun dengan ceria bersama para penumpang yang lain. Besar harapan dokter Richat bertemu dengan orang yang tersayang.

__ADS_1


__ADS_2