AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Tidak Mau Ngalah 2


__ADS_3

Kata-kata Sakti begitu terdengar sangat panas dan menyakitkan ditelinga dokter Richat. Rasa cemburu telah menguasai hati dan pikirannya.


Ada rasa sakit yang menyayat di sekujur tubuhnya Kala Sakti dengan santai mengakui jika mereka telah tidur bersama. Cemburu telah membutakan hati dan pikirannya. Tak peduli dengan titel yang disandangnya. Ia tetaplah manusia biasa yang punya rasa sakit dan kecewa.


"Aq yang menemaninya selama tujuh tahun tapi tidak pernah menyentuhnya. Tapi kenapa kamu yang baru muncul mampu memenangkan hatinya" Ucapnya membatin dengan kesal ia menghajar Sakti tanpa ba bi be bo.


Ada rasa cemburu yang menguasai pikirannya. Tidak ingin membuang kesempatan yang ada. Dokter Richat membalas kekalahannya tadi di lobi. Sekalian ia ingin memberi pelajaran pada Sakti telah menyentuh istrinya.


Buck...Buck...Buck


Tanpa aba-aba dokter Richat mendorong Sakti ke dinding dan memukulinya bertubi-tubi. Mendapat serangan yang mendadak tentu Sakti tersudut.


Suasana makin tidak terkendali keduanya berkelahi tanpa ada yang mau mengalah. Keduanya berkelahi tanpa memikirkan perasaan Arvi yang mencoba untuk melerai keduanya.


"Kumohon hentikan kalian saling menyakiti!!" Pekiik Arvi mencoba melerai keduanya dengan air mata yang terus jatuh menghujan.


Sepertinya keduanya tidak mempedulikan teriakannya. Perkelahian itu tak dapat terhindar. Keduanya dalam penuh amarah yang menyala-nyala.


Keduanya saling berkelahi tanpa mempedulikan Arvi. Terbesit dalam pikiran Arvi untuk mengakhiri hidup saja. Jika keduanya terus berkelahi tidak ada yang mengalah.


Arvi meraih vas bunga yang ada di meja. Lalu ia membanting ke lantai marmer yang mengkilap itu.


Pyar...

__ADS_1


Mendengar benda pecah di lantai mereka berdua menghentikan perkelahian mereka dan fokus pada sumber suara tersebut.


Seketika Arvi menggengam pecahan vas bunga yang terbuat dari kaca. Darah kental memenuhi tangan kanannya.


"Arvi!!" Pekik Dokter Richat berhambur mendekati sang istri.


"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Sakti tak kalah paniknya melihat darah segar keluar dari tangan Arvi.


"Peduli apa kalian padaku" Tolak Arvi mencoba menghindar dari keduanya.


Sakti mencoba meraih tangan Arvi tapi buru-buru dokter Richat menepis tangannya.


"Ini tanggung jawabku" Ucapnya membawa Arvi keluar dari ruangan tersebut. Arvi pun tidak menolak ajakan dokter Richat. Keduanya berlalu tanpa menghiraukan Sakti yang terlihat shok. Ia tidak menyangka jika Arvi senekat itu.


Sakti terlihat kecewa dokter Richat melarangnya untuk ikut.


*****


Di Semarang


Sampai juga mereka di kota yang populer dengan kulinernya lumpia. Selama dalam perjalanan pulang ke Semarang Dokter Richat tidak ingin bertanya atau pun membahas antara Arvi dan Sakti. Seakan tak inginkan by tahu tentang apa yang terjadi sebelum kehadirannya di Jakarta.


Yang ada di pikirannya hanya Junior. Ia tidak mempedulikan soal perasaan hatinya yang kecewa.

__ADS_1


Arvi pun hanya diam dalam pikirannya. Sosok suami pertamanya terus melintas di pelupuk mata. Sesekali ia mengulas senyum pada Junior. Dokter Richat berapa kali mencuri pandang arvi.


"Entah suka atau tidak suka aq lah suamimu saat ini bukan Sakti" Batin Dokter richat.


"Maaf bila aq egois semua demi kebaikan Junior"


"Kutahu engkau tidak mencintaiku tapi tetaplah bersamaku hingga akhir hayatku"


"Aq tahu engkau ingin kembali pada Sakti, beri aq ruang dihatimu. Kutahu sampai kapan pun kamu menutup pintu hatimu"


Begitulah uneg-uneg yang ada dipikiran dokter Richat saat itu.


Tanpa meminta persetujuan Arvi mereka langsung menuju stasiun Pasar Senin pulang ke Semarang. Ia tak ingin baik Arvi maupun Junior ketemu Sakti.


Melihat tangan sang mommy yang terluka membuat Junior sedih. Bahkan rencana mereka yang ingin jalan-jalan di Jakarta gagal total. Untungnya Junior anak yang penurut dan gak neko-neko. Bahkan ia terlihat kawatir akan kondisi sang mommy dan Deddy nya.


Mungkin bocil itu ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tidak berani. Bukan karena takut dapat marah dari keduanya tapi anak itu sangat sayang terhadap keduanya. Ia tidak ingin membuat keduanya repot. Anak itu sama sekali tidak merengek minta sesuatu. Karena perjalanan itu memakan waktu lama tak lupa dokter Richat membeli bekal makan untuk mereka bertiga.


Entah gak doyan atau memang gak ada nafsu untuk mekan. Padahal bekal yang di beli dokter Richat adalah makanan kesukaan Junior. Makanan itu tidak tersentuh sama sekali. Hanya air mineral yang masuk ke tenggorokannya.


Bahkan dokter Richat menawari Arvi untuk makan tapi ia hanya menggelengkan kepala. Sepertinya Arvi merah terhadapnya. Bahkan ia tidak mau bicara padanya. Ia hanya menyaut seperlunya. Mungkin karena kehadiran Junior jadi suasana tidak terasa kaku.


Sepanjang perjalanan di kereta. Hampir enam jam ia hanya memeluk erat sang mommy. Seakan ia tidak ingin lepas dari jangkauannya. Bahkan sorot mata bocil begitu sendu menatap keduanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2