AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Terlanjur Sayang


__ADS_3

Esok hari Arvi bangun pagi mengikuti kegiatan kantor yang di adakan di hotel tempatnya menginap. Arvi tidak sempat menghubungi Junior lagi sebab dia bangun terlambat akibat begadang semalam.


Di lobi Arvi menikmati sarapan pagi yang disediakan Pihak hotel. Ia begitu tidak ada selera dengan menu hidangan yang tersedia. Bukan tidak lezat tapi hatinya yang terusik. Ia begitu kecewa dengan keputusan Sakti yang tetap merelakannya pada Richat dan meminta Junior.


Melihat rekan kerjanya yang terlihat kusut seperti kain lap. Danuarta, Mita dan Rio memperhatikan dengan seksama.


"Eh istrinya pak dokter pagi-pagi pasang muka mendung bikin gue ilfeel aja!" Seru Rio terang-terangan.


"Buang jih jauh galaumu!" Sindir Mita yang mendapat tatapan tajam dari Danuarta yang sedari tadi menikmati sarapan pagi dengan lahapnya.


"Nanti kamu sakit loh kalau terus dipikirkan!" Bujuk Rio melihat Arvi yang penuh kepikiran.


"Aq bingung!"Ucap Arvi lirih


"Coba ada yang mencintaiku seperti mereka. Arvi....pasti aq jadi wanita yang paling beruntung di dunia ini" Celetuk Mita bangga dan berharap punya kekasih hati. Usia Mita lebih tua dua tahun dari Arvi tapi kelakuannya kayak anak umur tujuh belas tahun. Bisa dibilang prawan tua.


"Eh prawan tua berhayal loh!!" Sindir Rio


"Kata-katamu gak ada halus-harusnya jika bicara padaku!" Protes Mita yang hafal betul karakter Rio teman sekantornya itu.


"Apanya yang mau dihalusin situ anak ABG udah bau tanah aja begaya" Ucap Rio yang membalasnya dengan candaan yang tak kalah pedisnya.


"Biarlah bau tanah emang manusia di ciptain dari tanah. Nah Khusus kamu dari jin bawa pengaruh tidak baik" Sahut Mita gak mau kalah.


"Sudah-sudah malu didengar orang!" Bisik Danuarta sebab orang-orang sudah memperhatikan ulah kedua temannya yang bawaannya ribut melulu.


"iya-iya!" Sahut Mita menurunkan suaranya.


"Mampus loh!" Seru Rio


"Ssst"

__ADS_1


Jari Danuarta memberi isyarat agar mereka segera menyelesaikan kegiatan sarapan pagi. Sebab kegiatan setengah jam akan dimulai lagi.


Mereka berdua palah ribut sendiri di meja makan. Buat Arvi dan Danuarta gak heran keduanya memang kayak Tom and Jerry gak pernah akur. Berantem terus bawaannya. Tapi anehnya kalau gak ada salah satu baku cari. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.


Sementara selama Arvi menjalani biduk rumah tangga bersama Richat selama tujuh tahun tidak ada perkembangan. Pernah ia utarakan untuk mengakhiri saja hubungan mereka tapi Richat menolaknya. Ia bersikukuh mempertahankannya. Ia terlanjur sayang dengan anak itu. Walau bukan darah dagingnya tapi dengan tulus ia menyayangi Junior. Tentu sikap Richat membuat Arvi makin merasa bersalah.


****


Flass back dulu


Hari itu tanpa sengaja mereka terlibat pertengkaran sebab dokter Richat begitu memanjakan Junior dengan mainan yang cukup menguras kantong. Apa saja yang Junior mau selalu dituruti. Membuat Arvi geleng-geleng kepala, begitu pun Pak Hartono sangat memanjakannya cucu yang paling bontot itu.


"Mas jangan terlalu memanjakan Junior dengan mainan dia malas belajar" Ucap Arvi memulai pembicaraan. Sebab Junior asik bermain dengan mainan robot barunya dari pada belajar. Sebab suaminya itu sibuk kerja di rumah sakit seharian.


"Tidak dek itu hanya mainan biasa" Kilahnya tersenyum. Ia tahu Arvi tidak menyukai caranya untuk memanjakan Junior dengan mainan kesukaannya. Bahkan saking sayangnya dengan Junior apa saja untuk Junior. Begitu beruntungnya Junior memiliki ayah sambung seperti dokter Richat.


"Semakin engkau menyayanginya susah untuk melepasnya"


"Apa yang engkau pikirkan"


"Apa maksudmu? Dia anakku!"


"Hentikan omong kosong ini mas cepat atau lambat Junior tahu jika mas bukan Deddy nya"


"Bicara apa kamu Arvi!"


"Aq bicara fakta mas!"


"Sampai kapan pun dia anakku. Aq Deddy nya. Ecamkan itu baik-baik" Belum pernah ia dibentak suaminya itu. Ada amarah yang tidak diperhitungkan Arvi.


"Mas ingat Junior anak Sakti" Jelas Arvi lirih menunduk mencoba menjauh dari dokter Richat.

__ADS_1


"Jika dia anak Sakti kenapa? Berapa kali harus ku jelaskan aq tulus menyayanginya. Aq tahu kamu tidak ada hati untukku hatimu hanya terpatri pada Sakti. Cobalah untuk melupakannya dia telah tiada. Aq suamimu sekarang. Lupakan dia..."Ucap dokter Richat panjang lebar. Ia menatapnya penuh keyakinan tapi Arvi tidak bergeming. Ia hanya diam. Arvi tak mampu berucap lagi. Lidahnya mulai kelu otaknya bleng kayak gak ada isi lagi.


"Aq selalu untukmu!!"Lanjutnya penuh penekanan tapi dasar Arvi udah bucin sama Sakti tidak menghiraukan perasaan suaminya itu. Kata-kata itu gak mempan menembus dinding hatinya yang beku kayak balok es.


Buru-buru Arvi menepis tangan dokter Richat yang meraih bahunya. Bukan ia jijik tapi ia sadar diri ia selalu mengecewakannya.


Jika dari luar terlihat keduanya harmonis tapi di rumah mereka seperti orang asing. Sebagai orang tua Pak Hartono malu dengan sikap Arvi tapi ia hanya memendamnya dalam hati. Dalam pemikirannya seiring waktu biar cinta tumbuh dengan sendirinya nyatanya itu tidak terjadi pada Arvi dan dokter Richat. Hanya sebelah saja yang satu menutup diri di gua cintanya pada Sakti. Tidak mungkin ia memaksa Arvi terus menerus untuk mencintai dokter Richat.


"I love you..."Ucapnya lirih tapi masih terdengar jelas ditelinganya tapi Arvi tidak mempedulikannya. dokter Richat tersenyum kecut jika perasaannya selama ini tidak terbalas. Sebagai lelaki sejati Richat tidak akan ingkar dengan janjinya pada ayah Arvi. tapi Arvi yang seolah tidak mau membuka diri.


Sebagai seorang wanita Arvi sadar sesadar sadarnya jika dokter Richat sangat menyukainya, tapi hatinya terpaku pada Sakti. Jangan-jangan Sakti pake ilmu pelet atau ramuan dari orang pintar hingga Arvi menutup hatinya. Padahal sudah lama mereka tidak bertemu.


Flasbeck finis


Sementara Sakti dia menginap karena ada kegiatan di Kementrian di Kemenkumham. Sementara ada beberapa rekan kerjanya yang menginap di hotel lain sebab hotel yang Sakti tempati sudah penuh.


Hari itu kegiatan begitu padat dari pagi. Tak lupa ia memberi kabar pada suaminya lewat pesan WhatsApp


(Mas sudah antar Junior ke Sekolah?)


(Sudah. Kabarmu gimana?)


(Aq sehat mas. Oh ya mas aq titip Junior)


(Iya. )


(Dia tidak rewelkan?)


(Ada Deddynya koq rewel)


(Oh ya makasih🙏🙏🙏🙏)

__ADS_1


(👍)


Setelah memberi kabar pada suaminya Arvi terlihat tenang. Tanpa diminta dokter Richat akan mengurus dan menjaga anak sambungnya dengan penuh tanggung jawab Tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Memang dia ayah idaman semua orang terutama ibu-ibu yang mendambakan suami yang setia dan baik hati.


__ADS_2