
Pagi hari Santi menyiapkan sarapan pagi buat mereka berdua. Seperti hari ini Arvi dengan rutinitasnya morning sickness nya wajahnya pucat dan tubuhnya kurus. Akibat sering muntah sampai suaranya hilang. Santi semakin iba pada teman kostnya itu.
Walau muntah Arvi mencoba melawannya ia tetap makan walau hanya sedikit, untuk memenuhi asupan nutrisi sang jabang bayi yang ada di perut. Pagi hari satu jam sebelum makan ia mengonsumsi obat untuk mengurangi frekuensi muntah yang berlebih.
Terdengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah. Arvi dan Santi yang sedang menikmati sarapan di meja makan segera keluar menuju sumber suara.
Rupanya tamu itu orang yang sangat familier dengannya. Arie datang sendiri dengan mobil dinas. Ia mengenakan baju seragam kebesarannya baju keki. Ia tampak gagah dan menawan dengan baju itu.
Arvi tersenyum menyambutnya. Ada sedikit rasa kecewa tapi ia mencoba singkirkan. Arie juga teman suaminya.
"Assalamualaikum. Selamat pagi" Suara Arie tersenyum.
"Waalaikum Salam. Met pagi juga kak!" Jawab Arvi tersenyum dengan wajah cantik sedikit pucat.
"Sakti belum kembali?" Tanya Arie penuh slidik menatap Arvi yang sudah rapi.
"Belum Kak" Jawab Arvi mencium tangannya. Arie hanya menghela nafas dalam.
"Sudah coba hubungi dia?" Tanyanya lagi.
"Sudah tapi nomor selalu diluar jangkauan. Oh ya kak Arie masuk dulu" Jawabnya mempersilahkan masuk ke rumah.
"Kak Arie tidak bisa lama-lama mau kerja. Saya sudah sempat hubungi keluarga tapi mereka gak tahu dia kemana? " Jelas Arie mencoba untuk menenangkan. "Tapi kamu tenang saja mungkin Sakti ingin menenangkan diri sejenak dari masalah kemarin" Lanjutnya tak ingin melihatnya tambah sedih.
"Semoga saja dia cepat menghubungi kita" Potong Arvi mencoba berlapang dada.
"Saya harap kamu tidak mudah percaya dengan pemberitaan itu. Saya sudah tahu pribadi Sakti seperti apa? Jika ia mau kenapa baru sekarang kenapa tidak dari dulu sebelum kalian menikah" Ucap Arie meyakinkan.
"Iya Kak saya ngerti"
"Kuharap kamu lebih sabar dan mengerti keadaannya. Saya juga sendiri gak tahu dengan kejadian yang sebenarnya"
__ADS_1
"Mas Pandu berencana akan turun ke Manokwari mencari keberadaan Sakti"
"Tidak usah Kak nanti saya akan menghadap Pak Sekwan sendiri. Sepertinya beliau tahu posisinya"
"Semoga saja. Oh ya kamu hati-hati dirumah. Aq pergi dulu kalau Sakti pulang kasih kabar suruh hubungi aq. Kalau ada apa-apa tidak usah sungkan bilang saja e" Tuturnya mencoba untuk meyakinkan dia. Arie tahu jika Isti Sakti saat ini hanya mencoba untuk tenang tapi dia dalam kondisi tidak baik.
Di Kantor Seketariat Dewan.
Arvi meminta ijin menghadap ke Pak Sekwan. Sebelum memasuki ruangan tampak beberapa staf menatap sinis ke arahnya. Senyum meledek terlihat padanya. Arvi hanya mencoba untuk memberanikan diri menghadap beliau sebelum atasannya ke Kantor.
"Oh mari silahkan masuk ada yang bisa saya bantu" Sambut Pak Sekwan tersenyum ramah padanya.
"Ya terima kasih bapak atas waktunya"
"Oh ya bagaimana ada yang bisa bapak bantu? Jangan lama-lama saya mau ada rapat ke Kantor Bupati jam sepuluh nanti" Sahut Pak Sekwan mengingatkan.
"Baiklah kalau begitu saya mau tanya tentang keberadaan Mas Sakti? Maaf Pak Sakti?" Suara Arvi terbata-bata ia lupa jika ini kantor bukan rumah.
"Oh Pak Kabag Sakti. Untuk pagi ini saya belum ketemu dia. Seharusnya kami akan rapat bareng ke sana" Jelas Pak Sekwan belum ngeh dengan maksud pertanyaan Arvi.
"Hal itu tujuan saya bertemu Pak Sekwan. Saya ingin tahu tentang keberadaan beliau?" Tanya Arvi penuh hati-hati. Sontak Pak Sekwan kaget mendengar pertanyaan Arvi. Pak Sekwan balik bingung.
"Kemana perginya Sakti? Kenapa kemarin tidak kasih tahu? Lalu kemana dia sekarang koq belum balik-balik" Tanyanya dalam hati penuh curiga dan penuh tanda tanya mulai berkecamuk di hatinya. Ada perasaan was-was memenuhi ruang itu.
Flassback dulu ya
Selesai dari Kantor Polisi. Sakti balik ke hotel dengan atasan kantornya itu. Sikap atasannya tidak berubah sedikit pun.
"Terima kasih atas perhatiannya Pak"
"Sebagai atasan Bapak ingin bersikap adil dan bijak. Tapi itu pun di salah artikan dikira saya memihak Pak Sakti" Jelas Pak Sekwan menepuk bahunya. Terlihat rasa jengkel diwajah beliau tidak terima disudut kan Bu Hanna. Jika beliau dianggap memihak Sakti
__ADS_1
"Saya paham Pak maksud dan tujuan Pak Sekwan. Tapi itulah wanita maunya menang sendiri. Akan aku buktikan jika aq tidak pernah menyentuhnya". Sahut Sakti meyakinkan.
"Tapi tidak termasuk maitua ku Pak Sakti" Potong Pak Sekwan menggoda Sakti.
"Itu lagi Pak" Suara Sakti ikut balik tertawa walaupun ia masih kesel dengan kejadian semalam.
"Teman-teman sudah pada balik. Kalau Pak Sakti mau duluan silahkan atau bareng saya juga gak apa-apa saya masih ada urusan keluarga di sini. Paling malam saya berangkatnya" Tutur Pak Sekwan menawari Sakti.
"Terima kasih pak, tapi maaf sebelumnya saya tidak bisa ikut. Saya langsung mau chek out langsung balik saja besok sudah masuk kantor" Jawab Sakti.
"Oh. Iya sudah. Saya balik lagi ke kamar Hotel"
"Siap Bapak!" Sahut Sakti setengah menunduk pada atasan kantornya tersebut.
Itulah percakapan terakhir atara Sakti dengan Pak Sekwan. Setelah itu Sakti kembali ke kamar untuk berkemas mempersiapkan apa saja yang ia bawa. Tak lupa Sakti menyempatkan mengisi daya batre ponselnya yang sedari tadi malam mati.
Tidak butuh waktu lama ia kemasi pakean serta komputer jinjingnya. Serta beberapa surat dokumen dari hasil konsultasi kegiatan kemarin telah ia persiapkan.
Sakti menghubungi seseorang. Tak lain orang itu adalah sopir langganannya.
" Hallo Selamat siang Bang!"
" Met Siang boss. Ada info muatankah boss?" Tanya seseorang dari sebrang tampak sumringah dihubungi Sakti.
"Iyo bang ini saya mau minta tolong adakah yang mau jalan sekarang" Jelas Sakti.
"Ada boss ini teman saya yang mau berangkat. Nanti saya kasih tahu untuk jemput boss" Jelasnya penuh semangat.
"Okey bang ditunggu konfirmasinya balik"
"Sip boss"
__ADS_1
Sakti mengakhiri panggilannya. Tidak butuh waktu lama langganannya itu menghubunginya. Ia bercerita jika akan ada sopir yang turun sesuai dengan permintaan Sakti. Sakti pun menyetujuinya.
Akhirnya Sopir itu pun menjemput Sakti dari hotel tempatnya menginap. Rasa lelah dan penat semalaman membuatnya lupa jika ada orang yang menunggu kabar jauh dirumah. Saking lamanya membujang Sakti lupa jika ada sosok yang menunggunya dirumah. Sosok yang butuh perhatiannya. Entah kenapa ia melupakan sang istri apakah ia ingin memberi surprise padanya? atau dia benar-benar lupa karena masalah itu.