AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Terjaga dari Tidurnya


__ADS_3

Sakti terjaga dari tidurnya perutnya yang lapar minta diisi. "krruk.,krruuuk...Krruuuk "Suara perutnya memberontak lapar. Baru ia ingat kalau habis pulang kerja dia tidak makan malam. Sebetulnya malas bangun ingin lanjut tidur aja tapi perutnya lapar sekali.


Sakti bergegas bangun menahan ngantuk menuju dapur. Dibukanya lemari dapur stock mie instan favoritenya. segera ia nyalakan kompor masak mie instan. Saking laparnya masak dua bungkus sekaligus.


Aroma rasa soto mie instan begitu menyeruak seisi ruangan. Dengan lahapnya ia menikmati mie diruang tengah. Tidak butuh waktu lama mie satu mangkok habis disantap. Bergegas ia bangkit dan kembali ke kamar semula tertidur. Sakti menyentuh pipi dan keningnya masih demam. Lalu diusap rambut yang menutup sebagian wajahnya. Tak sadar sentuhan itu membangunkannya. Segera ia tersadar gadis ayu itu terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke sekeliling ruangan dilihatnya Pak Kabag ada disampingnya. "Aq ada dimana?" Tanyanya lirih nampak ketakutan sampe bibirnya gemetar. " Kamu aman disini"Jelasnya meyakinkan. Arvi masih tidak tahu dia ada dimana sekarang. "Pak saya mau pulang" Pintanya mau bangkit dari tempat tidur tapi tiba-tiba tubuhnya roboh kembali pingsan ga mampu menopang seperti sudah tidak ada tenaga. Untung masih dikasur segera ia baringkan kembali.


Sakti menyelimutinya, tanpa ia sadari ia ikut terlelap disampingnya.

__ADS_1


Suara alarm Hp bergetar sembari mengantuk ia bergegas bangun dan jalan mencari sumber alarm mencoba untuk mematikannya. Rupanya alarm Hp Arvi yang bergetar didalam tas kerjanya. Sakti tersenyum sambil ngantuk"Rupanya rajin juga ia ibadah" Lirihnya berbisik. Segera ia ke kamar mandi ambil air wudhu untuk sholat subuh.


Selesai sholat Seperti biasa ia merebus air untuk minum kopi. Tak lupa ia membuat bubur dan merebus telur. Terbiasa hidup sendiri sampai ia hafal apa saja yang harus ia lakukan dirumah. Mulai dari cuci pakean, nyetrika baju, masak dan bersih-bersih rumah ia kerjakan sendiri. Kadang ia merasa tak butuh wanita untuk mendampinginya. Karena semua pekerjaan perempuan ia bisa lakukan tanpa terkecuali.


Sakti asyik didapur menikmati kopi paginya sambil mengaduk bubur takut kelamaan gosong. Tak lupa ia pun mencuci baju kemarin yang kotor. Tiap dua hari sekali ia mencuci baju kotornya.


Arvi diam duduk melihat keluar jendela terlihat pohon mangga disamping sehingga terasa sejuk dan rimbun. Lama ia memandang keluar jendela, air matanya perlahan jatuh teringat kejadian semalam. Diusapnya perlahan lama ia memejamkan mata mencoba untuk tegar dan tidak boleh lemah hidup diperantauan. Pikirnya sejenak mungkin hal-hal seperti ini yang menjadi alasan orang tuanya untuk melarangnya merantau jauh. Lengannya masih terasa sakit akibat semalam Perlahan ia singsingkan baju terlihat bekas pukulan orang itu hitam membiru di lengannya. Ada harus rasanya sakit sekali. Ketika hendak turun dari kasur kebetulan Sakti masuk ke kamar untuk mengecek keadaannya.

__ADS_1


"Sudah bangun!" Sapanya mendekat dan ingin membantunya, tapi tanpa sengaja ia memegang lengannya yang memar sehingga Arvi teriak kesakitan. "Aouuuu!!" Teriaknya menjerit kesakitan. Tangan Sakti lalu ditepisnya. "Kenapa teriak? malu didengar tetangga" Tanyanya melarang teriak tak enak hati pagi-pagi tetangga dengar. "Sakit tahu!" Seru Arvi meringis kesakitan lalu ia mengusap air matanya yang jatuh berderai. Menyaksikan adegan tangis dipagi hari membuat Sakti emosi. Sebab ia tidak pernah melihat wanita menangis dirumahnya. "Saya tidak apa-apakan kamu, saya hanya menolongmu kenapa kamu menangis?" Tanyanya baper sendiri, menarik Arvi yang semula berdiri kembali duduk dikasur. "Siapa yang tuduh Pak Kabag ? Tidak ada" Sahut Arvi menoleh ke arahnya butiran air mata berderai nahan sakit. Kedua mata mereka saling menatap. Tatapan sendu nan teduh terpancar dari sorot mataya. Pria berambut putih yang baru pertama dilihatnya memakai kaos. Segera Arvi mengalihkan pandangannya ke depan. Tapi Sakti tak kalah akal untuk menarik perhatian dari gadis muda itu. Dia sadar lawan bicaranya ini malu menatapnya. Diam-diam gadis ini mulai mencuri hatinya "Mana yang sakit?" Tanyanya pelan, lalu Arvi menoleh ke lengan kanannya. Sakti perlahan meraihnya. Sontak ia terkejut lengannya hitam membiru. "Aduh sakit mas". Ucapnya menarik nafas panjang kesakitan. " Saya minta maaf dengan kejadian semalam andai aq tidak antar Pak Sekwan duluan mungkin tidak akan begini" Terang Sakti meminta maaf atas kejadian semalam bahkan menyalahkan diri sendiri. Arvi tidak mengira kalau Pak Kabag akan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpanya kemarin malam. "Justru saya berterima kasih kalau bukan mas datang nolongin saya, ga tahu nasib saya bagaimna? Saya pikir mas gak balik lagi?" Sahut Arvi mulai bercerita sedikit tennag. "Tapi saya balik lagi toh?" Sela Sakti tersenyum. " Kamu gak sabar menungguku. Mulai besok dan seterusnya kamu gak boleh pulang sendiri kalau malam. Aq akan jagain kamu" Janjinya mencoba meyakinkan Arvi untuk menjaganya selalu. Arvi mengangguk sembari menebar Senyum yang mempesona dipagi hari. Yah senyum yang tidak pernah ia temukan dirumah ini. Senyum terang mulai terbit disudut bibir Arvi yang manis membuat hatinya jadi dag Dig dug ga karuan " Mas Sakti bikin aq melayang". Sahutnya tersenyum menggodanya. " Syukur kalau kamu udah baik". Sakti tersenyum lega karena Arvi sudah terlihat tenang gak ketakutan lagi. "Mas mana istri dan anakmu koq ga kelihatan? Mereka kemana mas?" Gerutu Arvi menyadari ketiadaan wanita dirumah Sakti.


Pertanyaan itu meluncur langsung dari bibir manisnya, Sakti agak gugup jika ditanya keberadaan istri dan anak karena sampe sekarang ia belum menikah alias jomblo tua. Bisa hancur ini reputasinya Dimata Arvi. Bahkan ia bisa membully nya habis-habisan. Sakti terdiam sejenak mencoba untuk setenang mungkin mencari jawabnya. "Menurutmu? " Justru pertanyaan balik yang ia lontarkan ke Arvi. Arvi mengerutkan dahinya. " Loh koq menurut aq?". Suara manjanya begitu memikat hati dan pikiran Sakti. Dengan suara lembutnya siapa aja akan luluh mencintainya. "Iya itu tergantung dari kamu mau apa enggak?" Timpal Sakti tersenyum gemes melihat tingkah manjanya Arvi belum genap dua puluh dua tahun ibarat bunga lagi mekar indah dipandang siapa saja akan terpesona melihatnya. Arvi terlihat cemberut mendengarnya agak membingungkan kedengarannya tapi itu jawaban dari Sakti. Seketika Sakti mengacak -acak rambut Arvi yang berantakan sembari tersenyum puas kalau gadis disampingnya belum ngeh dengan pernyataannya. "Begitu polosnya gadis ini" Lirihnya tersenyum. Arvi merasa terhibur dengan candanya dan sedikit mengurangi rasa traumanya semalam. Sebetulnya Arvi ingin tahu siapa yang gantikan bajunya semalam waktu pingsan tapi malu ia urungkan.


Sakti menyuruhnya sarapan dengan bubur yang dibuatnya tadi. Sakti menyuruhnya untuk istirahat untuk sementara dirumanya. Arvi mula menolak minta diantarkan pulang kerumah kostnya saja dia juga bisa jaga diri kalau ada apa-apa biar tetangga kost yang membantunya, tapi dengan berbagai alasan sakti yang ingin merawatnya sampe sembuh dilengannya membuatnya luluh mengikuti saran Sakti. Sekali mendayung dua pulau terlampaui" Bisiknya dalam hati akan mencoba memanfaatkan momen ini untuk mendekatinya. siapa tahu berjodoh.


Rencana Sakti ingin melaporkan kejadian semalam ke Kantor Polisi setempat tapi Arvi melarangnya. Walau Arvi anak hukum tapi ia malas dan tidak nyaman berurusan dengan Polisi karena minim saksi dan ribet urusannya bisa memakan Minggu, bulan hingga tahun dalam sebuah kasus. Belum lagi harus kesana kemari menyita waktu, tenaga dan pikiran. Apalagi kasus pelecehan biasanya korban enggan melapor karena malu. Padahal ia masih ingat wajah kedua orang itu mengeluarkan kata-kata kasar melecehkan wanita pendatang serta memukul lengannya hingga memar hitam kebiruan. Peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan. Bahkan baju kantornya sobek ditarik dari belakang.

__ADS_1


Disaat seperti ini keberadaan Santi sangat ia butuhkan tapi ia tak bisa hadir karena ada kerja di Distrik paling cepat satu atau dua Minggu baru datang.


__ADS_2