
Selama dalam perjalanan Sakti meminta sang istri untuk istirahat karena sudah larut. Sebab ia tahu istrinya belum sembuh betul.
Akhirnya pun sampe rumah dengan tepat waktu. Sakti membuka pintu rumah terlebih dahulu sebab Sakti tidak ingin membangunkan sang istri yang tertidur dengan pulas di mobil. Perlahan dia bopong kedalam rumah.
Esok hari.
Arvi bangun menuju kamar mandi ia akan mengikuti petunjuk sang dokter. Tidak butuh waktu lama terlihat hasilnya. Dua garis merah terlihat. Lama ia mondar mandir di kamar mandi. Antara bahagia atau ini masalah baru.
"Secepat inikah aq menjadi ibu?"
"Belum kedua orang tuaku tahu tentang perkawinan ku? Kini aq sudah hamil. Apa yang harus kulakukan"
"Belum lagi menghadapi Bu Hanna sepertinya berita kehamilanku tentu menambah masalah baru"
Batin Arvi berbicara sendiri.
Menyadari sang istri tidak ada Sakti bergegas mencarinya ke kamar mandi. Sebab sudah waktunya sholat subuh.
Rupanya kecurigaannya benar sang istri berdiri di dekat westapel memegangi tespeck. Arvi hanya tersenyum menyambut suaminya.
"Gimana hasilnya?" Tanya Sakti penuh harap.
Arvi mengangguk pelan sambil tersenyum bahagia. Sakti lalu mengangkat tubuh sang istri ke atas. Dengan penuh semangat 45 ia menghujamkan ciuman ketubuh istrinya. Tak menyangka sebentar lagi jadi bapak.
"Aduh mas saya pusing" Suara Arvi mulai oleng. Segera Sakti menuntun sang istri keluar dari kamar mandi.
Dengan telaten Sakti menidurkan Arvi menyelimutinya. Tiba-tiba Arvi memeluk dengan erat tubuh suaminya.
"Mas janji gak akan pergi?"
"Maksudmu pergi kemana?"
"Saya takut mas akan meninggalkan kami"
"Tidak akan pernah aq meninggalkan kamu berdua"
Sakti mendaratkan ciuman di kening arvi.
"Janji e!!! Tapi kalau ada Bu Hanna paling kamu lebih memilih dia dari pada kami?"
"Koq gitu dek? Ya gak mungkin lah dek tetap aq pilih kalian. Apalagi ada si kecil nanti rumah pasti rame. Kamu cemburu sama dia? Kan sudah mas jelaskan" Hayalannya mulai melayang kedepan membayangkan si anak kelak kalau udah lahir.
"Mulai deh berhayal"
"Serius dek?? Oh Tuhan terima kasih Engkau telah memberikanku seorang calon bayi yang akan menjadi penerus keluargaku" Suara Sakti menitikan air mata lalu mencium kedua tangan istrinya. Arvi terharu menyaksikan suaminya menangis karena bahagia.
"Sudah ah nanti sholatnya lambat" Arvi mengingatkannya lagi. Arvi tahu jika Sakti tidak diingatkan ia akan terus menempel ditubuhnya.
"Siap boss"
__ADS_1
Sakti pun bergegas meluncur ke kamar mandi untuk membersihkan diri menjalankan ibadah sholat shubuh yang sudah menjadi rutinitasnya. Sakti ibadah sholat dengan khusuk. Usai sholat tak lupa ia berdoa mengucapkan syukur atas kehamilan istrinya.
"Ya Allah aq bersyukur atas kehamilan istriku semoga dia selalu dalam lindunganmu selalu Semoga kami diberi kesehatan dan diberi kesempatan menjadi orang tua. Ya Tuhanku bimbinglah kami selalu untuk terus bersyukur atas segala Rahmat dan Hidayah-Mu amin amin Ya Robal alamin " Tak lupa ia membaca doa Alfatihah selesai berdoa. Ia berdoa hingga berurai air mata.
Kantor
Seperti biasa Sakti asyik dengan pekerjaannya. Ia berangkat ke Kantor sendiri Arvi hari ini tidak masuk. Sakti memintanya untuk beristirahat saja dirumah. Sebenarnya ia ingin menemaninya tapi Arvi melarangnya. Arvi merasa sehat tapi suaminya takut dengan kondisinya yang lagi hamil.
Istirahat Siang.
Sakti meminta Mas Iwan untuk mengantarkan makan siang ke ruang kerjanya.
"Mas makan siapnya sudah ada silahkan dinikmati"
"Oh ya mas makasih"
"Mas boleh ini aq tanya?"
Heemmmm"
"Tanya Apa mas?"
"Sedikit kepo ini"
"Iyo tanya sudah mumpung aq lagi santai"
"Betulkah mas kabar yang beredar katanya mas sudah menikah? Maaf-maaf ini mas tanya"
"Cepat e merebak?"
"Jadi betul toh?" Iwan nganyur ke hadapan Sakti.
Karena begitu dekatnya Sakti menunjuk jidat Mas Iwan setengah bercanda.
"Menurutmu gimana?"
"Bagus sih ikut seneng kalau memang benar?"
"Berarti mas Iwan masih ragu karena pake kalau memang"
"Mas serius ini aq tanya?" Rengek mas Iwan yang masih di mukanya penasaran.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" Canda Sakti menggoda Mas Iwan yang penasaran.
"Ya yang pastinya mas?"
"Mas Iwan kenal saya sudah berapa tahun? Kapan saya pernah main-main dengan wanita?"
"Baru kali ini mas saya dengar kabar ini makanya saya tanya langsung biar tidak penasaran? Pintar Mas Sakti cari yang masih muda paling cantik" Pujinya memberi acungan jempol padanya.
__ADS_1
"Iya dong masa cari daun kering yang pucuk lah" Sindir Sakti berbangga diri dengan pilihannya.
"Haaaaaa" Tawa mereka bercanda.
"Ngomong-ngomong soal daun kering mas berbuntut panjang. Bantu sayakah mas?"
"Maksudnya apa ini?"
"Itu loh mas candaan kita tempo hari rupanya berbuntut"
"Emang daun ada buntut panjangnya berekor? Sejak kapan?" Ucap Sakti asal.
"Serius mas bantu sayakah? Bu Hanna tahan saya punya gaji padahal saya sudah minta maaf dan menghadap Pak Sekwan tapi ga ada lanjutan. Hampir ditahan tiga bulan gaji mas. Bantu sayakah mas" Jelas OB Iwan memelas.
"Kau punya susah sudah!" Suara Sakti meledeknya. Sebetulnya ia terkejut dengan penjelasannya.
"Tolonglah mas kasihan anak istriku"
"Tadi mau konfirmasi berita nikah Kenapa beda topik sekarang? Kalau sudah bawa-bawa nama anak istri saya harus turun tangan ini" Jelas Sakti semangat.
"Itu lagi mas. Tolongkah mas"
"Kalau dapat potong dua puluh lima persen buat saya e"
"Mama Yo mas Sakti ini. Tapi gak pa-pa sudah yang penting cair"
"Saya tidak bisa janji tapi saya usahakan bantu bicara. Kebetulan saya ada perlu dengan dia"
"Makasih ya mas cup..cup....cup" Suara OB Iwan tersenyum menarik tangan dan menciuminya. Sakti mencoba untuk menolaknya tapi tarikan tangan mas Iwan lebih kuat.
"Kebetulan ada perlu yang saya bicarakan dengan dia soal pekerjaan"
"Pekerjaan apa mas?"
"Husst !! Apa-apa mau tahu aja"
"Kan saya orang kepercayaan mas"
"Kepercayaan apa nyampe gaji ditahan"
"Itu lagi mas"
"Ingat e dua puluh lima persen" Goda Sakti mengingatkan.
"Siap Pak Kabag" Sahut OB Iwan hormat.
"Heh gara-gara bahas masalahmu sampe lupa makan. padahal saya udah lapar loh" Suara Sakti memprotes tindakan OB Iwan.
"Sorry mas lupa. Mas makan dulu keburu dingin" Sahutnya merasa bersalah jika Sakti dari tadi sudah kelaparan. Maklum tenaganya sudah terkuras dari pagi.
__ADS_1
Sakti membaca doa makan lalu menyerobot makanan yang ada dihadapannya. Ia sudah tidak mempedulikan OB Iwan lagi. Pikirannya tertuju ke makanan yang dipesannya perutnya sudah meronta-ronta minta di isi. Ibarat motor butuh diisi bensin untuk bahan bakar.
Lalu mas Iwan pamit permisi dari ruangan kerja Sakti.