
Kebohongan yang sengaja Arvi ciptakan dengan sendirinya membuka Indra penglihatannya. Justru berbuah manis terjawab sudah rasa penasaran Sakti. Tapi tidak untuk Arvi justru menambah masalah. Sebab hubungannya dengan Sakti belum selesai. Mereka belum bercerai. Justru Arvi menikahi dua pria sekaligus.
Arvi tidak pandai untuk berbohong pada Sakti. Tanpa susah dan tenaga ekstra untuk mencari tahu lebih dalam rekan kerjanya dengan polosnya membuka kebohongan arvi yang telah ia ciptakan begitu ketemu Sakti. Arvi sengaja berbohong agar Sakti tidak penasaran tapi prediksinya salah. Membuat Sakti makin menuntut haknya. Wajar Sakti menuntut karena ia ayah biologisnya Junior anak si mata wayang.
Tidak ia pungkiri Arvi masih memendam rasa pada suami pertamanya itu hingga sekarang belum move on. Itu terbukti selama menikah dengan dokter Richat hanya begitu saja.
Batin Sakti tertawa keras penuh kepuasan dan kemenangan. Ia akan menuntut hak nya selama ini. Ia bersumpah dalam hati akan merebut Arvi dan Junior dari tangannya. Anak yang sangat ia rindukan kehadirannya.
Tentu Arvi sangat gundah gulana. Bagaimana pun dokter Richat orang yang berjasa menyelamatkan nama baik keluarganya. Walau semula Arvi menolak tapi sikap dan pribadinya yang begitu tulus Arvi bersedia mengikuti kemauan Pak Hartono. Tapi setelah tujuh tahun berlalu tidak ada angin tidak ada hujan Sakti muncul??? Pusing tujuh keliling Arvi sekarang.
Ya nama Prananda Sakti Junior terus menggema direlung hatinya paling dalam. Ingin rasanya ia menangis memeluk anak yang tidak pernah ia jumpai tapi hanya mendengar suaranya via telpon.
*****
Malam itu tanpa sepengetahuan rekan kerjanya Arvi tidur sekamar dengan Sakti. Keduanya menghabiskan waktu berdua. Arvi tidak bisa menghindar dari suami pertamanya itu. Ia tahu ini salah, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika rasa cintanya pada Sakti begitu kuat mengalahkan semua kebaikan dan ketulusan dokter Richat.
Betul kata orang cinta itu buta. Arvi sudah dibutakan akan cintanya pada Sakti. Bagaimana ia bisa lupa dengan Sakti jika keduanya punya ikatan batin yang kuat terlebih adanya Junior. Junior yang membuatnya semangat.
Malam itu Arvi begitu larut dengan kerinduannya pada Sakti. Keduanya saling memadu kasih mereka menumpahkan segala keluh resahnya selama pisah tujuh tahun. Arvi penasaran kemana selama tujuh tahun Sakti menghilang?? Apa dia yang menutup akses.
Keduanya saling bertukar cerita tentang apa saja yang telah mereka lalui
"Junior biar ikut bersamaku!"
Ucapan Sakti penuh ketegasan. Arvi tidak kaget jika Sakti setengah memaksanya.
"Bagaimana dengan Richat???" Tanya Arvi lirih tanpa memikirkan keadaan dirinya saat ini.
"Junior anakku sudah cukup rasanya kalian bersamanya" Jelas Sakti mulai egois.
__ADS_1
"Aq yang melahirkannya" Pekik Arvi tak ingin berdebat dengan Sakti
"Arvi aq tidak bisa memilikimu tapi setidaknya berikan Junior padaku. Aq janji tidak akan mengganggu hubungan kalian" Jelas Sakti memohon dengan mata yang berkaca-kaca. Berat rasanya ia berkata tapi harus.
"Tega kamu mas menjauhkan ku dari Junior"
"Arvi mengertilah ini akan sulit dipahami. Aq mencoba mengalah"
"Mengapa mas tidak memperjuangkan kami berdua? Aq dan Junior?" Sergah Arvi penuh amarah. Ia tidak menyangka Sakti hanya menginginkan tubuhnya saja tanpa mau memperjuangkan mereka.
"Justru aq tak ingin menyakiti Richat. Sekarang dia suami syahmu bukan aq? Richat sudah banyak berkorban buat kalian" Ucap Sakti lirih tapi kata suami syahmu justru membuat hati Arvi makin terkoyak. Ia makin frustasi mendengar mantan atasan di kantor Sekwan yang selalu ia rindukan.
"Kamu tega mas sama aq? Lalu bagaimana perasaan Junior terhadapku? Mamanya perempuan gatal tidak setia" Ucap Arvi dengan sakit hati yang luar binasa.
"Arvi mengertilah posisiku" Pinta Sakti menyadari jika hubungan mereka sangat rumit. Disatu sisi ia ingin kembali memperjuangkan pernikahan mereka tapi ia sadar dokter Richat tidak akan tinggal diam setelah tujuh tahun lamanya ia pergi.
"Arvi dengarkan dulu penjelasanky!!" Bujuk Sakti mencoba untuk membuatnya tenang.
"Jangan pernah temui aq lagi dan pergilah dari hidupku. Lebih baik Junior tidak pernah mengenalmu. Aq kecewa mas kamu memang laki-laki brengsek!!" Ucap Arvi keluar dari kamar itu. Ia tak tahan lagi satu ruangan dengan Sakti.
"Arvi!! Arvi!! Dengarkan aq dulu" Panggil Sakti mencoba meraih tangan Arvi tapi Sakti tidak mampu mengejarnya Arvi lari masuk ke dalam lift.
Rupanya ada seseorang yang memperhatikan keduanya keluar dari kamar hotel. Tentu Sakti dan Arvi tidak menyadari hal itu. Sakti sangat frustasi melihat Arvi yang emosi tidak terkendali.
Kedua rekan kerja Arvi saling memandang penuh curiga. Keduanya yakin jika antara Sakti dan Arvi telah saling mengenal jauh. Jauh sebelum mereka bertemu di hotel ini. Segera mereka berjalan seolah-olah mereka tidak menyaksikan adegan drama Korea sepasang kekasih yang lagi merajuk.
*****
Ditempat yang berbeda.
__ADS_1
Arvi duduk termenung di taman kecil di hotel yang mereka tempati. Beberapa kali ia menyeka air matanya yang tak kunjung reda.
Datanglah dua rekan kerjanya yang sempat menyaksikan adegan keduanya saling kejar-kejaran di drama Korea itu.
Menyadari kedatangan mereka buru-buru Arvi mengelap air matanya.
"Kenapa harus menangis demi pria brengsek macam dia?" Suara Mita duduk di hadapannya dengan tenang. Baru kali ini ia melihat Arvi sesedih ini.
"Jangan katakan jika kamu bucin pada laki-laki itu?"
Arvi masih tertunduk merasa malu pada kedua rekan kerjanya.
"Ganteng sihh tapi tua?"
"Ishh...Sempatnya kamu memuji jika pria itu ganteng tapi brengsek" Cibir Rio setengah dongkol bisanya Mita memuji Sakti orang yang baru beberapa jam dikenalnya di lobby hotel tadi.
"Emang dia ganteng koq!!"Seru Mita terpesona akan karisma Sakti.
"Dasar wanita keranjang!! Pekik Rio mau memukul Mita tapi tak tega. Apalagi Arvi diam tidak menyaut.
"Jujur apa yang kamu sembunyikan dari Richat???" Tanyanya to the point sebab dari tadi Arvi hanya diam menangis gak jelas. Rio makin curigalah.
"Bagus apanya coba dia??? Richat pintar baik hati ganteng dokter lagi kurang apa coba??" Serunya memuji suami Arvi kedua. Andai dokter Richat ada tambah besar kepala dipuji dan di puja kedua rekan kerja Arvi itu. Mita memang mengidolakan dokter Richat. Sebab Richat memang orangnya baik.
"Kita di pihak dokter Richat tentunya" Seru Rio Dan Mita.
"Kamu selingkuh?"Tanya keduanya kompak hingga membuat wajah Arvi terangkat menatap keduanya. Ia hanya menggeleng.
Malam itu Arvi tampak kacau dan lusuh ia tak tahu harus menjelaskan dari mana sebab ia bingung.
__ADS_1