AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Hampir Saja


__ADS_3

Di Bandara


Arvi tampak terlihat pucat setelah enam jam melakukan perjalanan lewat darat. Ia hanya merenung. Pikirannya masih buntu. Hal pertama yang ada di otaknya hanya satu.


"Jika ia tidak kabur tamat riwayatnya? Tidak ada generasi penerus Sakti".


Arvi terus bertanya-tanya tentang kejadian semalam.


" kenapa orang-orang itu ingin menghabisinya? Apa salahnya?"


"Mengapa orang-orang itu bisa masuk kerumahnya? Apa yang telah diperbuat Sakti? Sebab mereka mengacak-acak seisi rumah mereka? Apa yang sebenarnya mereka cari? Sakti juga tidak pernah cerita tentang masalahnya? Rahasia apa yang ia sembunyikan darinya? Kenapa serumit ini jalan hidupnya?". Gerutunya bertanya pada dirinya sendiri.


Pertanyaan demi pertanyaan membuatnya tidak berdaya. Semakin Arvi menyalahkan dirinya sendiri. Rasanya ia ingin berteriak memeluk kedua orang tuanya yang jauh Dimata. Tapi ia tidak mampu. Ia hanya merutuki dirinya sendiri.


"Mas Sakti kamu dimana saat ini?". Pertanyaan yang tiada hentinya Arvi ucapkan.


"Mungkin inikah yang dimaksud Ayah selama ini? Oh Tuhan jika benar ini takdirku anak ini lahir tanpa bapak" Ucapnya lirih menyika air mata yang terus membasahi wajahnya.


Sementara ia tidak kenal dengan mereka. Jangankan kenal melihatnya pun baru pertama kali. Untunglah ada Sopir mobil Hilux yang menolongnya mengantarkannya ke bandara. Kebetulan sopir itu membawa muatan kepiting. Arvi tidak sempat membawa baju-bajunya. Yang ada hanya pakean yang melekat di badan dan tas yang kebetulan ia bawa dari belanja.


Flashback dulu ya.


Sepulang dari belanja Arvi pulang ke rumah. Begitu memasuki halaman rumah. Ada firasat yang tak mengenakkan Sebab pintu rumah yang semula terkunci rapat rusak tidak terkunci. Ia ingat betul sebelum keluar rumah menguncinya dengan baik.


Dengan sedikit hati-hati Arvi memasuki rumah Sakti lebih tepatnya rumah mereka. Alangkah matanya terbelalak lebar jika seisi rumah telah berantakan. Kursi-kursi berserakan tidak rapi seperti sebelum ia tinggalkan. Barang-barang berserakan tidak pada tempatnya. Buku-buku yang tertata apik dibufet pun berhamburan dilantai. Nyalinya semakin kuat. "Ada apa semua ini? Kenapa rumah berantakan" Pekiknya dalam hati.


Terdengar suara percakapan dari kamar utama mereka. Hal tersebut menyiutkan nyalinya. Rasa keingin tahuannya ia tahan. Arvi diam mematung menyimak percakapan orang asing yang masuk rumah suaminya.

__ADS_1


"Jika itu Sakti tidak mungkin? Untuk apa suaminya mengacak-acak rumah yang tertata rapi? Sebab Sakti tipe suami yang rajin berbenah dan rapi dalam menata rumah mereka. Tapi ini siapa?" Batinnya bertanya penuh curiga.


"Jangan-jangan perampok? Tapi mau cari apa? Tidak ada emas atau berlian?"


Bahkan mobil dinas yang biasa Sakti bawa. Arvi mengembalikannya ke kantor. Mobil itu inventaris kantor bukan milik pribadi. "Batinnya penuh slidik. Nafasnya kembang kempis. Antara ingin tahu dan rasa takut memuncaki pikirannya yang lagi super duper kalut.


"Sial dia taruh dimana itu?" Pekiknya sembari mengobrak-abrik apa saja yang ada diruangan.


"Kita cari lagi siapa tahu dia sembunyikan selain di kamar ini" Salah satu dari mereka memberi ide.


"Jika tidak dapat boss bisa ngamuk!!"


"Ayo kita cari!!" Sahut temannya bergegas ingin keluar tapi ia berhenti sejenak. Sayup-sayup terdengar ada suara langkah kaki selain mereka. Lalu ia memberi isyarat kepada kedua rekannya untuk menutup mulut. Mereka saling memainkan mata jika penghuni rumah telah datang.


Percakapan ketiganya terdengar jelas masuk ketelinganya. Tidak ada pilihan lain Arvi balik badan dan mencoba keluar dari rumahnya. Namun Ketiga orang itu pun berlari mengejarnya. Tidak butuh tenaga banyak untuk menghentikan langkah kaki wanita hamil itu. Mereka menarik rambut Arvi yang panjang sebahu.


"Aaauuu Sakit" Teriak Arvi kesakitan. Tiba-tiba tubuhnya roboh. Arvi terjatuh dan pingsan. Entah apakah dia pingsan betulan atau hanya berpura-pura untuk menghindari dari ketiga orang asing itu.


"Ah kasih tinggal sudah" Jawab temannya mencoba membiarkan.


"Kasihan dia lagi hamil" Ucapnya dengan rasa iba.


"Kasihan apanya? Kamu suka dia?" Jawab temannya ketus.


"Lebih baik kita habisi kawan sebelum dia mengenali kita" Kata temannya memberikan ide gilanya.


"Gila kamu???!". Sahut temannya.

__ADS_1


"Gila apanya?? Memang kita sudah gila" Cetusnya tanpa basa-basi lagi.


"Eh ingat e!! Kita ini kerja tidak ada rasa belas kasihan. Siapa kasih kita duit itu bos kita. Memangnya perempuan ini pernah kasih uang ke kamu? Tidakkan?" Lanjutnya dengan ketus dengan wajah arogannya.


"Suaminya sudah kita bunuh masa istrinya kita habisi juga. Dia lagi hamil" Tuturnya bernada rendah agar tidak menimbulkan keributan.


"Justru itu yang bos inginkan kita habisi sekeluarga buang jasadnya gak ada yang tahu" Jawabnya mulai jengkel.


"Sudah ah kalau kamu takut pulang jaga kamu punya maitua dan anak-anakmu dirumah tidak usah kerja" Sindir temannya dengan sengit.


"Bukan begitu kawan. Saya kasihan mereka. Apa salah mereka hingga keduanya harus kita habisi?" Tanyanya dengan nada merendah.


"itu bukan urusan kita. Itu urusan bos besar. Tanya sendiri ke bos besar" Celetuk temannya sambil mengejek.


"Pasti dia punya kesalahan yang teramat besar hingga bos menghabisi suaminya. Dia tidak tahu jika suaminya sudah jadi kerangka" Sahut rekannya lagi.


"Hahaha" Tawa keduanya serentak


Lalu ia membiarkan Arvi jatuh begitu saja di lantai. Ketiganya bergegas melanjutkan misi utamanya. Mengambil bukti-bukti penting dari rumah Sakti sesuai arahan dari bosnya.


Arvi rupanya berpura-pura pingsan agar mereka tidak menyiksanya. Terpaksa ia tempuh. Padahal ia sangat ketakutan. Ia mendengar semua percakapan mereka. Betapa ia sangat terkejut mendengarnya. Rupanya ketiga orang ini telah membunuh Sakti. Ingin menjerit sekuat-kuatnya tapi tiada daya nyawanya dalam bahaya.


Melihat ketiganya pergi berpencar ke dalam rumah, kesempatan itulah yang ia ambil. Arvi memberanikan diri kabur meninggalkan rumah Sakti. Rumah yang sekitar enam bulan ini mereka tempati bersama.


Dengan sekuat tenaga yang ada Arvi pergi menjauh dari rumah. Ia terus berlari, berlari dan terus berlari keluar dari mata jalan utama. Nafasnya tersengal-sengal sesekali ia memegangi perutnya yang terasa sakit. Tak seharusnya ia berlari seperti itu sebab itu bisa membahayakan sang janin yang ada dirahimnya. Tapi tidak ada pilihan lain. Ia harus menyelamatkan diri juga anak yang dikandungnya.


Mereka baru menyadari jika wanita tersebut hanya berpura-pura pingsan nyatanya ia telah kabur. Wanita itu mengambil kesempatan kabur sewaktu mereka lengah.

__ADS_1


"Saya tidak mau tahu e jika sampai bos tahu kalau dia kabur. Mati sudah kita!" Ancam ketuanya dengan sengit.


"Ini semua gara-gara kamu! Coba tadi kita bunuh pasti bos akan bayar kita lebih" Sindir kawannya sembari menunjuk kawannya yang tertunduk merasa bersalah atas ulahnya yang iba. Ia tak menyangka jika orang itu menipunya.


__ADS_2