AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Tamu Bikin Onar


__ADS_3

Ruang kerja Pak Ketua terlihat rapi. Lambang Negara burung Garuda terpampang gagah menghias diatas dinding. Di bawahnya Bingkai foto Presiden dan Wakil Presiden berjajar mengikuti. Dibawahnya terdapat lemari arsip kaca yang berjejer membelakangi Kursi kerja Pak Ketua. Lampu ruangan menyala di kanan kiri atas menambah kesan teduh dan nyaman.


Hari ini begitu banyak tamu masyarakat yang ingin bersua dengan beliau. Arvi menyerahkan buku tamu untuk diisi para tamu yang hadir. Terlihat ada delapan tamu yang ingin bertemu Pak Ketua di hari ini. Dua tamu telah keluar dari ruangan, kebetulan beliau ada waktu.


Tibalah seorang tamu tanpa antri meminta didahulukan.


"Nona bisakah saya bertemu pak Ketua duluan! Ada penting ini" Pinta tamu berambut kriting dengan aroma yang begitu menyengat alkohol. Batin Arvi tamu bosnya ini sedang dalam pengaruh alkohol.


"Maaf bapak sesuai urutan tamu yang hadir duluan kita persilahkan terlebih dahulu nanti kita dikomplain tamu lain" Jawab Arvi mencoba menjelaskan.


"Kamu siapakah berani atur-atur saya" Suara lantangnya memukul meja sambil melotot dengan mata memerah pengaruh alkohol. Arvi sempat takut dan tersentak mendengar gertakan tamu atasannya.


"Kamu siapa berani atur-atur! Honor saja mo". Omelnya penuh amarah.


Mendengar ocehan orang mabuk didepannya ingatannya muncul kala itu.


Teringat kejadian sewaktu pulang dari Kantor dimana ia jadi korban pelecehan orang mabuk. Arvila terlihat pucat. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa traumanya. Tamu itu mengeluarkan umpatan kasarnya merendahkannya hingga teriak-teriak membuat gaduh seisi kantor.


"Oh..Tidak bisa kami datang duluan" Sela tamu lain.


"Saya punya urusan penting jadi saya harus duluan". Hardiknya penuh amarah memukul-mukul dadanya. Seakan mau menunjukkan tajinya.


Membuat tamu yang lain ikut tersulut amarah.


"Heh nona cepat panggilkan kamu punya boss" Lanjutnya membentak Arvi tanpa mempedulikan tamu yang lain.


Karena gaduh akhirnya pihak keamanan segera datang.Tapi dia terus berteriak mengeluarkan umpatan kasarnya. Di ikuti tamu lain yang mencoba untuk memukul tamu yang membuat onar kantor.


Mendengar ada keributan diluar ruangan, Pak Ketua pun segera keluar mengarahkan para tamu untuk bersabar sesuai antrian.


"Saya harap kalian bersabar antri sesuai nomor dan kalau kesini mabuk bikin onar pihak keamanan tidak segan-segan bertindak" Pak Ketua memberi arahan para tamu yang sedang menunggu diruang tunggu.

__ADS_1


Adi lalu mencoba menenangkan Arvi yang pucat ketakutan menghadapi tamu yang mabuk barusan. Kebetulan ruang kerja Adi di Komisi dekat ruang kerja atasannya.


"Arvi kamu tidak apa-apa toh?"


Tanya Adi penuh perhatian dengan rekan kerja barunya.


"Arvi besok kalau ada tamu yang mabuk langsung panggil keamanan jangan dilayani. Kamu baik-baik saja" Tanya Pak Ketua yang kawatir dengan keadaan Arvi yang gemetar ketakutan.


"Saya tidak apa-apa Bapak Ketua"


"Kamu istirahat pulang biar sopir bapak antar. Biar staf yang lain gantikan" Pak Ketua memberikan saran. Beliau tampak kawatir dengan keadaannya yang pucat.


"Biar saya gantikan bapak" Adi bersedia membantu menggantikan Arvi.


"Saya baik-baik saja Bapak Ketua" Kilah Arvi yang tidak mau merepotkan rekan kerjanya.


"Tapi kamu pucat sekali. Kamu istirahat saja dulu dirumah, biar Adi gantikan dulu" Jelas beliau penuh bijaksana.


Pak Ketua lalu merogoh Hp dari saku celananya. Segera ia menghubungi sopir dan memintanya untuk mengantar Arvi pulang ke tempat kostnya. Tidak berapa lama Sopir pun datang menghampiri Arvi untuk mengantarnya pulang.


Sopir Pak Ketua bernama Suryo orang Malang. Dia sudah lama ikut kerja di Pak Ketua. Kadang Arvi dan dia saling bercengkrama pake bahasa Jawa. Maklumi ya🤭🤭🤭


Segala persoalan yang dihadapi masyarakat masuk ke Lembaga DPRD. Dari Buku tamu terlihat apa saja keluhan masyarakat. Bahkan terkadang ada beberapa tamu yang tidak bisa baca tulis. Bukan maksud penulis untuk mengkritik atau merendahkan masih ada sebagian masyarakat kita yang belum mengenal baca tulis. Sebagai staf yang diperbantukan harus siap membantu tamu atasannya. Disinilah Arvi mengerti peran DPRD sebagai wakil rakyat yang sebenarnya bukan hanya sebatas teori fungsi legislasi, fungsi control dan fungsi budgeting tapi ada hal lain yang tidak ada dalam teori. Bagi Anggota Dewan di Daerah terutama. Segala persoalan masyarakat begitu pelik dan rumit untuk diurai satu persatu masuk di Lembaga ini. Terutama fungsi control masih begitu lemah dan bersifat pasif. Bagai benang kusut yang harus diurai dan dipilah-pilah.


Sakti tidak mengetahui ada keributan diluar ruang Pak Ketua. Sebab ia ada rapat dengan para ASN diruang rapat. Sepintas Sakti melihat dari jendela terlihat Arvi berjalan dengan Sopir masuk ke mobil Pak Ketua. Rasa penasarannya muncul. Perasaan kawatir menggelayut didada. Tapi dia harus profesional sekarang waktunya kerja. Kerja kerja kerja!!! Lupakan dulu istrinya dulu utamakan kerja. 😁😁😁


Ketika istirahat siang Sakti bergegas menghubungi istrinya, tapi tidak diangkat. Sakti mencoba menghubunginya sebanyak empat kali tapi tidak ada jawaban. Rasanya ia ingin pulang menemuinya tapi ia urungkan.


Lalu Sakti memesan makan siang untuk diantar keruang kerjanya. Tidak berapa lama pesanannya datang.


"Mas Iwan lihat Arvila?"

__ADS_1


"Mas Sakti gak tahu ya kalau tadi ada ribut-ribut di Ruang Pak Ketua"


"Gak tahu tadi ada rapat"


"Anu mas Sakti itu tamunya Pak Ketua ada yang mabuk bikin gaduh marah-marah gak terima disuruh antri sama Mbak arvi"


"Oh..Tapi Arvi gak papa?" Tanyanya penuh slidik karena Arvi tidak mau angkat Hp. Ia ingin tahu keadaan istri tercintanya.


"Cie cie cie Pak Kabag kawatir sekali dengan keadaannya" Goda OB Iwan memainkan matanya keatas diikuti mulut yang manyung.


"Apaan sih? " Sakti mencoba berbohong.


"Mas nikah sudah sama Arvi ntar nyesal loh" Godanya lagi mumpung mereka berdua.


"Stop sudah jangan bahas itu"


"Mas tinggal pilih mana? Mau yang pucuk, Setengah tua atau daun kering?" OB Iwan penuh semangat menggodanya. Sakti tersenyum mendengar istilah itu.


"Aduh apalagi ini?". Tawanya menimpali.


"Iya toh kalau pucuk Mbak Arvi, kalau setengah tua Bu Hanna, daun kering Bu Siti"


Mendengar celotehnya Sakti tertawa terpingkal-pingkal sampai perut sakit.


Tiba-tiba tawanya terhenti rupanya saking asiknya ngobrol mereka lupa kalau ada yang mengetuk pintu dari tadi.


"Ehhmmmm" Suara itu membuat mereka berhenti tertawa. OB Iwan beringsut keluar dengan muka menahan malu kalau orang yang dibicarakan ada diruangan sekarang.


"Saya permisi dulu Pak Kabag" Pamitnya keluar dengan was-was.


Yah Ibu Hanna bendahara ada diruangan Pak Kabag sekarang. Iwan pucat pasi keluar ruangan. Bu Hanna terlihat jengkel dengan sikapnya Iwan. Sebetulnya Sakti ingin tertawa tapi ia tahan.

__ADS_1


__ADS_2