
Bu Hanna berjalan di lobi kantor ketika berpapasan dengan OB Iwan tak ada senyum yang terlihat dibibir dengan angkuhnya. Padahal Iwan mengucapkan salam padanya. Pikir Iwan ga biasanya Bu Hanna bersikap begitu. Sikapnya berubah dingin terhadap Iwan. Rupanya Bu Hanna masih marah dengan kejadian tempo hari di ruang kerja Sakti. Ia tersinggung dengan pertanyaan Iwan yang menyebutnya "daun setengah tua". Saking jengkelnya ia sempat menghadap ke Pak Sekwan untuk mengeluarkannya sebagai OB tapi ditolak beliau. Beliau berpikir jika itu hanya sebatas candaan belaka bukan menghina Bu Hanna. Lalu ada ide untuk menahan gaji Iwan. Pak Sekwan tidak bisa berbuat banyak sebab Bu Hanna termasuk orang yang berpengaruh. Bahkan ada gosip yang beredar kalau beliau penyumbang dana kampanye terbesar setiap pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah. Kenalannya orang-orang penting. Walau dari segi pangkat dan golongan jauh di bawah Sekwan tapi soal pengaruh Bu Hanna juara.
Jam istirahat Adi menghampiri Arvi mengajaknya makan siang. Arvi tak enak menolaknya. Dari ruang kerja Sakti terlihat mereka berjalan beriringan dengan teman-teman di Komisi. Dari sikap dan cara memperlakukan Arvi, sepertinya Adi ada hati ke Arvi. Bahkan teman-teman di Komisi tampak senang dengan kedekatan mereka. Arvi hanya tersenyum dengan santai mendengar celotehan teman-temannya.
Dari ruang kerjanya, Sakti sempat meliriknya. Ada rasa cemburu yang mulai tumbuh dibenaknya. Secara Adi masih muda, ganteng, gagah dan memiliki karir yang mentereng. Bahkan dia berasal dari keluarga yang berada. "Kenapa jadi begini?
Suasana di Kantin tampak ramai. Para pegawai sedang asyik menikmati makan siang mereka. Disudut meja Adi dan Arvi menikmati makan siang dengan Rina, Firman dan Budi. Mereka menikmati makan sambil bercanda gurau baku ledek satu sama lain.
Sepasang mata mengawasi percakapan Arvi dan rombongan di Kantin. Tak lain dan tak bukan Pak Kabag Sakti. Makanan yang dipesannya dingin dimeja saking asyiknya memperhatikan istrinya. Lidahnya terasa kelu tak mampu mengunyah makanan yang telah dipesan dimeja.
"Apakah ini hanya sebuah gurauan atau sengaja untuk membuatku cemburu?Tuhan semoga ini hanya perasaanku saja. Apakah dia mempermainkan perasaanku" Batinnya teriris menyaksikan keakraban Arvi dan Adi.
Belum habis makan siangnya Sakti ke kasir membayarnya. Ia bergegas kembali ke ruangan. Arvi baru menyadari kalau ternyata ada Sakti sedari tadi di Kantin. Pikirannya sudah ga konsen diajak bicara.
Arvi meminta ijin kembali duluan di ikuti Adi dari belakang. Sebetulnya ia ingin menyusul suaminya ke ruangan tapi Adi mengikuti langkahnya. Terpaksa ia urungkan niatnya.
"Kenapa buru-buru balik Pak Ketua juga masih jalan dinas ke Dapil besok baru balik"Tegur Adi penuh semangat.
"Ada kerjaan yang belum kuselesaikan kak"
"Oh ya nanti kita pulang bareng ya?" Ajaknya tersenyum menggoda Arvi.
__ADS_1
"Tidak usah kak nanti merepotkan"
"Ah tidak koq. Palah saya seneng pulang bareng sama kamu"
"Tapi saya ga janji kak, masih ada kerjaan yang harus kuselesaikan"
"Aq bantu deh kerjainnya biar lekas selesai"
"Tidak usah kak itu tanggung jawab saya"
"Ga pa-pa koq aq iklas bantunya"
Dari belakang OB Iwan muncul
"Ah mas Iwan " Arvi menyapanya dengan senyum khasnya. Cantik enak dilihat.
"Mbak Pak Sakti sudah sehat?" Tanya Iwan. "Uhuk...Uhuk... uhuk..." Arvi tersentak kaget hingga terbatuk-batuk.
Adi sedikit heran dengan pernyataan Mas Iwan yang menanyakan keadaan Pak Kabag ke Arvi.
"Sudah itu mas. Sudah masuk kantor" Jawab Arvi sedikit risih tidak nyaman dengan pertanyaan Iwan barusan
__ADS_1
"Loh Pak Sakti sakit toh mas?" Tanya Adi tanpa curiga sedikit pun.
" Iya kemarin . Tapi kalau sudah masuk berarti sembuh" Jelas Iwan.
"Sakit apa toh mas?" Tanya Adi lagi.
"Biasa mas sakit malarindu tropikangen"
Canda Iwan membuat Arvi hampir tersedak.
"Ha ha ha ha" Tawa mereka serentak, tapi wajah Arvi tersipu menahan sesuatu.
"Mas Iwan ini bisa juga bercandanya pake istilah Malarindu tropikangen. Sakit yang gimna itu mas?" Sela Adi kembali tertawa.
"Tanya yang pernah sakit itu" Sahut Iwan tersenyum-senyum.
Arvi hanya tertunduk malu dihadapan keduanya.
"Saya permisi dulu e Pak Sekwan ada panggil". Pungkas Iwan mengakhiri percakapan mereka.
"Saya permisi dulu kak" Arvi pun pamit masuk ke ruang kerjanya sembari melambaikan tangannya ke Adi. Tak lupa Adi pun membalas lambaiannya.
__ADS_1
Diruang kerja Sakti dengan serius menatap layar leptop. Terbesit dalam benaknya lebih baik ia curahkan kepekerjaan dari pada menuruti curiga terhadap istrinya. Ia masih sibuk menyusun draft soal Raperda yang yang baru disusunnya. Sudah ada sekitar satu Minggu lebih tidak dikerjakan. Minggu depan mau dibahas Tim Bapemperda. Sempat tertunda dengan kegiatan Anggota Dewan jalan Dinas di Dapil masing-masing. Rencana draft Raperda ini akan di Konsultasikan ke Kabag Hukum Provinsi.
Arvi melanjutkan kerjanya diruang Pak Ketua yang tersekat oleh dinding berwarna coklat muda. Arvi mengecek beberapa surat masuk dan keluar selama seminggu. Serta beberapa proposal yang masuk dari Bagian Umum. Sebab ada beberapa dari kegiatan Musrembang dari Distrik yang belum masuk ke DPRD padahal sudah mau akhir tahun. Arvi hanya geleng kepala. Terlena oleh jabatan sampai lupa dengan tugas dan tanggung jawabnya. Yang ada masyarakat menuntut ke DPRD minta diperhatikan.✌️✌️✌️