AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Arvi mulai membuka diri menceritakan semuanya pada Santi. Arvi bercerita sambil menangis mengakui kesalahannya menikah secara diam-diam tanpa memberitahunya juga keluarganya. Sebegitu cintanya Arvi pada Sakti hingga mau menikah. Terlalu cepat ia ambil keputusan untuk menikah apalagi diusianya yang belum genap 23 tahun. Santi tercengang mendengar pengakuan Arvi jika dirinya telah menikah resmi dengan Sakti Pak Kabag orang yang membantunya masuk kerja. Santi setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Soal Bu Hanna yang ketus terhadapnya karena ia tak tahu kalau mereka sudah menikah. Kalau dibiarkan ia akan menjadi duri dalam rumah tangganya. Ingin rasanya Santi marah tapi nasi sudah menjadi bubur.


Belum selesai mereka cerita Hp Arvi bergetar terlihat Panggilan masuk dari Sakti. Sebenarnya Sakti sudah menghubunginya dari tadi tapi Arvi tidak mengangkatnya. Santi memberinya kode untuk menerima panggilan dari suaminya tapi Arvi geleng kepala pelan.


"Angkatlah Arvi bukan sepenuhnya Sakti yang salah"


Arvi menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepala.


"Sampai kapan kamu menghindar darinya? Di Kantor besok juga ketemu"


"Untuk sekarang aq tak ingin diganggu"


"Ya udah kalau gitu istirahatlah supaya pikiranmu jernih"


"Tante sebelah cerita?" Tanya Arvi menghentikan langkahnya.


Santi tersenyum menggoda temannya yang terpaut dua tahun dibawahnya.


"Kenapa kamu takut digosipin di Komplek?"


Arvi tersenyum mendengar candaan Santi


"Iya. Sebab berapa kali tante sebelah melihat kami"


"Melihat apa?" Santi tambah kepo.


" Ha ha ha Kamu juga suka kabar gosip dari komplek" Sela Arvi membuat penasaran.


"Iyalah gosip digosok makin sip"


Keduanya tertawa bersama. Seberat apapun masalah yang ia rasa terasa ringan dikala teman terdekat kita mau mendengar keluh resah kita. Santi bukan hanya sekedar sahabat tapi melebihi dari kakak,saudara sendiri. Arvi sangat bangga memiliki sahabat yang pengertian sepertinya.


"Tok tok tok" Suara ketukan pintu dari luar.


Santi bergegas keluar untuk mengecek tamu siapa yang datang.

__ADS_1


Santi melihat sosok Sakti berdiri di luar masih mengenakan baju kantor.


"Ceklek.." Santi membukakan pintu.


"Ehm Met malam mbak Santi. Maaf ganggu waktu istirahatnya" Sapa Sakti dengan sopan.


"Malam juga pak. Ah tidak mengganggu koq" Sahut Santi bersikap baik dan ramah pada tamu Arvi.


"Kapan datang?" Tanya Sakti tersenyum.


"Dari kemarin Pak"


"Oh.." Sakti mengangguk pelan.


"Mbak Santi Arvila ada?"


"Ada Pak tapi katanya ia ingin istirahat tidak mau diganggu" Jelas Santi merasa gak enak pada atasan Arvi.


"Dia sudah tidur?"


"Kurang tahu juga pak"


Sakti pamit undur diri. Santi hanya menggelengkan kepala ia tahu sikap Arvi yang kekanak-kanakan. Santi bisa melihat dari sorot mata Sakti kalau ia sangat menyayangi sahabat karibnya itu. Belum sempat Santi mempersilahkan masuk tapi Sakti pamit duluan. Sakti tak enak mengganggu waktu istirahat mereka. "Apalagi istrinya pasti udah molor" Pikir Sakti.


Flassback dulu


Rupanya Bu Hanna meminta Sakti mengantarnya ke rumah yang kebetulan ada syukuran keponakannya ulang tahun tadi sore. Semula Sakti menolak untuk turun tapi Ibunda Bu Hanna telah menyambutnya diteras rumahnya yang megah dan mewah.


"Nak Sakti masuk dulu kenapa buru-buru"


"Minta maaf Tante masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Sudah mau magrib lain kali Tante Haji"


"Sholat disini saja nak Sakti berjamaah" Sahut Ibunda Bu Hanna yang ramah.


Sakti memberi alasan tapi Bu Hanna tak kehilangan akal.

__ADS_1


"Kalau mas tidak mau turun ke rumah saya ikut mas kerumah" Ancamnya ngambek.


"Pilih mana? Sesekali nuruti keinginanku kenapa sih mas" Protes Bu Hanna menatap tajam ke arahnya.


Sakti mengusap wajahnya dengan kasar menahan sesuatu.


"Ya Tuhan apa yang harus kulakukan?" Bisiknya lirih.


"Okey tapi saya tidak bisa lama"


Sakti menuruti kemauan Bu Hanna.


Tanpa Sakti sadari Bu Hanna mencium pipinya bangga kalau Pak Kabag mau singgah ke rumahnya. Sakti tambah kepikiran Bu Hanna semakin berani saja pake cium pipi. Kalau Arvi lihat pasti tambah ngamuk itu.


Segera Sakti turun dari mobil dinasnya. Ia berjalan menuju teras rumah yang mewah dan megah bercat hijau. Balon pink masih menghias diteras depan. Rupanya tadi sore ada pesta ulang tahun keponakan Bu Hanna.


Sakti disambut bak tamu agung. Kakak dan keluarganya Bu Hanna tampak gembira menyambutnya. Bu Hanna sempat memperkenalkan Sakti pada keluarganya. Membuat Sakti risih dan serba salah karena bukan ini yang ia mau. Niatnya hanya antar kenapa jadi lama.


Selesai sholat berjamaah dengan anggota keluarga Bu Hanna. Sakti diajak makan malam. Keluarga Bu Hanna begitu bahagia dengan kehadirannya bertamu ke rumah. Bahkan dari nada bicara dan candaan mereka begitu antusias ingin keduanya bisa berjodoh segera menikah punya anak.


"Nak Sakti kapan nikah? Mau tunggu apalagi ntar keburu kiamat loh" Suara Mbak Nani kakak iparnya Bu Hanna.


Sakti hanya tersenyum mendengarnya.


"Ah kak Nani bisa saja. Diam-diam Pak Sakti banyak fansnya loh" Suara Bu Hanna menggoda.


"Wah gawat Hanna ada sainganmu dong" Canda Nina tertawa.


"Itu lagi" Sahut Bu Hanna tegas membuat mereka tertawa bersama.


"Ha ha ha ha" Tawa mereka serentak.


Tentu mereka akan kecewa sekali jika tahu kalau ia sudah menikah. Rasanya Sakti ingin segera pulang menemui istrinya dirumah. Sebab ia merasa bersalah dengan kejadian di mobil.


Selesai makan malam Sakti pamit pulang ke rumah. Waktu pun telah menunjukkan jam sembilan. Mana dia belum mandi. Rencana semula ia ingin menyelesaikan draf Raperda tapi gagal total tak sesuai harapannya.

__ADS_1


"Jam begini masih di luar rumah belum jemput istriku" Suara lirih Sakti uring-uringan sendiri. Sebab ia pusing kalau tidak ada sang istri disampingnya🤭🤭🤭.


Sakti sempat menghubunginya tapi tidak diangkat. Sempat juga ia mengirim pesan lewat Whatshup tapi tidak dibalas. Sakti sadar istrinya marah. Tak ingin terbebani perasaan bersalah, ia mencoba untuk menjemputnya ke tempat kost. Melihat ada Santi ia urungkan niatnya. Ia percaya Santi menjaga istrinya dengan baik. Sakti berharap istrinya mau bersikap sabar dan mau memahaminya. Andai Bu Hanna tahu kalau mereka menikah pasti ceritanya lain tidak begitu. Pasti Bu Hanna tidak mau jadi pelakor.


__ADS_2