AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Tersudut Keadaan


__ADS_3

Batinnya makin teriris mendengar penjelasan Arvi barusan. Secara terang-terangan Arvi menolak keinginannya untuk menikahinya. Setidaknya Arvi telah memberi kode untuk dirinya. Menjauh pergi dari kehidupannya. Sosok Sakti tak bisa digantikannya. Pr yang harus ia tuntaskan.


Tidak dipungkiri selama ia pacaran hampir tidak pernah ia jalan berdua. Baru kali ini ia jalan dengan Arvi. Jalan dengan istri sahabatnya.


"Beruntungnya kamu Sakti dicintai wanita muda ini" Batin dokter Richat merasa iri pada Sakti yang begitu dicintai oleh Arvi. Entah berapa kali Arvi mengatakan cintanya pada Sakti. Wanita hamil yang ada disampingnya begitu tulus mencintai Sakti.


Hatinya makin tersudut. Tersudut oleh keadaan disatu sisi ia ingin melindungi istri temannya disatu sisi ia terlanjur berjanji pada Pak Hartono jika ia akan menikahi Arvi. Tapi Arvi memintanya untuk pergi menjauh.


Ia mencoba untuk mengesampingkan perasaannya. Jauh dilubuk hatinya ada percikan listrik yang mulai menyengatnya.


Melihat dokter Richat yang diam membisu ia tidak dapat berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat. Hanya hatinya yang bergumul tak karuan.


"Dokter bisa dapatkan wanita yang lebih dari segalanya bukan aq " Suara Arvi terdengar lirih. Ia seperti putus asa.


"Tapi sayangnya bukan itu tujuanku. Ku mohon berhentilah menangis Arvi aq tidak tega melihatmu sesedih ini. Berdosa nya diriku membuatmu seperti ini. Aq hanya ingin menolongmu tidak lebih dari itu" Ucapnya berbohong.


"Untuk apa menolongku jika aq mau rekan kerjaku lebih dahulu memintaku tapi aq menolaknya" Jelas Arvi masih terisak.


"Aq tak ingin engkau kecewa " Lanjjut Arvi mencoba untuk tegar.


"Arvi kumohon jangan berpikir macam-macam aq ingin kamu fokus dengan kehamilanmu. Soal pernikahan kita jalani aja sesuai dengan keinginan ayahmu. Jika kamu batalkan beliau akan sangat kecewa. Arvi harga diri keluargamu ada di tanganmu sekarang terserah kamu" Ucapnya setengah memaksa Arvi untuk melakukan pernikahan itu.


"Pak dokter aq istri Sakti sampai kapan pun Sakti suamiku. Kami menikah secara Syah. Jika kita menikah itu sama saja kita berhianat pada Sakti. Soal anak ini Pak dokter tidak usah sok jadi pahlawan aq bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuknya" Jelas Arvi penuh keyakinan.


"Aq tahu kamu mampu. Kamu wanita spesial yang Tuhan ciptakan untuk Sakti. Aq tidak menuntut hakku sebagai suami aq hanya ingin melindungi istri sahabatku tidak lebih. Aq sadar diri " Ucap dokter meyakinkan kata-katanya.


Arvi hanya bisa menatap wajah dokter Richat yang begitu kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


"Aq takut tidak mampu membalasnya" Sela Arvi dengan lirih.


"Tidak perlu kamu membalasnya cukup kamu percaya padaku!" Jawabnya penuh keyakinan.


"Sudah gelap mari kita pulang! Nanti ayah mencarimu" Lanjut dokter mengingatkan.


"Emang aq anak kecil!" Protes Arvi dengan senyum kecutnya.


"Gimana gak dicari anak kesayangan" Sindir dokter menggoda Arvi yang pada dasarnya manja. Ocehan dokter membuatnya dapat tatapan sinis dari Arvi.


Ditempat terpisah.


Bu Hanna bertemu pujaan hatinya Pikal. Keduanya tampak serius terlibat perdebatan.


"Bagaimana katanya berpengalaman ternyata hanya segitu saja!" Sindir Bu Hanna uring-uringan dengan kinerja orang suruhan Pikal yang menurutnya kacau gak sesuai harapan.


"Lalu mau nyalahkan siapa? Bukankah mereka orang-orang kepercayaanmu" Ungkitnya dengan ketus.


"Kamu memang wanita yang ambisius dan penuh dengan keserakahan. Kamu menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisimu. Tidak cukupkah dengan semua ini" Pikal balik mengungkit balik.


"Apa yang tidak kuturuti semua keinginanmu? Bahkan aq harus kucing-kucingan dengan istriku" Lanjutnya mengungkit.


"Aq sudah bilang ceraikan saja istrimu yang gak penting itu" Jawab Bu Hanna dengan entengnya. Seakan tidak merasa berdosa. Kata-kata ketusnya meluncur tanpa hambatan bak jalan tol.


"Hanna hentikan omonganmu itu! Kamu sudah gila!!" Pekik Pikal penuh nada kebencian.


"Tidak kusangka kamu terus memojokkanku dengan kata-kata cerai! Sampai kapan pun aq tidak bisa menceraikannya! Dia ibu dari anak-anakku" Ucapnya dengan nada yang berapi-api. Entah kenapa Pikal begitu emosional mendengar Bu Hanna mengungkitnya. Selama ini hubungan mereka layaknya suami istri tapi tanpa ikatan yang jelas. Sebab Pikal masih terikat dengan istri syahnya.

__ADS_1


"Lalu sampai kapan hubungan kita seperti ini? Sementara kamu sendiri tidak mau menceraikan istrimu!" Jawab Bu Hanna tanpa ada rasa takut sedikit pun di hatinya.


"Hanna jangan pancing aq terus untuk mengungkap semua ini!"


"Apa yang aq tutupi darimu?? Semua telah aq berikan untukmu tapi kamu tetap mempertahankan istri kesayanganmu" Ucap Bu Hanna terus menyudutkan Pikal.


"Hanna!!"


"Okey kuakui aq tetap mempertahankan istriku karena adanya anak-anakku. Perlu kamu tahu tanpa dia aq bukan siapa-siapa? Kau pikir aq tidak tahu sepak terjangnya kamu diluar sana! Kamu tidak beda dengan p*****r yang menjajakan diri kepada para pejabat untuk memenuhi ambisimu" Sindir Pikal mengejeknya.


"Dasar Pria brengsek teganya kamu bicara begitu padaku!" Seru Bu Hanna mencoba menyerang Pikal tapi dengan sekejab Pikal meraihnya. Sehingga pukulan itu tidak sampai mendarat di badan.


"Dengar Hanna sayang kamu ini hanya seorang pelakon jadi tidak usah menuntut lebih! Cukup diam dan ikuti aturan mainku jangan atur-atur aq!" Ancam Pikal memegang erat tangan Bu Hanna yang hampir memukulnya.


"Sekali lagi kamu ungkit soal kata cerai aq tidak segan-segan menghabisimu. Oh ya kasih tahu saja padaku jika kamu sudah bosan hidup bersamaku? Katakan kamu ingin menyusul Sakti lelaki pujaanmu yang tidak bisa kamu taklukkan" Ucapnya dengan sorot mata tajam ke arahnya.


Bu Hanna meronta-ronta mencoba melepaskan cengkraman tangan pikal yang begitu kuat dan sakit terasa.


"Lepaskan Pikal! Kau menyakitiku" Seru Bu Hanna meronta mencoba melepaskan tapi tenaganya tidak sepadan.


"Aq bisa menyakitimu lebih dari ini! Bahkan aq bisa menghilangkan jejak mu. Jadi mulai sekarang berhati-hati bermain denganku. Aq yang pegang kendali!" Ancam Pikal yang tiada henti-hentinya menghardik wanita pujaannya itu.


"Pikal lepaskan!" Pekik Bu Hanna meringis kesakitan.


Akhirnya Pikal pun melepas cengkeramannya.


"Berjanjilah padaku jangan ulangi kata-kata itu atau aq bisa melenyapkanmu seperti Sakti?" Ancamnya lalu pergi menjauh dari Bu Hanna yang masih kesakitan.

__ADS_1


"Tunggu saja Pikal balasanku kamu kira aq selemah ini! Akan aq buat kamu tak berdaya meringkuk di jeruji besi. Belum pernah ada orang yang merendahkan ku seperti ini" Batinnya menahan dendam pada Pikal. Ia tidak menyangka kata-katanya membuat Pikal emosi sampai tidak terkontrol seperti itu."Apa obat itu tidak mempan?" Bisiknya dalam hati. Sebab untuk menjinakkan emosi Pikal yang notabenenya tempramen Bu Hanna memberinya obat penenang.


__ADS_2