
Tibalah ditempat Warung Lalapan langganan Sakti. Semula ia ingin makan diCaffe tempatnya nongkrong tapi Arvi menolak karena terlalu rame. Dimana Arvi melihat mobil Pak Ketua ada terparkir. Entah siapa yang bawa. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan diwarung lesehan. Jauh dari pikiran Sakti sedari tadi Arvi terlihat manja disampingnya. Tidak ada rasa canggung atau malu. Sakti begitu menikmati suasana makan malam itu. Sifat asli Arvi yang cerewet muncul membuatnya gemas ingin selalu dekat dengannya. Berbeda sekali sikapnya diKantor. Sewaktu dimobil Sakti sempat memeluk dan menciumnya ia pun tak menolaknya. Sakti sangat merindukannya. Kini ia mengerti sekarang jika Arvi malu tak ingin hubungannya diketahui teman-teman kantor.
Selesai makan Sakti tidak langsung mengantarnya pulang ia ingin mengajaknya bicara kemana arah hubungan mereka. Sakti sudah pingin ngajak nikah tapi Arvi menolak tidak ingin terburu-buru.
Takut Santi mencarinya Arvi sempatkan menghubunginya jika ia keluar dengan atasannya. Santi pun mengerti dan tidak ingin bertanya lagi.
Sakti membawa arvi kerumahnya. Seharian kerja badan lengket berkeringat sampai dirumah Sakti bergegas mandi membersihkan diri. Arvi membuatkannya secangkir teh hangat ketika Sakti mandi.
Sakti memeluknya dari belakang. Tubuh wangi yang selalu ia rindukan dipeluknya dengan erat seakan tak ingin dilepasnya.
Arvi pun tersipu malu ketika Sakti memeluknya.
" Mas jangan ah" Larangnya mencoba mengangkat wajah Sakti yang ingin mencumbunya.
"Seharusnya kamu tetap disini kita tidak saling berjauhan" Suara Sakti memulai percakapannya.
"Mas jangan egois ah"
"Loh koq egois?"
"Mas hanya memikirkan perasan mas. Tapi pernah gak ngerti posisi saya"
"Secepatnya kita menikah biar kita bisa hidup bersama"
"Apa???" Setengah berteriak dengan mata melotot ke arah Pak Kabag yang berambut putih itu.
"Lah maunya gimana?" Sabarnya Sakti mencoba untuk lebih santai dan menguasai keadaan saat itu.
"Entahlah mas saya masih belum siap"
"Tapi usiaku tidak semuda kamu dek". Pungkasnya melepaskan pelukannya.
Arvi membelakanginya.
"Aq ingin mas sedikit lagi bersabar". Arvi memeluknya dari belakang. Ada rasa penyesalan dibenaknya.
Sakti menggenggam erat tangan dan mencium kedua pipi Arvi dengan lembut
__ADS_1
"Ayo kita pulang!" Ajak Sakti melihat jam di ponsel.
"Mas ngusir aq?" Ucap Sakti setengah menyudutkan matanya ke arah laki-laki itu.
"Loh kamu mau nginep sini? Baguslah memang itu yang kuingini. Tidur ada yang dipeluk ditemani ada yang dimanja ada yang disentuh ". Celetuknya tersenyum dengan senangnya menggoda Arvi yang tersipu malu.
"Saya harus pulang mas ada Santi dirumah". Arvi balik mengingatkan jika di rumah ada Santi Solmed nya.
"Gimana sih ". Celetuk Sakti gak habis pikir dengan gadis cantik dihadapannya. Bikin gemes aja. Disatu sisi ingin disitu bersama kekasihnya di sisi lain ingin bersama temannya Santi.
Arvi angkat bahu tersenyum. Arvi tahu apa yang ada di otak Sakti saat ini.
Dengan berat hati Sakti mengantarnya pulang ketempat kost. Tapi Sakti janji besok pagi akan menjemputnya.
Sampai ditempat Kost Santi sudah pulang rupanya. Santi merasa aneh dengan tingkah laku teman yang telah dianggapnya seperti adek sendiri. Santi makin curiga dengan gelagat Arvi. Ada tanda-tanda jika sahabatnya lagi kasmaran dengan Pak Kabag berambut putih itu.
"Oh Tuhan seleranya kenapa tua begini padahal jika ia mau dia bisa dapatkan yang lebih dari dia. Yang muda ganteng dan tajir banget"Gerutunya dalam hati mencibir pilihan Arvi.
"Katanya pingin istirahat koq keluar?" Sindir Santi mencicingkan mata ke arah Arvi ynag terlihat malu-malu.
"Ga enak nolak. ikut kamu takut ganggu" Candanya buru-buru Santi mencubit kecil lengannya. Dan Arvi tertawa saja.
"Ih mau tau atau mau tahu" . Candanya lagi, Santi terlihat manyun ingin tahu.
"Jangan bilang kamu pergi dengan Pak Ketua". Lanjut Santi menerka-nerka menggodanya.
"Apa sih gak banget deh. Sembarang aja bisa-bisa saya dikejar parang dengan dia punya maitua". Jelasnya tertawa atas ucapan Santi.
" Ha dengan Pak Kabag rambut putih tua itu? What??? Gak salah kamu jalan dengan dia" Cerocos Santi tidak percaya kalau temannya kencan dengan atasannya. Dugaannya tidak salah lagi.
"Wah gawat ini seleramu tua amat. Jangan-jangan kamu diguna-guna" Lanjutnya uring-uringan. Arvi hanya tertawa-tawa mendengar ocehan Santi.
"Jangan gitu dong bagaimana juga itu atasanku". Jelasnya gak terima.
"Jangan-jangan kamu ada hati dengan Pak Kabag itu?". Suara Santi membuatnya tersedak. Santi buru-buru memberinya minum.
"Sudah ah jangan bahas dia entar dia ke pedean" Arvi mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Sakti.
__ADS_1
"Tapi Arvi sayang jangan macam-macam e dengan Laki-laki berumur e dia itu gak mau main-main lagi dong su serius itu kalau udah ketemu gadis yang ia suka. Oh sudah itu cinta mati" Jelas Santi panjang lebar.
"Macam sahabatku yang cantik su pengalaman ini dibidang percintaan" Sahut Arvi tertawa padahal ada yang disembunyikan dari Santi.
"Hati-hati e kemakan omonganmu itu dari benci menjadi cinta". Desak Santi mengganggunya. Terlihat sekali Arvi tampak bahagia jika ketemu dengan Pak Sakti.
"Tuhan ampun Santi.." Arvi setengah melotot kearahnya.
" Kak San...Ayo tidur aku udah capek banget" Pinta Arvi pamit ingin tidur duluan.
"Iyo sudah saya juga sudah ingin tidur".
"Oh ya Besok aq mau pergi jangan marah e" Arvi memberitahunya.
"Kemana dengan siapa?" Tanyanya kepo penuh slidik.
"Cuma jalan-jalan ".
"Kenapa saya tidak diajak" Protes Santi penuh curiga sepertinya ada yang disembunyikan darinya.
"Situ berani lawan atasan" Sela Arvi.
"Modus itu Pak Kabag pake acara jalan-jalan gak ngajak-ngajak kalian dua pacaran toh?".
Protesnya curiga. Rasa ngantuk yang mula mendera hilang seketika.
"Syiriik lu.." Timpal Arvi tertawa.
"Dasar itu Pak Kabag. Nanti saya denda kalau dia kemari". Santi tambah jengkel dengan sikap Arvi yang tertawa mendengar ocehannya.
Ditempat yang berbeda tanpa sepengetahuan Arvi. Sakti meminta kakak dan kakak iparnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sakti pikir setelah menikah ia akan bertemu kedua orang tua Arvi untuk menjelaskan semuanya. Dia ingin hubungannya halal Dimata agama dan Negara.
Acara tersebut terpaksa ia tempuh. Dua kali ia utarakan tapi ditolak Arvi. Dengan alasan terlalu cepat. Semakin hari ia sangat merindukannya tidak mungkin terus berjauhan. Mengingat umurnya udah mau kepala empat. Mau apalagi pikirnya pasti mencari keturunan. Sakti ingin membuktikan apa betul Arvi sungguh-sungguh mencintainya atau kejadian tersebut hanya sebuah ***** belaka dikala orang dalam kesepian.
Sakti sadar jika Cara yang dipilihnya sedikit memaksa. Entah Arvi setuju atau tidak? ia ingin menikahinya dan bertanggung jawab atas perbuatannya malam itu. Hanya acara tersebut khusus orang terdekat saja dan yang terpenting ada Penghulu. Jauh hari Sakti telah meminta saran dan pendapat dari penghulu. Kalau wanita yang telah dewasa dapat menikah tanpa kehadiran dari orang tua sebagai wali nikah.
Tak lupa sakti meminta Arie dan istrinya untuk datang. Sakti menganggap kalau bukan karena campur tangan mereka ia tidak bertemu Arvi. Sakti tidak menghadirkan ibu atau kakaknya karena acara mendadak dan faktor ibunya yang sudah renta, Sering sakit-sakitan dan tidak bisa perjalanan jauh dengan jalan yang berkelok-kelok naik turun. Hal tersebut yang menjadikan alasan Sakti tidak menghadirkan ibu yang telah melahirkannya. Di momen yang bersejarah dalam hidupnya ibunya tidak bisa hadir. Tapi doa orang tua tidak ada henti-hentinya terus mengalir demi anak-anaknya.
__ADS_1
Bagitupun doa Sakti panjatkan semoga Ibunya sehat selalu dan Arvi setuju untuk menjadi pendamping hidupnya yang tak muda lagi. Semoga semua sesuai rencana. Akhirnya Sakti tertidur dengan mimpinya melangsungkan akad nikah besok pagi. Semoga malam ini lekas berlalu dan berganti esok hari. Dimana usianya genap 38 tahun. Usia yang cukup matang untuk membina rumah tangga. Tidak terasa besok ulang tahunnya.