
Sebenarnya Arvi belum tidur sewaktu Sakti datang mencarinya. Arvi mendengar percakapan keduanya. Ada perasaan lega juga rindu jika suaminya tetap mencarinya. Namun karena gengsi ia tak ingin menemuinya. Setelah Sakti pulang dari tempat kost baru Arvi keluar menemui Santi
"Makasih kak Santi"
"Makasih untuk apa?"
"Kak Santi sudah menemuinya"
"Kamu gengsi ya untuk ketemu dia?"
" Bukan gengsi tapi saya merasa bersalah tidak bisa jadi istri yang baik untuknya"
"Cie cie cie nada bicaranya kalau sudah menikah beda e"
"Beda apanya kak?"
"Beda aja. Kamu kangen ya sama suami? Huuuh Sok jual mahal namanya siksa diri"
Santi mengarahkan jari telunjuknya ke arah Arvi menggodanya.
"Bukan Kangen tapi kangen banget" Sahut Arvi tersenyum balik menggoda Santi.
"Jadi kepingin cepat-cepat nikah biar ada yang perhatikan, temani tidur" Goda Santi spontan Arvi mencubit lengannya sembari tertawa.
"Tidur yuk udah malam besok kerja loh" Lanjut Santi mengingatkannya. Sebelum ke kamar Santi terlebih dahulu mengunci pintu depan. Lalu keduanya masuk kekamar masing-masing.
Di dalam Kamar Arvi meraih Hp di atas meja. Arvi membuka pesan WhatsApp yang sedari tadi bunyi trus.
__ADS_1
"Dek angkatkah !"
"Dek mas minta maaf kalau ada salah"
"Dek bukan mas punya mau"
"Mas ada di depan kost ini please buka"
"Mas sudah nyampe rumah😘😘😘😘"
Arvi tersenyum membaca pesan dari suaminya.
Tidak berapa lama Hp bergetar panggilan masuk melalui WhatsApp. Siapa lagi kalau bukan Sakti.
"Dreeet dreeet dreeet dreeet"
Ketika hendak diangkat Sakti telah mematikan panggilannya.
Arvi hanya mampu menatap suaminya dari layar Hp. Ia tersenyum mengingat suaminya yang gigih. Tidak terasa rasa ngantuk dan lelah mulai menghujam. Ia tertidur pulas.
Ditempat yang berbeda. Sakti mulai merebahkan badan. Rasa lelah seharian kerja membuatnya pingin cepat-cepat keperaduan mimpi. Tapi matanya enggan terpejam juga. Matanya menerawang ke atas dinding kamar. Pandangannya ia alihkan kesamping. Masih segar dalam ingatan jika wanita ayu tidur pulas dalam dekapannya. Kini ia harus menelan kenyataan jika wanita yang belum genap seminggu ia nikahi kembali ke tempat asalnya. Entah berapa kali ia mengusap wajahnya menahan kantuk. Pikirannya melayang entah kemana. Ia begitu mengharap kehadiran istrinya. Tanpa ia rasa suara dengkuran halus mulai terdengar. Ia tertidur ke alam mimpi melupakan sejenak segala persoalan hidup. Jiwa dan raga juga butuh istirahat butuh ketenangan untuk menjalani aktivitas esok hari.
Suasana pagi ditempat kost Arvi. Suara canda tawa kedua wanita yang terpaut dua tahun tampak gaduh. Tidak ada duka atau tangis keduanya sangat akrab. Arvi dan Santi asik mengobrol didapur sembari mencuci baju. Arvi masak nasi goreng buat sarapan pagi. Sebab sedari pagi mereka membersihkan rumah yang sudah berapa hari ditinggalkan keduanya. Wajah Arvi tampak riang tidak ada guratan kesedihan yang ada suka cita.
Hari Sabtu kegiatan kantor libur. Sakti Bagun agak kesiangan. Ketika buka mata ia mencoba meraih Hp diatas meja untuk melihat jam berapa. Alangkah ia terkejut rupanya dari semalam lupa tidak cas Hp hingga mati. Segera ia bangkit mencari alat cas di tas kerjanya. Begitu ia dapat di colok ke stop kontak yang menempel didinding. Sakti bergegas ke kamar mandi.
Cuaca terlihat mendung. Mentari enggan menampakkan diri berkurung di balik awan tebal. Waktu berputar sangat cepat. Tidak dirasa waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Rasa lapar mulai menyerang minta diisi. Bergegas ia kedapur tapi rasa Malas menerpanya.
__ADS_1
Sakti berjalan ketempat Hp di cas. Segera ia hidupkan Hp. Muncul pesan WhatsApp dari beberapa group tapi pesan yang dinantinya tidak ada. Tanpa pikir lagi Sakti berjalan mengambil kunci motor dan helm di dalam lemari.
Santi mempersilahkannya duduk. Arvi tidak menyadari jika tamu mereka Sakti. Sakti menunggu Arvi di ruang tamu. Tidak berapa lama Santi membawa nampan berisi secangkir teh. Tidak lama Arvi keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di badannya. Sakti tersenyum melihat tingkah istrinya yang tidak sadar atas kehadirannya.
"Kak Santi dimana e letak..." Suara Arvi terhenti tatkala sepasang bola mata memperhatikan tingkahnya dari tadi.
Perlahan Arvi menatap suaminya tanpa ekspresi. Santi mencoba mencairkan suasana di keduanya.
"Pak Sakti diminum dulu tehnya. Atau Pak Sakti ingin makan? Arvi juga sudah masak koq" Suara Santi menawarinya
"Terima kasih mbak Santi" Sahut Sakti tersenyum atas tawaran Santi.
"San aq ganti baju dulu ya. Mas tunggu dulu ya cuma sebentar".
"Iya mas tungguin kamu"
Arvi mencoba menghindari tatapan sang suami yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.
"Mau ribut gak enak ada Santi di tempat kost palah tambah runyam jadinya" Batinnya menggerutu. Mau usir pulang pun percuma serba salah jika ada Santi. Sebenarnya Santi mau tertawa dengan tingkah Arvi yang malu-malu kucing.
"Gimana dengan kantor Pak? Sudah ada mau Sidang Pak?" Suara Santi mengalihkan.
"Belum masih tunggu materi dari Pihak eksekutif". Jelas Sakti penuh sopan.
"Masih lama ya Pak Sakti?"
" Paling sekitar Minggu depan" Jelasnya
__ADS_1
Arvi bergegas masuk untuk memakai baju. Suka dan tidak suka ia harus melayani suaminya dengan baik. Karena sudah menjadi tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri. Butuh bimbingan dan nasehat dari orang yang lebih berpengalaman. Sebab jarak usia yang terpaut jauh membutuhkan waktu ekstra untuk beradaptasi. Sakti harus mampu membimbing Arvi menjadi istrinya.