AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Orang Mabuk


__ADS_3

Arvi berjalan dengan semangat berharap ada mobil atau motor dari teman-teman kantor tapi tidak ada yang lewat. Jarak dari kantor ke mata jalan lumayan jauh hampir satu kilo meter. Lumayan capek kalau jalan pake sepatu kantor bikin pegal-pegal aplagi yang memiliki hak tinggi. Untung ia tidak memakainya sejak Sakti menegurnya ia ke kantor pake sepatu yang tidak bertumit tinggi. karena itu akan melelahkan dan menghambat aktivitas kerjanya yang kadang naik turun tangga.


Hanya lampu jalan dan suara jangkrik yang bersaut-sautan menemani perjalannya. Teman kantornya pun belum juga ada yang lewat. Begini sudah kalau tidak punya kendaraan harus jalan kaki. Kalau sudah malam hari tidak ada tukang ojek yang melintas atau masuk ke arah kantor. Disini tidak ada pemukiman yang ada masih berupa kebun milik warga dari kampung sebelah yang bercocok tanam.


Ada sebuah motor yang melintas dua orang laki-laki berboncengan. Berpapasan saja bau minuman beralkohol begitu menyengat di hidung. Inilah kejadian yang ia kawatirkan ya di ganggu orang mabuk. Ia tidak takut dengan hantu atau dedemit atau apalah namanya justru manusia yang ditakutinya karena kita punya Tuhan.


"Hai nona cantik mau kemana malam-malam gini mari ikut kakak". Sapa salah satu dari mereka yang memutar balikkan motor mengikuti langkah Arvi.Perasaannya udah campur aduk ga karuan takut dua orang itu akan menjamahnya. "He kamu sok cantik!! tidak bisa dengar? kamu tulikah".Lanjutnya karena Arvi tidak menggubris sapaannya. Dia terus berjan dan tak menggubrisnya.


Langkah kakinya semakin cepat. Dua orang itu pun terus mengikutinya dari belakang ahkan mereka meracau mencaci maki Arvi. Padahal mereka tidak saling kenal, jangankan kenal ketemu sebelumnya juga tidak pernah sudah mencaci maki dan melecehkannya. Arvi bergegas berlari tapi mereka menarik tas yang dibawanya. sehingga terjadi tarik menarik karena kalah fisik Arvi terjungkal kebelakang dan mencoba untuk bangkit berlari tapi mereka menarik bajunya dari belakang. Sekuat tenaga ia beteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengar orang itu palah memukulnya dengan reflek Arvi menghindar tapi bahunya terkena pukulannya.


Ketika handak memukul untuk yang kedua kali sebuah mobil mengklakson dari jauh membuat dua orang itu bergegas kabur dengan motornya.

__ADS_1


Arvi terduduk menangis terisak-isak dipinggir jalan wajahnya pucat ketakutan dengan derai air mata yang asih mengalir. Mobil itu berhenti dan sang sopir keluar menghampirinya"Kamu tidak apa-apa?"Suara Sakti menyadarkannya akan peristiwa tadi. Sakti lalu mendekap Arvi untuk menenangkannya. Kalau dia sekarang aman bersamanya, tapi Arvi hanya mengangguk pelan ketakutan. Bibirnya bergetar pandangannya kosong wajahnya pucat. Tiba-tiba ketika Sakti ingin memapahnya tubuhnya roboh. Arvi pingsan seketi Sakti menggendong dan membawanya ke dalam mobil.


Bergegas ia masuk ke mobil memutar ke arah rumah. Mula ia ingin membawanya kerumah sakit tapi ia urungkan. Sakti membawanya kerumah.


Sakti sempat mencoba menghubungi Arie tapi tidak diangkat. Sempat juga ia menghubungi Kakak Iparnya Dita tapi nomor tidak aktif. "Kemana ini orang semua" Gerutunya merasa jengkel orang yang dihubunginya tidak ada yang angkat.


Sekitar lima belas menit mobil pun telah memasuki pekarangan rumah. Dengan tergesa-gesa Sakti keluar dan menggendong nya masuk kerumah yang masih dalam keadaan pingsan. Sakti membaringkan Arvi di kamar tamu.


"Hallo iya tadi aq menghubungimu. Bisa kerumahkah sekarang aq ada butuh bantuanmu sekarang jangan lupa ajak Mila" Jelas sakti mengangkat telpon dari Arie. Segera ia menutup telpon.


Sembari menunggu kedatangan Arie dan maituanya Sakti bergegas mandi membersihkan badan yang seharian bekerja terasa lengket dan gatal dibadan.

__ADS_1


Tidak berapa lama Arie dan istrinya datang. Dengan muka penasaran mereka bingung kenapa malam-malam disuruh datang seperti tidak ada hari esok lagi. "Ada apa sih kita disuruh datang?" Protes Arie masih bingung dan penasaran. Sakti yang ingin menarik Mila kedalam kemar tamu. "Aq perlu bantuan Mila dulu" Sahut Sakti menarik lengannya tapi ditepis Arie "Enak aja maituaku mau dibawa kekamar " Larangnya menarik istrinya. "Pinjam sebentar" Paksa Sakti melangkah menuju kamar tamu diikuti Arie. Begitu pintu kamar dibuka Arie dan Mila terbelalak kaget melihat gadis cantik itu. Mila melotot ke arah Arie dan Sakti curiga ada yang gak beres ini. Arie mencoba ngeles tidak mengenalnya. "Sabar ma! Sabar!!" Bujuk Arie mencoba meredam amarah istrinya. "Siapa dia? Baru kenapa dia ada disini?". Tanya Mila mengintrogasi keduanya. Sakti menarik nafas dalam-dalam perlahan ia hembuskan. "Jangan punya pikiran aneh-aneh. Itu teman Arie yang dititip kerja di Kantorku. Kasihan dia ga ada kerjaan" Sakti berusaha menjelaskan tapi Mila balik kaget melotot ke Arie kenapa ga cerita ke dia tentang ini ceweq. "Dia diganggu orang mabuk dijalan untung aq segera datang, kalau tidak bisa parah kejadiannya" Jelasnya lagi berdiri dimuka pintu. "Lalu gimana ini? Maksudnya panggil kita?". Tanya Mila dengan nada pelan ke Sakti. "Tolong urus dia dulu"Sahut Sakti memohon. Mila tersenyum memukul ringan bahu Sakti. "Kupikir kamu bawa kabur orang punya anak!". Seronoknya Mila asal bicara sambil menutup pintu.


Dari balik pintu Arie berkelakar menggoda Sakti." Bro satu rumah ini !"Celotehnya mengangkat-angkat kedua alisnya ke arah Sakti. Kata-katanya terhenti ketika suara pintu terbuka. "Mas adakah baju biar aq gantikan baju. Kasihan dia" Mila memintanya baju ganti. Sakti geleng kepala dan mengangkat kedua bahunya memberikan isyarat kalau tidak ada baju ganti. "Baju cowoq juga gak pa-pa mas yang penting baju" Jelas Mila.


Bergegas Sakti masuk ke kamarnya memilih baju. Tidak berapa lama Sakti membawakannya celana pendek dan sebuah kaos diberikan kepada Mila yang menunggunya. Lalu Mila bergegas masuk menutup pintu kamar dan menggantikannya baju yang Sakti berikan.


Pintu terbuka kembali Mila keluar membawa pakean gadis itu. Kemudian ia meminta Sakti untuk menjaganya karena dia demam. "Mas kalau dia sudah bangun kasih obat Paracetamol ya cek-cek aja jangan sampe menggigil badannya" Pungkas Mila yang seorang perawat, dan langsung berpamitan karena anak-anak dirumah sendiri. "Kalau ada apa-apa bawa ke rumah sakit e.."Usul Arie "Sip! Makasih e" Sahut Sakti mengacungkan jempol setuju.


Keduanya berpamitan pulang. Tinggallah Sakti sendiri diruang tengah. Bergegas ia mengunci rumah.


Dengan rasa capek yang mendera Sakti istirahat duduk di sofa diruang tengah. Sebetulnya ia ingin menahan Mila tapi tidak bisa kedua anaknya dirumah sendiri. Tidak berapa lama ia sangat ngantuk. Ngantuk yang tak tertahankan. Bergegas ia masuk ke kamar dimana Arvi tertidur. Lalu ia mengambil kasur lipat dan dibentangkan dilantai. Tak lupa ia membawa bantal.

__ADS_1


Malam telah larut rasa ngantuk yang tak tertahankan membuatnya ingin segera tidur dengan Sononya. Sebelum ia tidur ia terdiam mengamati wajah ayu Arvi yang seharian diruang rapat membuat suasana berbeda. Masih teringat kejadian diruang rapat mata mereka saling bertemu terkadang saling mencuri pandang. Tapi Arvi selalu menghindar dan menundukkan wajah ayunya. Selama rapat berlangsung ia sangat semangat sekali. Kini gadis ayu itu ada dihadapannya tidur dirumahnya satu kamar. Apa ini rencana Tuhan atau kebetulan semata. Tidak butuh waktu lama ia pun tertidur dikasur lipat. Bisa saja ia tidur di kamarnya sendiri tapi ia kawatir kalau Arvi kenapa-kenapa. Dengan terpaksa ia menemaninya dikamar.


__ADS_2