
Terlihat jelas wajah tampan Sakti dipelupuk matanya. Sakti berdiri mencoba terus menjauh darinya. Arvi berlari memeluknya.
"Kumohon jangan menjauh dariku! Aq takut kehilanganmu" Arvi menangis memeluknya. Sakti hanya diam menatap kedepan. Ekspresi wajahnya datar tanpa senyum atau
pun ciuman mesra untuknya. Dia hanya diam mematung. Tubuhnya terasa dingin. Sakti tidak menghiraukan istrinya yang terisak menangis memeluknya.
"Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar" Suara azan shubuh berkumandang membangunkannya. Arvi mencoba menyegarkan ingatannya jika apa yang terjadi hanya sebatas mimpi bukan kenyataan. Arvi menoleh ke samping tidak ada sosok suami disampingnya. Dalam mimpi pun ia ingin memeluk Sakti. Sudah beberapa hari ini ia tidur sendiri. Dia sangat merindukan suami nya. Teringat olehnya jika Santi ada tidur di kamar sebelah.
Arvi segera bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh. Ia ingin mendekatkan diri pada Sang Khaliq memohon petunjuk agar ada titik terang keberadaan suaminya.
flashback dulu ya
Di tempat berbeda
Bu Hanna begitu murka dihari itu. Seakan tak habis akal. Sebegitu murkanya ia dengan Sakti. Baginya tidak ada cara lain selain menyingkirkannya. Pikal pun tidak mampu mengendalikan amarah wanita yang mulai memasuki 34 tahun itu.
Prinsip Bu Hanna apa yang menjadi targetnya harus jadi miliknya jika tidak maka tidak ada orang lain yang bisa memilikinya. Walau dengan cara apapun harus ia miliki.
"Aq tidak mau tahu hari ini juga dia harus dilenyapkan jika tidak dapat menghancurkan segalanya" Titahnya dengan ketus.
"Maksudmu aq harus turun tangan sendiri?" Sela lelaki itu memeluknya dengan mesra.
"Baru aq sendiri? Enak dikamu tak enak di aq" Protes Bu Hanna sinis
"Lalu apa rencanamu Sayang? Jika umpan yang kemarin tidak bisa menjeratnya" Lanjutnya mencoba untuk membujuk Bu Hanna.
"Saya tidak menyangka jika Sakti sangat mencintai istrinya. Dia tidak tergoda sedikitpun kemolekan tubuhku. Jangankan tergoda melihatnya saja tak sudi"ini
"Iyokah sayang?"
"Andai dia mau menjamahku pasti dia sudah mendekam dijeruji besi" Ucapnya masih ketus.
"Lalu pake cara apalagi?" Tanya Pikal penuh slidik sebab ia tahu kekasih gelapnya ahli dalam segala hal.
__ADS_1
"Kita suap dengan barang brended saja gak mempan bahkan kupertaruhkan harga diriku juga tidak mampu menjeratnya. Jalan satu-satunya singkirkan dia apapun caranya. Saya ingin habisi dia sampai keturunannya. Manusia sombong seperti dia patut mendapatkannya" Gerutu Bu Hanna penuh dengan amarah yang menyala.
"Aq setuju sayang jika itu ide yang terbaik. Apa tidak terlalu berlebihan sayang jika keturunannya juga kita habisi?"
"Kenapa mas takut??"
"Bukan begitu cantik. Istrinya masih terlalu muda kasihan kalau dia mati? " Entah kenapa Pikal merasa iba. Tentu Bu Hanna melotot ke arahnya.
"Apa??? Jadi mas lebih kasihan anak honor itu yang sok kecantikan dari pada aq? Apa hebatnya dia? Jangan bilang kalau kamu naksir dia? Saya kurang apa sih kak semua telah aq kurbankan masih saja melirik wanita lain" Sahut Bu Hanna penuh cemburu dengan Arvi.
"Sayang kenapa marah-marah nanti cepat tua?? Aq hanya bercanda tidak serius. Sayang hentikan rasa cemburumu yang berlebih" Bujuk Pikal lagi mencoba menguasai keadaan wanita pujaannya.
"Gimana saya gak jengkel jika kamu juga tertarik sama anak honor itu. Rupanya kamu dan Sakti gak beda jauh suka dengan wanita itu" Ungkit Bu Hanna masih jengkel dengan Pikal
"Iiih Iiih Siapa yang naksir dia sayang. Aq hanya iba padanya bukankah dia sedang berbadan dua sayang. Jangan marah dong? Yakinlah Kak Pial sangat mencintaimu" Bujuk Pikal lagi seraya mengiba meraih tangan Bu Hanna.
"Justru itu kita harus menghabisi keturunan Sakti juga. Biar Tidak ada penerus generasinya"
"Apapun maumu aq setuju aja sayang. Tidak ada cara lain lagi. Kita arus menghabisi laki-laki sombong dan angkuh bikin diri inti" Ucap Pikal penuh ambisi.
"Tentu itu sudah pasti nanti aq yang atur mereka. Sekarang kamu harus puaskan aq jangan marah-marah" Ucap Pikal dengan otak mesumnya
"Dasar lelaki yang ada di otakmu hanya itu-itu saja" Hardiknya jengkel.
Pikal pun hanya tertawa membalasnya sembari mencumbu kekasih gelapnya dengan penuh *****.
"Tunggu dulu saya ingin kamu menghubungi orang-orang kita itu" Ucap Bu Hanna mencoba mengurai pelukan mesra Pikal. Ia tahu jika Pikal sudah asyik di ranjang lupa segalanya. Pikal mengerutkan keningnya. "Pintar juga ini sayangku" Gumamnya lirih tapi masih terdengar ditelinga Bu Hanna.
"Siapa dulu" Ucap Bu Hanna berbangga diri.
"Okey sayang".Pikal lalu meraih ponsel yang terletak di meja.
Tidak berapa lama Pikal menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Hallo kamu dimana?" Tanya Pikal penuh harap.
"Hallo Boss kami tunggu kabar balik dari boss" Jawab seseorang dari sebrang.
"Saya minta kamu habisi dia sekarang juga. Nanti saya kirim fotonya"
"Okey boss"
"Oh ya nanti saya kirim alamatnya"
"Okey boss. Tapi hari ini juga bos?" Tanyanya meyakinkan atasannya
"Kesempatan kita hari ini mumpung dia diluar daerah. Kalau sudah kembali target fokus di kantor atau rumah" Jelas Pikal.
"Kalau begitu oke boss siap menjalankan perintah berikutnya"
"Tunggu instruksi dari saya jangan asal. Paham maksud saya"
"Okey Boss. Kami mengerti. Kalau begitu kami cabut ke TKP"
"Okey baik saya tunggu berita baiknya. Sebab menurut informasi target pulang sendiri. Entah bagaimana caranya ganti sopir langganannya. Okey??" Ucap Pikal mengakhiri percakapan lewat ponselnya.
"Okey boss saya siap jadi sopir penggantinya kebetulan saya kenal banyak kenalan sopir"
"Oh itu lebih bagus lagi. Saya setuju" Ucap Pikal tertarik dengan ide anak buahnya.
Percakapannya pun berakhir. Pikal mematikan ponselnya.
"Bilang dia jangan sampai gagal saya tidak ingin cara ini gagal " Suara Bu Hanna menghardik Pikal.
"Tentu sayang jangan ragukan kinerja anak buahku yang berpengalaman" jelas Pikal meyakinkan Bu Hanna sembari mendekati mencoba meraih tubuhnya ke kasur.
Pembaca yang Budiman bisa membayangkan adegan apa yang terjadi berikutnya di ranjang. Sebab keduanya pasangan yang saling mencintai dengan status yang berbeda. Disatu sisi Pikal yang sudah beranak istri. Membagi hatinya dengan Bu Hanna dengan status single.
__ADS_1
Anak buah Pikal yang bernama Sandi lalu menghubungi dua rekan kerjanya untuk menjalankan aksinya. Tak butuh waktu lama Pikal mengirimkan foto serta alamat hotel tempat Sakti menginap. Sebab Pikal dan Bu Hanna menjanjikan bonus yang menggiurkan bagi ketiganya.
Sakti tidak ikut pulang bersama rekan kerjanya di Kantor. Sebab ia fokus ingin menyelesaikan masalahnya dengan Bu Hanna. Akhirnya Sakti membatalkan rencana awal untuk pulang bersama mereka. Untungnya ketiga rekan kerjanya mau mengerti dan memahami posisinya. Sakti juga tidak ingin membebani rekan kerjanya di Kantor.