AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Memaksakan Kehendak


__ADS_3

Arvila hanya murung dikamar. Tidak terbesit di otaknya jika akan jadi begini. Hatinya hancur luluh berantakan. Tak disangka dokter Richat senekat itu mengutarakan niatnya menggantikan posisi Sakti.


Rasanya ingin bunuh diri saja. Belum genap ia menikah satu tahun suaminya hilang tak ada kabar. Ia hanya berdoa agar Tuhan mengembalikan suaminya bukan mencarikan jodoh pengganti Sakti. Sebab ia sangat merindukan suaminya.


Keputusannya pulang ke kota asalnya justru menimbulkan persoalan baru. Kemana tempatnya mengadu? Bahkan ia mengganti nomor ponselnya agar tidak terlacak siapa pun. Ia hanya ingin menyelamatkan diri dari orang-orang jahat itu.


Rencana pernikahan itu rupanya tidak main-main. Dengan tegas Pak Hartono menyetujuinya. Ia tidak ingin menanggung malu setelah kepergian istrinya.


Hari itu diruang keluarga Pak Hartono mengumpulkan semua anggota keluarganya. Mereka sengaja menekan Arvi untuk menerima pinangan dokter Richat. Sebab Arvi bersikukuh menolak. Ia meyakini jika suaminya Sakti masih hidup.


"Ayah setidaknya tunggu anak ini lahir akan kuturuti keinginan ayah" Ucap Arvi menolak keinginan sang ayah.


"Arvi ini bukan soal keinginan ayah tapi ini untuk masa depan dirimu juga status anak itu" Tutur Pak Hartono mulai menekan Arvi.


"Iya ayah aq tahu. Tapi aq yakin dan percaya jika Sakti masih hidup dia pasti akan...." Sahut Arvi memberi alasan tapi tidak dapat diterima oleh Pak Hartono.


"Untuk apa menunggu lelaki yang tidak jelas batang hidungnya. Tidak jelas asal usulnya. Sadar Arvi dia laki-laki brengsek yang hanya memanfaatkanmu jika dia gentle seharusnya sebelum dia menikahimu meminta izin pada ayah bukan ujug-ujug kamu balik dengan kabar kamu sudah menikah hamil sementara dia hilang entah kemana. Itu yang kamu bilang tanggung jawab?? Kamu butuh belajar banyak bukan hanya sebatas tentang cinta. Selama kamu merantau ayah diam bukan berarti ayah tidak sayang kamu tapi hal inilah yang ayah takutkan" Ujar ayahnya panjang lebar menasehati Arvi yang terus memberi alasan untuk menolak rencana mereka.


"Please ayah hentikan rencana ini" Pinta Arvi memohon pada ayahnya dengan tulus. Sudut mata beningnya mulai mengalir membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


"Kamu yang diam Arvi!! Dengarkan ayah ngomong" Sela Ayu membela sang ayah. Sorot matanya jelas terihat jengkel melihat Arvi kenangis. Dalam hatinya berkata "Hentikan air mata buayamu itu. Menangis untuk membatalkan rencana ini. Mau taruh dimana ini muka kami"


"Arvi harusnya kamu bersyukur dokter itu bersedia menikahimu?" Ujar Dinda yang sewot mengolok-olok sang adik bungsunya. Sementara Arvi masih kekeh dengan pendiriannya.


"Arvi bangunlah dari mimpimu! Jelas-jelas lelaki itu hanya memanfaatkanmu. Lihatlah sekarang kamu hamil dia menghilang. Ada lelaki baik kamu ingin menolaknya? Otakmu taruh dimana? Memangnya hidup makan cinta" Gerutu Ayu mulai emosi menghadapi Arvi yang menangis. Posisi Arvi betul-betul tersudut.


Arvi menarik nafas sambil terisak-isak. "Kalian tidak mengenalnya Sakti tidak seperti itu dia suami yang bertanggung jawab dan setia. Aq pulang karena ada sesuatu ya..."Jelas Arvi belum selesai tapi Dinda memotongnya


"Sesuatu apa??? Sebuah kehamilan yang mencoba kamu tutupi dari keluargamu ini!! Arvi lupakan Laki-laki brengsek itu. Saya tidak ingin mendengar apapun alasanmu yang jelas segera kamu menikah dengan dokter itu. Tidak ada kata tidak!!" Ucap Dinda dengan kata-kata penuh penekanan.


"Stop kalian berhenti menyalahkan adikmu! Bagaimana pun dia adik kalian" Sela Pak Hartono mencoba menengahi. Walau apa yang dilakukan Arvi salah tetap ia menyayangi.


"Sudalah ayah dia sudah dewasa bukan seperti anak kecil yang harus kita suapi terus-menerus. Biarkan dia berpikir sendiri semua untuk kebaikannya" Ucap Ayu Kaka keduanya yang memperhatikan adeknya dengan seksama. Rasa iba sudah pasti melihat sang adik sedari tadi disudutkan tapi mereka harus keras pada Arvi.


"Mas tahu sendiri Arvi kalau tidak kita paksa dia akan membuat kita semua malu!" Kilah istrinya jengkel.


"Iya saya ngerti coba kita dengar dulu penjelasannya kenapa dia menolak? Apa alasannya?"


"Biar aq berkata jujur kalian tidak akan percaya? Percuma saja aq jelaskan" Ucap Arvi dengan lirih. Arvi sepertinya putus asa tidak ingin berdebat dengan kedua saudara dan sang ayah.

__ADS_1


"Arvi dengarkan kami lihatlah keadaanmu sekarang tambah hari perutmu akan membesar hingga pada akhirnya anak itu akan lahir. Ini untuk kebaikanmu juga anak itu" Ucap Dinda mulai melunak.


"Dia butuh seorang ayah!" Timpal Ayu menyauti perkataan Dinda.


"Betul Arvi. Turunkan egomu anak itu jauh lebih penting"Seru Kakak ipar menasehatinya.


"Demi anak ini atau kalian malu dengan keadaanku. Perlu kalian tahu kami menikah secara Syah baik negara maupun agama. Dia tidak seperti apa yang kalian pikirkan. Andai dilahirkan kembali aq ingin menjadi istrinya" Tutur Arvi berjala meninggalksn mereka.


"Arvi tunggu!! Arvi kita belum selesai" Pinta Ayu melarangnya pergi.


"Aq lelah kak aq mau stirahat saja!" Sahutnya menarik nafas dalam. Melawan kehendak mereka sama saja cari mati. Ia hanya mengelus perutnya yang mulai membesar. "Sabar-sabar dan sabar" Batinnya berkata.


"Lihatlah kelakuan putri kesayanganmu ayah belum selesai sudah lari duluan. Dia yang punya masalah kita dibikin pusing" Keluh ayu menggerutu pada ayahnya.


"Kamu tidak dengar tadi bicara apa?" Ucap suaminya agar istrinya berhenti mengomel.


"Iya ya saya dengar telingaku masih normal" Sahutnya balik jengkel dengan ucapan suaminya.


Pak Hartomo hanya bisa diam berpikir. Jangan sampai anak bungsunya itu minggat akibat terlalu ia tekan. Ia tahu jika anak bungsunya memiliki karakter keras.

__ADS_1


Arvi berjalan menuju kamar. Ia hanya mampu lampiaskan kekesalannya dengan menangis. Andai mama masih hidup mungkin ada tempat untuknya mengadu berkeluh resah. Mengingat sang mama menambah rasa penyesalan yang tiada hentinya. "Inikah jalan hidupku" Bisiknya dalam hati. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya tapi percuma saja tidak akan ada yang dengar.


Terlalu banyak menangis Arvi meringis kesakitan perutnya terasa sakit. Ia hanya menarik nafas dalam menahan sakit


__ADS_2