
" Hallo selamat sore bisa pesan bubur ayam untuk kamar 205 atas nama Prananda Sakti Prasetyo" Suara Sakti memesan bubur ayam untuk istrinya. Setelah itu Sakti fokus mengurus Arvi.
Arvi bangkit turun dari kasur, tapi tangan Sakti menariknya.
"Mau kemana?" Tanya Sakti penuh curiga.
"Aq ingin ke kamar mandi" Jawab Arvi mencoba melepaskan.
"Aq antar!" Ucapnya mengikuti. Sebab dari tadi Arvi terlihat tertunduk tanpa menatapnya. Padahal ia rindu sorot matanya yang terlihat teduh.
"Mas aq hanya ke kamar mandi mau pipis" Jelasnya agar Sakti tidak mengikutinya. Ia sadar Sakti sangat merindukannya.
"Aq takut kamu pingsan lagi"Sela Sakti tidak mau dengar alasan Arvi barusan.
"Mas aq bisa sendiri!" Sergah Arvi menolak keinginan Sakti yang ingin mengikutinya. Bagaimana juga statusnya sekarang dia adalah istri dokter Richat.
"Baiklah" Ucap Sakti melemah. Ia kecewa Arvi mengacuhkannya. Padahal rindunya sudah di ubun-ubun. Arvi berjalan dengan perasaan yang sedikit cemas. Pikirannya kemana-mana.
"Apa kamu berniat untuk kabur dariku?" Suara Sakti melanjutkan.
"Kabur?? Bukannya mas yang kabur dariku?" Sindir Arvi
"Apa maksudmu??" Tanya Sakti penuh slidik.
"Aq tidak ingin berdebat denganmu mas! Aq gerah ingin mandi" Serunya berjalan meninggalkan Sakti yang mematung.
__ADS_1
"Jangan menghindariku Arvi!!" Teriaknya bernada tinggi hingga menghentikan langkah Arvi yang ingin ke kamar mandi. Sakti tahu jika Arvi hanya mencari alibi untuk menghindarinya dengan pergi ke kamar mandi.
"Aq tidak pernah menghindarimu mas kamulah yang menghindariku" Tutur Arvi membalikkan kata. Arvi memberanikan diri untuk menatap mata sayu yang tujuh tahun lamanya tidak dilihatnya. Padahal ia gugup menahan rindu. Rindu akan segala hal yang ada di diri Sakti. Tapi Arvi mencoba untuk menepisnya. Ia tak ingin terlihat Dimata Sakti.
"Apa lagi yang mau di bahas? hah! tidak ada. Rasanya sudah cukup sampai disini tidak usah diperpanjang" Gerutu Arvi mulai emosi yang tidak terkontrol. Ia takut tidak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Sakti.
"Arvi!! Kamu lupa aq ini suamimu" Pekik Sakti mengingatkannya.
"Iya itu tujuh tahun yang lalu" Sahut Arvi melemah dengan butiran air mata yang mulai menetes. Entah mengapa air mata itu tidak bisa ia bendung lagi. Hatinya mulai terkikis dengan kehadirannya.
"Katakan siapa yang meracuni pikiranmu? Jawab" Hardik Sakti menatap tajam padanya.
"Bukan urusanmu!" Ucap Arvi mencoba menghindar dari Sakti. Mendengar kata-kata Arvi barusan Sakti seakan tersulut. Ia tak ingin membuang-buang waktu lagi.
Tanpa Arvi duga Sakti lalu mencium habis bibir cantiknya. Mendapat serangan yang mendadak dari Sakti membuat Arvi kesulitan untuk menghindar. Keduanya saling berciuman dengan ganasnya.
Tangan Sakti telah bergerilya segala penjuru tubuh Arvi. Bahkan ia lupa jika Arvi tadi sempat pingsan. Arvi pun tidak menolak atau menghindarinya. Dari sorot mata Arvi begitu mendamba sentuhan Sakti. Ia menikmati segala sentuhan yang Sakti berikan. Karena ia sendiri juga rindu akan segala sentuhan dari Sakti. Rasa amarah yang memuncak, gengsi dan jengkel melebur jadi satu hangatnya dekapan diantara keduanya. Bagai panas tanpa hujan begitulah diibaratkan suasana hati mereka.
Tidak terasa keduanya telah polos tanpa sehelai benang melekat ditubuhnya. Pakean sudah tak tahu dimana mereka buang secara asal. Keduanya bergulat dalam lengkuhan yang membara. Padahal AC di kamar dingin sekali tapi suasana ruangan terasa panas oleh keduanya.
Arvi begitu menikmati permainan ranjang Sakti yang selalu ia rindukan. Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersama. Sakti mencium bibir Arvi dengan lembut. Arvi tersenyum malu.
"Ia masih seperti yang dulu" Batin Sakti yang melihat Arvi tersenyum menutupi rasa malunya. Ingin ia bertanya lebih dalam tapi waktu yang tidak memberi kesempatan.
Sakti terbaring disebelahnya nafasnya masih naik turun akibat pergulatan panas tadi. Tangan kekarnya masih menggenggam erat Arvi. Seakan ia tak rela Arvi menjauh darinya. Sakti tak ingin mereka berpisah lagi. Tujuh tahun lamanya mereka terpisah menahan rindu. Tak lupa Sakti menutup tubuh Arvi dengan selimut tebal. Arvi terlihat malu disampingnya.
__ADS_1
Arvi mencoba mencari lengahnya Sakti untuk pergi ke kamar mandi. Sebab Sakti masih belum melepas genggaman tangannya.
"Boleh aq ke kamar mandi" Pinta Arvi dengan lembut seraya memohon agar tangannya dilepas.
Sakti mengerutkan keningnya. Sifat jahilnya muncul ingin mengerjai Arvi yang menahan malu dari tadi. Begitu Sakti lengah Arvi langsung ngacir ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Sakti tertawa geli melihatnya. Tanpa diperintah Sakti memunguti pakean mereka yang berserakan di lantai akibat adegan panas mereka.
Arvi lumayan lama di kamar mandi mungkin ada sekitar tiga puluh menit. Terdengar suara gemericik air dari shower kamar mandi.
"Apa dia sengaja berlama-lama di kamar mandi untuk menghindariku? Ekspresinya datar?? Apakah dia telah menikah dengan orang lain? Lalu dimana anakku? Apa dia menggugurkan buah cinta kami? Dia pun pergi tanpa meninggalkan pesan. Oh Tuhan aq bisa gila kalau begini!" Pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk memenuhi otaknya. Belum ada penjelasan tapi pertanyaan itu memenuhi kepalanya. Setidaknya pergulatan mereka diranjang menjawab keraguannya selama ini. Arvi masih mencintainya.
"Tok...Tok....Tok!" Suara ketukan pintu dari luar. Bergegas Sakti memakai celana dan dengan baju yang belum terkancing dengan baik.
"Ya silahkan masuk!" Jawabnya membukakan pintu.
Terlihat seorang petugas hotel masuk membawa pesanan yang tadi ia pesan. Petugas tersebut meletakkan diatas meja dan memberikan sepucuk kertas tagihan pada Sakti. Bergegas Sakti membayarnya dan tak lupa Sakti memberinya uang lebih.
"Terima kasih Pak!" Suara petugas hotel yang berlalu dari kamar. Begitu petugas pergi Sakti memanggil Arvi yang masih sembunyi di kamar mandi
"Arvi kamu tidak apa-apa?" Teriaknya ingin mengecek kondisi Arvi yang sedari tadi tidak kunjung keluar.
"Jika kamu tidak keluar juga aq nyusul masuk loh!!" Ucap Sakti setengah mengancamnya.
Arvi yang mendengar dari balik kamar mandi hanya tersenyum geli mengingat kejadian tadi.
"Ceklek!"
__ADS_1
Arvi keluar dengan memakai handuk yang terlilit diatas dada menambah kesan sexy dan menggoda. Sebab tubuhnya begitu putih dan mulus. Aura cantiknya semakin terlihat dan mempesona. Melihat pemandangan yang sudah lama ia tidak nikmati. Sakti semakin ingin lagi dan lagi. Macam iklan saja. Tatapan Sakti yang begitu ingin cepat-cepat ditepis oleh Arvi.