AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Rindu Suasana Rumah


__ADS_3

Taksi online mengantar Arvi menuju rumah kediaman Keluarga Pak Hartono. Rumah yang sedari kecil ia tempati. Rumah yang penuh kenangan. Ada yang lebih ia rindukan tentunya kedua orang tuanya.


Terutama sang ibunda tercinta sudah beberapa hari ia tidak memberi kabar pikirnya ia ingin memberi kejutan pada sang bunda. Dua tahun lebih ia merantau meninggalkan kota kelahirannya.


Arvi membiarkan dokter ganteng itu terus mengikutinya. Biar diusir gak tahu kenapa dia mengekor terus di Arvi.


"Dia itu pinter kenapa jadi bodoh begini? Percuma sekolah jadi dokter? Mungkin aq yang tidak tahu diri dia begitu baik dan penuh perhatian. Tidak tahu kesambet dari mana tiba-tiba ingin menggantikan mas Sakti?" Batinnya menggerutu sendiri.


"Aq saja dalam posisi dilema bagaimana caraku menjelaskan kepada orang tuaku soal pernikahanku! Sementara Mas Sakti pergi tanpa pesan. Aq ingat betul kejadian malam itu jika mereka telah membunuh Mas Sakti. Oh Tuhan kenapa jadi begini?? Dengan entengnya dokter ini mau menggantikan Sakti. Sungguh aq tidak mengerti? " Lanjutnya membatin tanpa memperhatikan dokter.


Tidak dipungkiri sebagai anak ia menyadari akan segala kesalahan dan kekilafannya. Ia ingin meminta maaf pada orang tuanya. Perasaan takut pun menggelayutinya. Tapi rasa rindu pada orang tuanya tidak terbendung lagi.


Rumah berlantai dua dengan dinding berwarna abu-abu. "Tidak banyak yang berubah semua tampak seperti biasa sebelum dia merantau"Batinnya.


"Woow!! Rupanya Nyonya Sakti berasal dari orang berada toh! Koq bisa terdampar di Papua?" Ledek dokter agak terkejut dengan kenyataan bahwa wanita yang ia ikuti dari kemarin berasal dari keluarga mapan bukan orang miskin. Batinnya bertanya" Kenapa ia mau hidup ngekos di Papua? Ini orang sakit jiwa apa?"


"Bisa tidak diam dulu!"Sahut Arvi setengah melotot.


"Bisa tidak kamu berkata jujur tentang siapa kamu yang sebenarnya?? Sakti cerita sedikit tentang kamu tapi faktanya berbeda!" protes dokter.


"Bisa gak tidak campuri urusanku?" Sela Arvi mau turun dari mobil.


"Okey aq tidak ikut-ikutan!"

__ADS_1


"Oh ya dokter! Saya harap pertemuan kita cukup sampai disini saya tidak mau menimbulkan fitnah diantara kita. Sekali lagi terima kasih! Pak Sopir minta tolong antar Pak dokter ini ke hotel atau kemanakah yang penting menjauh dari sini. Nah ini saya bayar lebih untuk biayanya" Uca Arvi memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Ok siap Bu" Sahut Sopir


"Bisanya kamu begitu Arvi? Bukannya mempersilahkan aq masuk ke rumah" Sela dokter memprotes.


"Terima kasih maaf atas sikapku yang kurang berkenan di hatimu" Jelas Arvi bergegas turun dan dokter melengos kecewa atas sikap Arvi tadi. Tanpa mempedulikan dokter yang merutuknya Arvi berjalan menuju rumah mewah kediaman orang tuanya. Terlihat satpam segera menyambut kehadiran Arvi anak majikannya yang sudah dua tahun lebih tidak pulang-pulang. "Tumben anak majikanku ini kucel muka pucat dengan badan kurus kayak gak keurus. Jangan-jangan dia sakit?"


Mau tidak mau dokter Richat pun menyuruh sang sopir mengantarkannya di salah satu hotel. Tak lupa ia meminta keterangan pada sopir soal alamat rumah tersebut. Sebab dia orang baru tidak tahu jalan. Ia menyadari jika ini kota metropolitan bukan seperti di daerah tempat asalnya jalan hanya satu gampang kalau mencari alamat.


Arvi dengan penuh percaya diri melangkah memasuki halaman rumahnya yang begitu luas. Tidak terlihat mobil sang ayah. Pikirnya ayahnya ada keluar. Arvi melipatkan tangan memperhatikan sekeliling halaman tidak ada yang berubah sedikit pun. Halaman terlihat asri oleh koleksi bunga kesayangan sang mama.


Bergegas ia masuk ke dalam rumah. Ia tak sabar ingin memeluk ibunya. Suasana tampak sepi. Untungnya ia sudah meminum obat untuk mengurangi frekuensi muntahnya yang berlebih. Yah usia kandungannya baru mau jalan tiga bulan perutnya masih terlihat rata.


Rumah tampak sepi macam tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Arvi memperhatikan sekeliling rumah. Bingkai foto keluarga mereka terpampang jelas di atas dinding. Arvi tersenyum merekah.


"Bibik!!" Pekik Arvi yang berlari ke arahnya. Ia memeluk erat tubuh orang yang sedari dulu bekerja dirumahnya.


"Non Arvi dari mana saja kenapa baru pulang? Gak tahukah kalau non Arvi selalu ditunggu-tunggu kepulangannya" Suara bibik memberondong pertanyaan sambil memecahkan tangis harunya. Wanita muda yang bikin sakit kepala kedua majikannya itu.


"Iya bik. Ini saya sudah datang" Sahut Arvi tersenyum memeluk asisten rumahnya.


"Jangan pergi-pergi lagi ya!!" Bisik sang bibik seraya takut ditinggal sang anak majikan.

__ADS_1


"Iya tapi gak janji!" Canda Arvi menggoda sang asisten yang mulai keriput disana sini.


"Non jangan gitu!"


"Iya deh!!


"Bik! Ibu mana ya koq gak kelihatan? Ibu dan ayah ada di luar kota ya?" Tanyanya sembari mengurai pelukannya dan matanya mencoba mencari-cari keberadaan kedua orang tuanya di rumah.


"Anu itu bapak ada pergi sedikit lagi pasti datang" Jelasnya sedikit terbata.


"Oh??" Sahut Arvi tanpa curiga sedikitpun mendengar penjelasannya.


"Saya siapkan kamar non dulu! Oh ya non kalau mau sarapan ada di meja makan. Bibik sudah bikin sarapan koq!" Tawar bibik penuh sopan.


"Iya bik saya juga sudah lapar kangen degan masakan bibik!" Jelasnya berjalan mendekati ruang makan. Sang bibik mengekor dibelakangnya.


"Non Arvi terlihat kurus dan pucat non ada sakit ya?" Tanya bibik melihat perubahan anak majikannya yang kucel kayak gak terurus. Terlihat bajunya sederhana.


Arvi tersenyum mendengar pertanyaan sang asisten yang memperhatikannya.


"Iya bik" Jawabnya singkat duduk di meja makan. Ketika bibik ingin melayaninya bergegas Arvi menolaknya.


"Jangan bik! Biar saya sendiri" Ucapnya menolak dilayani asisten rumah tangga yang sudah mengabdi puluhan tahun dirumah orang tuanya.

__ADS_1


"Baiklah. Bibik tinggal dulu kalau ada apa-apa panggil bibik" Sahutnya tersenyum ramah. Bergegas ia pergi menyiapkan kamar Arvi. Walau Arvi tidak tinggal dirumah tapi kamarnya selalu dibersihkan pesan majikannya "siapa tahu sewaktu-waktu Arvi pulang ke rumah"


Arvi pun menikmati sarapan pagi yang sudah tersaji di meja. Masakan bibik masih sama persis seperti biasanya. Tetap enak dan nikmat di lidah tapi baginya lebih nikmat lagi masakan sang mama yang dibuat penuh rasa cinta dan kasih sayang. Masakan yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi. Sebab sang mama sudah menghadap Sang Ilahi.


__ADS_2