
Esok hari.
Rasanya ia tak ingin beranjak dari tempatnya berbaring. Sejak ia menikah ia hanya tidur di sofa. Sekujur tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal setiap hari. Rasa sakit itu terpaksa ia tahan. Bukan ia gengsi atau jijik pada istrinya yang berbadan dua. Tapi semua itu karena kesepakatan itu. Sebagai lelaki sejati pantang untuk mengingkarinya. Ia harus sadar diri dengan kesepakatan itu. Walau profesinya seorang dokter tapi ia tetaplah lelaki dewasa pada umumnya yang membutuhkan kasih sayang seorang istri. Itu yang belum ia dapatkan dari Arvi. Memang Arvi melayaninya segala hal tapi tidak urusan ranjang. Wanita itu seakan mati rasa. Bayang-bayang Sakti tidak bisa ia lepas. Ia begitu mencintai Sakti.
Kini Wanita yang ia nikahi empat bulan lalu masih tertidur pulas disampingnya. Ia hanya menatapnya tanpa berani menjamahnya. "Walau sedang hamil gini tetap cantik!" Pujinya menatap lekat wajah Arvi. Ia tak menyangka Arvi sedikit melunak tidak memegang teguh kesepakatan itu. "Apa karena sedang sakit?" Tanyanya dalam hati. Ia memperbolehkannya tidur seranjang.
Dokter Richat enggan beranjak dari ranjang. Ia ingin memuaskan diri menatap wanita yang ada disampingnya. Ia senyum-senyum sendiri menyadari kebodohannya selama ini. "Kenapa tidak dari dulu kita ketemu? Kenapa kita dipertemukan dalam situasi yang rumit? Jika Sakti ada apakah ia akan kembali padanya?" Gumamnya lirih masih menatap lekat istrinya. Ada rasa kekawatiran jika Sakti muncul. Walau hanya menatapnya ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasa.
Melihat jam yang ada di ponsel dokter Richat bergegas bangun sebab pagi ini ada kuliah.
"Mas udah mau berangkat?" Tanya Arvi mengagetkannya.
"Mandi aja belum?" Sahutnya
" Mas mandi sudah biar aq minta bibik siapkan mas sarapan sebelum berangkat" Jelas Arvi beranjak dari tempat tidur. Tapi buru-buru dokter Richat mencegahnya. Ia menarik lengannya agar sang istri tetap berbaring saja.
"Kenapa?" Tanya Arvi heran.
"Aq ingin kamu istirahat aja" Serunya menatap lekat istrinya.
"Mas aq bosan baring! Aq sehat koq" Jelasnya tidak mau diremehkan.
"Iya Aq tahu, tapi kamu tidak boleh capek" Jelas dokter Richat masih intens menatapnya.
"Kamu memiliki sifat yang sama dengan Sakti. Andai Sakti masih hidup aq tak tahu siapa yang akan kupilih? Kalian begitu tulus" Ucap Arvi lurus tanpa filter. Ucapan itu justru menghujani hati Richat dipagi ini.
Dokter Richat tidak tahu mau jawab apa. Ia diam membisu. Pikirannya berkelana kemana-mana.
"Sakti tetap merajai hati dan pikirannya. Begitu hebatnya Sakti pesonamu hingga tiada sisa sedikitpun ruang dihatinya untukku? Mungkin aq yang berharap lebih dengan menikahinya maka aq bisa memiliki hati dan pikirannya tapi rupanya aq salah? Aq yang mempersulit diriku sendiri"Batin dokter Richat yang tak mampu ia utarakan pada Arvi.
__ADS_1
"Aq mandi dulu. istirahatlah jangan banyak pikiran" Ucap dokter Richat bangkit dengan rasa kecewa. Mendadak mendung hitam menyelimuti perasaannya. Menyadari hal itu Arvi pun hanya diam.
"Bodohnya aq bicara seperti itu?Pasti dia marah padaku. Tak seharusnya aq menyamakan diantara keduanya. Bagaimanapun mereka bersahabat dari dulu jadi wajar jika mereka begitu dekat" Ucapnya dalam hati.
Selesai mandi Arvi menyiapkan pakean serta keperluan suaminya sebelum berangkat ke kampus. Itulah rutinitas yang ia lakukan setiap hari. Sebenarnya ia ingin ikut Pak Hartono bantu usaha keluarga mereka tapi beliau menolaknya. Ia ingin Arvi lebih fokus ke kandungannya. Walau Pak Hartono tidak mengenal sosok Sakti suami pertama Arvi tapi ia sangat sayang pada calon bayi itu. Ia tak ingin jauh dari sang anak lagi.
Begitulah rutinitas Arvi hari-hari. Waktunya ia habiskan dengan dirumah. Terkadang ia membantu pekerjaan bibik di dapur yang tiada hentinya. Tapi asistennya itu terus menolak dan melarangnya. Ia tahu betul rasanya dalam keadaan hamil. Mudah sekali lelah apalagi di masa trimester ketiga.
Sore itu Richat pulang tempo sebab ia ingin menemani istrinya. Hampir Senin sampai Sabtu ia pergunakan waktunya di kampus. Tak jarang ia pulang malam. Ia begitu fokus dengan tugas belajarnya. Arvi juga tidak pernah menuntut ia sadar sepenuhnya jika pernikahan mereka hanya sebatas formalitas.
Rupanya tak sesuai harapan dokter Richat sore itu hujan begitu lebat. Impiannya membawa Arvi jalan-jalan disekitar rumah gatot alias gagal total. Halaman rumah Pak Hartono sangat luas tidak perlu jauh untuk sekedar jalan santai.
Hujan begitu lebat ia putuskan untuk menghubungi Arvi. Sebab ia masih di kampus.
"Dreet dreet dreet" Terdengar getaran ponsel Arvi ada panggilan masuk dari dokter Richat tapi Arvi ada sibuk tidak memperhatikannya.
Dari sebarang dokter Richat begitu berharap agar Arvi mau menganggkat ponselnya. Rupanya tidak ada respon. Ia terlihat gusar.
"Mana hujan lebat begini!" Gumamnya sendiri.
Tidak berapa lama pinselnya berdering. Arvi menghubunginya.
"Hallo!" Sapanya tak sabaran ingin mendengar suara khas sang istri.
"Assalamualaikum ?"
"Sorry sampai lupa. Waalaikum Salam. Tadi sibuk?" Ucap dokter dengan nada gugup entahlah kenapa ia selalu gugup jika menelpon istrinya.
"Tidak juga. Sama seperti kemarin" Jawabnya penuh sopan tidak pake gas.
__ADS_1
"Oh"
"Mas pulang malam lagi? Ehhmm... ya gak apa" Seru Arvi
"Buk..Bukan!"
"Lalu??"
"Aq ingin pulang tempo tapi hujan lebat aq berteduh di kampus"
"Tidak apa mas. Tunggu!!! Tumben mas cerita ?"Sahutnya sedikit curiga padanya.
"Aq takut kamu menungguku!! Oh ya kamu mau menitip apa nanti mas belikan?"
"Tidak mas tadi aq dibantu bibik bikin kue sus. Mas cukup pulang kalau tidak ada kegiatan"
"Kelihatannya lezat. Baiklah kalau kamu tidak ingin pesan apa-apa"
"Dijamin lezat pastinya sebab ini resep mama"
"Mantap kalau gitu"
"Aq tutup ya mas?" Pinta Arvi
"Baiklah. Sampai ketemu dirumah"
Akhirnya pembicaraan keduanya pun terhenti. Tanpa pikir lagi dokter Richat berlari ke menuju tempat parkir. Walau hujan lebat ia tidak hiraukan. Ia ingin pulang bertemu istrinya. Apalagi istrinya selesai bikin kue sus pasti enak diminum dengan teh hangat tentunya. Rasanya ia tak sabar ingin menikmati kelezatannya.
Dengan berbasah ria ia masuk ke dalam mobil. Mobil yang ia kendarai adalah milik Arvi semula ia menolaknya tapi atas izin dan permintaan Arvi ia bersedia membawanya. Ia bukanlah tipe lelaki yang memanfaatkan keadaan. Tetapi semua itu atas permintaan Arvi.
__ADS_1