
Sepulang dari tempatnya bertemu Hanna. Pikal balik ke rumahnya. Ketika ia melangkahkan kakinya ke rumah. Terlihat kedua anaknya jagoan berlari menghambur memeluknya dengan erat.
"Daddy sudah pulang!" Sambut si tua
"Deddy tumben pulang tempo? Main yuk!" Tanya si bungsu yang excited dengan kehadiran Daddy yang baru datang.
"Iya sayang" Jawab Pikal mencium sayang kedua jagoannya yang tampan sepertinya.
"Deddy ayok main bola di halaman belakang!" Ajak si sulung menarik tangan Deddynya. Dari arah ruang tengah sang istri berjalan menghampiri ketiganya. Sang istri meraih tangan Pikal untuk menciumnya.
"Mau makan kak biar aq siapkan!" Sambutnya menawari suaminya makan siang.
"Masih kenyang. Aq temani mereka main dulu!" Jawab Pikal. Bukan ia menolak ajakan istrinya makan siang tapi ia ingin menemani kedua anaknya bermain bola.
"Mami nanti dulu kita main bola!" Seru si bungsu yang bergelayut dalam dekapan ayahnya. Mereka tampak harmonis terlihat dari luar.
"Baiklah kalau gitu mami siapkan kalian untuk makan siang. Main sudah mumpung Daddy kalian ada waktu" Jelas maminya setengah menyindir. Pikal melirik istrinya bergegas pergi dari pandangannya.
Antara Pikal dan sang istri menikah karena dijodohkan. Istrinya tidak kalah cantik dengan Bu Hanna. Entah mengapa Pikal begitu tergila-gila dengan Bu Hanna. Umur keduanya juga tidak jauh berbeda.
Setelah menemani kedua anaknya bermain Pikal bergegas menuju meja makan. Terlihat istrinya telah menyiapkan makan siang buat mereka.
"Masak apa ma?" Tanya Pikal ingin tahu hari ini istrinya masak apa?.
"Cuma masak ikan kuah, ikan goreng, tumis kangkung dan sambal mata. Saya tidak tahu kalau kakak akan makan dirumah" Jawab istrinya dengan sopan.
"Ini lebih dari cukup. Sepertinya enak" Seru Pikal menarik kursi untuk duduk. Segera ia menyendok nasi dan mengambil lauk yang sudah tersaji di meja makan.
Istrinya hanya memperhatikan secara seksama sikap suaminya yang tidak biasanya makan siang dirumah. Tapi dia hanyalah seorang ibu rumah tangga. Entah kenapa hari ini ia tidak masuk kantor.
"Tumben sekali ia makan dirumah?" Tanyanya dalam hati.
"Apa ada masalah dengan wanita itu?" Bisiknya dalam hati meihat perubahan sikap suaminya. Sebab Pikal jarang sekali makan dirumah. Hubungan keduanya tidak seperti suami istri pada umumnya.
__ADS_1
Melihat sikap istrinya yang diam termenung. Buru-buru Pikal menegurnya.
"Yenny!! Kamu kenapa?" Tegurnya sopan. Pikal memang tidak pernah berkata kasar atau marah terhadap Yenny.
"Tidak apa-apa kak! Kakak mau telur dadar? Saya bikinkan dulu ya!" Jawab Yenny tergagap lalu menawarinya telur dadar siapa tahu lauk yang ada di meja tidak membuat suaminya tergiur. Buru-buru Pikal menarik tangan istrinya untuk tetap duduk menemaninya makan.
"Duduklah pasti kamu capek. Sudah cukup lauk yang kamu siapkan dimeja. Sekarang aq ingin kamu menemaniku makan. Mari kita makan dengan anak-anak kita!" Jelas Pikal dengan lembut.
"Ada setan apa yang membuatmu berubah seperti ini?" Bisik Yenny bertanya dalam dirinya. Rupanya sikap Yenny diperhatikan sang suami.
"Apa kamu sakit?" Tanya Pikal tiba-tiba perhatian hingga membuatnya terbatuk-batuk. Segera Pikal memberikannya segelas air minum.
"Aq tidak apa-apa kak!" Jawabnya masih batuk.
"Besok kita ke dokter ya!" Ajak Pikal memang selama ini ia kurang perhatian pada istrinya.
"Ayah aq ikut ya temani mami" Ucap anak sulungnya pingin ikut.
"Aq tidak sakit koq kak!" Jelas Yenny tersenyum menolak ajakan suaminya.
"Aq takut kamu kenapa-kenapa"Jelas Pikal penuh perhatian. Wajar jika istrinya curiga sebab Pikal selama ini cuek dan malas tahu dengan Yenny paling hanya bertanya kabar soal anak. Jika tiba-tiba Pikal menaruh perhatian padanya tentu Yenny heran.
"Seharusnya dari dulu bukan sekarang ini" Pekiknya dalam hati, tapi kata itu tidak mampu untuk ia utarakan. Cukup dalam hati saja.
"Makanlah dulu kak! Pasti kakak lapar" Tawar Yenny tersenyum melayani suaminya makan.
Walau kedua anaknya makan sedikit gaduh tapi suasana rumah terasa hidup. Ia rindu akan suasana rumahnya yang seperti ini. Suara canda tawa kedua anaknya yang selalu dirindukan. Sebagai istri Yenny memang pendiam. Pikal pun memiliki karakter pendiam. Keduanya sulit berkomunikasi
Selesai makan siang Yenny membersihkan peralatan makan yang kotor. Terlihat janggal sebab seorang Pikal pengusaha kontraktor itu dengan santainya mengajak kedua anaknya tidur siang bersama. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.
Yenny mengerjakan sisa pekerjaa rumah yang belum terselesaikan sedari pagi. Ada asisten tapi Yenny tak ingin terlalu membebani asisten.
"Kesambet apa suamiku hingga sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat" Pertanyaan itu tak henti-hentinya memutari isi kepalanya.
__ADS_1
Asisten rumah tangganya juga terheran-heran dengan polah majikannya yang perhatian pada anak dan istrinya. Sebab majikannya selama ini terkesan tidak peduli.
Hai kawanku tentu kalian rindu kabar tentang keberadaan Santi. Kabar kepergian Arvi begitu membuat Santi bingung. Nomor kontaknya tidak dapat ia lacak. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel ibunya tapi tidak aktif.
Siang itu saking penasarannya ia mencoba ke kantor tempat Arvi bekerja. Sopir Pak Ketua Mas Suryo mempersilahkan masuk.
"Makasih Mas mau bantu saya" Ucap Santi ramah.
"Tidak apa-apa mbak. Kebetulan bapak ada di kantor" Jelas Mas Suryo.
"Permisi Bapak ini ada teman Arvi mau bertemu Pak Ketua sebentar" Ucap Suryo meminta ijin pada atasannya.
"Oh ya suruh masuk saja" Jawab Pak Ketua dengan ramah menyuruh agar tamunya segera masuk.
"Bapak selamat siang! " Sapa Santi memberi salam pada Pak Ketua.
"Siang juga anak! Mari silahkan duduk. Anak ada yang bisa bapak bantu?" Jelas Pak Ketua mempersilahkannya duduk.
"Begini bapak sebelumnya saya minta maaf jika salah. Saya tidak tahu harus tanya pada siapa?" ucap Santi dengan sopan.
"Tanya soal apa?"
"Ini soal Arvi bapak! Siapa tahu dia pamit dengan Pak Ketua sebelum pergi atau tinggalkan nomor ponsel. Saya hubungi tidak aktif bapak" Jelas Santi.
"Dia juga tidak kasih pesan atau kabar ke bapak. Apakah dia sudah balik atau kemanakah?"
"Yang aneh Sakti setelah kegiatan dari Kantor hilang tanpa jejak. Saya tahu Sakti tidak seperti itu anak!" jelas Pak Ketua penuh curiga akan sesuatu hal.
"Maksud bapak apa?" Tanya Santi masih belum mengerti.
"Mungkin hanya pemikiran bapak saja. Sebab isu sabotase yang berkembang di kantor ini. Siapa yang tega melakukannya. Jujur saja kami kehilangan tenaga terbaik kami Sakti" Ucap Pak Ketua panjang lebar.
Santi tercengang dengan cerita beliau barusan. Akhirnya Santi memohon undur diri. Tubuhnya loyo gak ada daya. ia berharap dengan ketemu Pak Ketua dapat memperoleh info tentang teman kostnya. Jika mencari ke Semarang rasanya tidak mungkin butuh biaya besar dan ia tak tahu alamat rumahnyaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1